Haruskah Suci Agar Pergi Umrah / Haji?

  • 0

Haruskah Suci Agar Pergi Umrah / Haji?

Category : Uncategorized

Tulisan ini berisi pengalaman pribadi menjalani rangkaian ibadah Umrah, mulai dari pengambilan keputusan ingin ke tanah suci saat nafsu duniawi sedang memuncak, pengalaman ketika proses ibadah di Mekkah dan Medinah, hingga harapan dan perasaan setelah kembali ke tanah air

Sepertinya masih ada yang berfikir bahwa hanya seseorang yang telah ‘suci’ seperti shalatnya lengkap, puasanya taat, dan sedekah hebat yang dapat atau layak menunaikan ibadah Umrah atau Haji. Bagi mereka yang tidak sesuai dengan kriteria di atas, tidak layak mendatangi baitullah. Memang tidak semua orang, tetapi sepertinya ada orang-orang yang dahulu beranggapan seperti ini, termasuk saya. Apabila semua orang berfikir bahwa Umrah atau Haji hanya untuk orang-orang yang suci itu, maka sudah barang pasti tidak akan ada orang yang mau berangkat Umrah atau Haji, karena sungguh manusia tidak ada yang benar-benar suci, yang ada hanyalah beruntung karena aibnya masih ditutupi oleh Allah SWT. Menurut saya, sejatinya orang yang pergi ke tanah suci justru adalah mereka yang sadar bahwa dirinya bergelimang dosa, penuh kemaksiatan, dzalim, merasa hina, tetapi ingin bertaubat dan membersihkan diri. Hal ini diperkuat oleh Hadist[1] yang mengatakan bahwa Umrah atau Haji dapat menghapus dosa, artinya orang yang berangkat itu tidak luput dari dosa. Pun dengan rangkaian Umrah atau Haji, menurut saya penuh dengan hal-hal yang bertujuan untuk membuat sadar betapa kecilnya kita, bahwa kita bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tidak ada yang dapat menolong kita selain amal ibadah nantinya.

Keberangkatan ibadah saya kali ini sangat bermakna. Terjadi dari suatu proses panjang dan pertarungan melawan nafsu dunia serta rasa minder, merasa sebagai orang yang hina dan tidak layak ke tanah suci, tanah haram, tanah yang penuh dengan jejak sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Maka dari itu saya ingin sekali berbagi kepada sesama, melalui cerita bagaimana diri yang hina ini berusaha, berupaya mendekatkan diri kepada Nya. selamat membaca :”)

_______

Keinginan Umrah; Tantangan Nafsu dan Keserakahan Dunia
Saya sadar selama ini telah diberikan nikmat dan rezeki yang banyak oleh Allah SWT berupa uang, waktu yang lapang, kesehatan, kesempatan, keluarga dan teman-teman yang baik. Meskipun sudah tercetuskan sejak 2015 ketika membuat paspor pertama kali[2],  selama periode tahun 2016 hingga 2018 saya terus sibuk mengembangkan usaha, memutar modal, serta membeli barang-barang berharga, tetapi sulit untuk menyisihkan uang untuk ke sana. Niat itu baru kuat ketika salah seorang teman menampar saya melalui obrolan singkat kami ketika saya bercerita bahwa telah berhasil mengunjungi delapan negara di luar Indonesia.

 “Kapan Umrah Nul?” komentarnya. “Nanti lah bareng istri” jawab saya

“Meninggal enggak nunggu punya istri dulu Nul” balasnya lagi yang membuat saya terdiam beberapa detik sebelum kembali ngeles “belum ada panggilan gw”[3], yang dibalasnya dengan kecepatan cahaya “Yakin belum dipanggil? lu aja budek kali”. Sambil tertawa bareng, saya kemudian menyerah debat dan mengatakan “doain aja ya, Insha Allah”.

Meski bercanda, tetapi ujarannya cukup menancap  dan membekas di dada saya, sehingga muncul lah niat kuat untuk umrah. Walau demikian, tetap saja berbagai godaan datang silih berganti. Ketika uang tabungan sudah cukup, saya pergunakan untuk daftar dan membayar biaya kuliah S2, lalu membeli ponsel dan motor yang diidamkan sejak lama, menambah modal usaha, kemudian pergi ke Korea tiba-tiba untuk mencari mitra di sana yang akhirnya menggerus tabungan itu lagi. Nafsu ketika sudah tercapai, selesai sudah. Tidak membekas apa-apa alias biasa saja. Kuliah saya terhenti di tengah jalan[4] , misi mencari mitra di Korea gagal terlaksana dan justru bertemu di Indonesia, dan banyak persoalan lain yang intinya jika niat tidak kuat, akan ada-ada saja pengeluaran yang menghambat. Saya merasa tidak pernah puas. Ingin lagi, lagi, dan lebih lagi. Nafsu manusia memang jika tidak dapat dikendalikan akan seperti karung kosong, diisi pasir namun tidak akan pernah penuh dan puas. Diberi satu gunung akan minta dua gunung, diberi dua akan minta empat, begitu seterusnya.

Kembali pada topik semula, saya amat beryukur karena masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT bahwa saya menyadari banyak hal yang saya lakukan itu salah, tidak baik, dan merupakan perbuatan dosa. Keberangkatan saya ibadah kali ini bukan karena islam saya yang meningkat, tetapi karena nikmat dari Allah berupa kesadaran saya yang masih terpelihara, melalui keluarga dan teman-teman yang gemar saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Maka dari itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang amat baik dalam hidup saya. Semoga amal ibadahnya dibalas oleh Allah SWT. Ramadhan 1440 Hijriah atau tahun 2019 ini, saya mencoba memantapkan diri untuk menunjungi tanah suci. Bismillah, kumpulkan uang lagi, daftar, dan Insha Allah berangkat.

Godaan-godaan Sebelum Berangkat Hingga Pesawat Mendarat
Setelah menyetor uang untuk biaya Umrah, masih ada keraguan untuk berangkat, seperti apakah ibadah saya akan diterima oleh Allah SWT? Apakah uang itu tidak sebaiknya saya putarkan lagi untuk usaha terlebih dahulu? Bagaimana nasib pekerjaan yang saya tinggalkan di Indonesia? Hingga kekhawatiran tidak akan mendapatkan teman di perjalanan karena saya berangkat sendiri. Saya bahkan sempat menanyakan pada pihak Travel mekanisme pembatalan tour. Akan tetapi, setelah kembali menguatkan diri dan meluruskan niat, ditambah dengan nasihat orang tua agar memohon kepada Allah SWT agar urusan dunia tidak mengganggu ibadah, perjalanan saya menjadi tenang selama Umrah. 09 Oktober setelah pembekalan di Bandara, pesawat yang kami naiki akhirnya take off pukul 21.00 WIB dan menuju Turkey terlebih dahulu. Perjalanan sekitar 12 jam di udara tidak terasa karena berangkat malam, kemudian dilanjutkan menuju Madinah, sebuah kota yang berjarak sekitar 600 km dari Mekkah.

Ibadah yang Indah di Madinah
Madinah adalah daerah yang menjadi tujuan Hijrah Rasulullah bersama pengikutnya dari Mekkah. Penduduknya ramah dan agama Islam berkembang cukup pesat di sini. Rasulullah membangun Masjid pertama bernama Masjid Quba, yang menurut HR Tirmidzi, ibadah di sini pahalanya setara dengan Umrah. Rasulullah amat cinta dengan Madinah, sehingga mendoakan Madinah agar diberi kedamaian dua kali lebih besar dibanding Makkah. Rasulullah juga wafat di sini, yang makamnya saat ini terletak di dalam masjid Nabawi.

Rombongan kami tiba di Madinah sekitar pukul 04.30 pagi. Imigrasi sudah tampak ramai. Petugas yang terdiri dari lelaki dan perempuan bercadar sibuk melayani orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia, termasuk kami Indonesia. Sesekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia “apa kabar”? sini-sini, dan banyak kosakata lain sepertinya cukup mereka kuasai. Menurut saya, Indonesia memang menjadi salah satu pengunjung terbesar bagi Arab Saudi, khususnya Mekkah dan Madinah, sehingga Bahasa Indonesia menjadi tidak terlalu asing bagi mereka. Setelah melewati imigrasi, kami disambut oleh Mutowwif (pemandu/ guide), lalu mengambil bagasi dibantu handler bandara dan menuju Masjid di dekat Bandara untuk Shalat Subuh.

Kami melanjutkan perjalanan dengan Bis menuju Hotel. Sepanjang perjalanan tampak padang pasir di kanan-kiri, namun beberapa ditumbuhi tumbuh-tumbuhan dan rumput yang hijau. Sambil mengucap kalimat Talbiah “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak”, bis yang kami kendarai melaju dengan kencang.

Kami tiba di Hotel sekitar pukul tujuh, lalu dijadwalkan berkumpul di lobi pukul 10.30 untuk persiapan shalat Jumat di Masjid Nabawi. Akan tetapi saya izin untuk berangkat terlebih dahulu ke Masjid sekitar pukul delapan. Sayang sekali jika waktu di sana terbuang begitu saja di hotel. Maka saya fikir lebih baik perbanyak ibadah di Nabawi. Jarak hotel ke pintu 15 Masjid yang tidak terlalu jauh (hanya sekitar 60 meter), membuat saya bersemangat mengunjungi Masjid yang keutamaannya lebih baik 1.000 kali (kecuali Masjidil Haram) dari Masjid lainnya di bumi ini.Hati saya bergetar, “apakah ini mimpi? benarkah saya tiba di sini?” Serambi masjid yang megah dengan payung pelindung teriknya matahari terbuka gagah. sambil mengucap hamdalah, kaki saya terus melangkah menyusuri Masjid Nabawi yang luas, berusaha mencari di mana shaf pertama, berharap bisa mendengar Khutbah sambil bisa melihat Khatib. Sekitar tiga puluh menit mencari, saya tidak juga berhasil menemukan ujung shaf. Kemudian sambil browsing di Internet, saya melewati sebuah tempat yang sepertinya Mimbar Masjid, dengan orang-orang yang sudah memenuhi tempat itu. Masha Allah! ini Raudhah![5]  Bagaimana cara ke sana? Pertanyaan itu belum terjawab, saya sudah terkagum lagi ketika melihat antrian panjang orang-orang yang melewati sebuah area….makam Rasulullah! Allahu Akbar, ternyata saya tiba di dekat Makam kekasih Allah. Saya segera membaca shalawat, berdoa dan memuja- muji Rasulullah SAW. IDK, tapi secepat kilat bayangan perjuangan beliau mengangkat derajat manusia, menyebarkan agama Islam yang mulia melintas di fikiran saya. Betapa haru hingga saya harus mengelap air mata beberapa kali. Bagi sebagian orang, menangis di sini dianggap berlebihan dan dikhawatirkan sirik. Maka dianjurkan untuk mengucap salam, shalawat, dan berdoa sewajarnya saja. Akan tetapi jika menangis karena haru, bahagia, dan merasa berdosa atau bersalah kepada Allah, menurut saya bukan suatu hal yang salah. Apabila mengingat betapa hina nya kita di hadapan Allah, sepertinya hanya orang-orang yang ‘kuat’ yang dapat menyembunyikan tangisnya. Disebelahnya, terdapat makam sahabat Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khatab. Proses melewati makam ini hanya beberapa menit karena antrean yang panjang dan berdesak-desakan sehingga dibatasi oleh petugas.

Kurang puas, saya kemudian mengantre kembali melalui pintu masuk 1, kemudian berjalan hingga ke luar lagi selama tiga kali. Setelah itu saya mencari tempat duduk untuk bersiap-siap shalat Jumat. Ibadah di sini terasa khusu’, jauh dari fikiran duniawi. Muncul berbagai penyesalan atas dosa-dosa yang dilakukan. Diri seketika terasa hina dan berasa akan mati segera. Saya duduk di sebelah Raudhah karena tempat itu telah penuh. Adzan berkumandang dan saya dapat melihat Muadzin, Khatib, dan Imam secara langsung. Sayangnya, sekitar satu jam sebelum di mulai, saya ingin buang air kecil. Akan tetapi saya terpaksa nahan karena khawatir ketika ke luar, tempat yang saya tinggalkan sudah akan diisi orang lain. Akhirnya dengan mohon keridhaan Allah SWT, saya menahan rasa ingin buang air kecil selama hampir dua jam. Khutbah hanya berlangsung sekitar 15 menit, kemudian iqamat dan shalat Jumat dimulai.

Setelah selesai, saya berdoa sejenak, lalu lari mencari kamar kecil. Sendal tidak ketemu, akhirnya berlari tanpa alas kaki. Panas sekali! Seperti menginjak bara api! Benar-benar panas, ha ha ha. Apa ini adzab dari tuhan untuk saya? Ah intropeksi diri saja, fikir saya dalam hati. Setelah buang air kecil, barulah saya mencari sandal dan masih bertemu. Saya pulang ke hotel untuk makan siang, lalu bersiap-siap kembali ke Nabawi untuk shalat Ashar. Jadi #tips1 buat kamu yang dapat posisi shalat yang baik, buang air kecil dulu ya agar tidak ada yang mengganggu.

Hari itu waktu berlalu indah, mengharukan dan penuh kebahagiaan. Meski Malam dan Subuh, jamaah tidak pernah sepi, selalu seperti Hari Raya

 

Half Day Tour Medinah: Napak Tilas Sejarah Perjuangan Rasulullah

Keesokan harinya setelah sarapan, kami berkunjung ke Masjid Quba seperti yang tadi diceritakan untuk shalat dua rakaat tahiyatul Masjid dan Dhuha.  Setelah itu kami dibawa berbelanja ke pasar kurma, sebuah tempat yang menjual oleh-oleh  kurma di Medinah. Toko di sana menempatkan banyak karyawan orang Indonesia, agar komunikasi antar jemaah lebih lancar dan meningkatkan daya jual. 

Pembayaran bisa dengan SAR (Saudi Arabia Riyal) atau IDR (Indonesia Rupiah). Berbagai jenis kurma terdapat di sana, seperti Kurma Ajwa yang dibanderol dengan harga 100 SAR (sekitar 400.000 Rupiah) tiap 1 kg. Harganya tidak bisa ditawar, karena pedagang hanya karyawan yang bekerja untuk perusahaan.

Setelah puas berbelanja, kami di bawa mengunjungi Jabal Uhud, sebuah gunung yang kelak akan diangkat ke Surga, tempat yang menjadi saksi perjuangan perang Uhud antara Muslimin dan Kaum Quraish yang berakhir dengan kekalahan di pihak Islam akibat keteledoran pasukan meninggalkan posisinya sebelum diperintahkan Nabi. Di tempat ini syuhada sekitar 70 kaum muslim termasuk diantaranya paman Nabi Hamzah bin Abdul Muththalib.

Setelah tour ke tempat-tempat itu, kami kembali ke Hotel dan bersiap-siap untuk Shalat Dzuhur di Masjid Nabawi. Hari cukup panas, dahaga lepas setelah minum Zam-zam yang terdapat di area Masjid Nabawi.  

Ibadah selama tiga hari tidak terasa di sini. Ingin sekali rasanya berlama-lama shalat, memanjatkan doa, dan muhasabah diri di Medinah, kota Suci yang amat Indah, tenang, tentram dan damai. Satu dari dua kota yang tidak akan bisa dimasuki Dajjal kelak. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Mekkah ba’da Dzuhur, saya berdoa agar suatu waktu dapat diberi kesempatan untuk kembali ke Kota ini. Perjalanan selanjutnya adalah inti dari ibadah, yakni Mekkah. Kota yang memberi pengalaman tak terlupakan dalam perjalanan spiritual; Umrah.

 

Bersambung:

Mencari Hidayah di Makkah Al Mukarromah

 

_______

Pertanyaan Umum

Umrah atau Haji, sebaiknya mana yang lebih dahulu?

Jika ditanya mana yang lebih penting, tentu Haji adalah yang utama karena merupakan rukun islam ke lima (penyempurna). Akan tetapi melihat kondisi saat ini, di mana butuh waktu hingga 20 tahun setelah daftar baru bisa berangkat (daftar 2020 akan berangkat 2040), maka menurut saya sebaiknya umrah terlebih dahulu. Umrah merupakan Haji kecil, belajar dasar dari haji, dan mendapat ganjaran pahala/ ampunan yang tidak kalah daripada Haji.

Menurut saya, ketika Umrah, minta lah kemudahan kepada Allah agar kemudian diberikan kesempatan Haji. Apabila daftar haji terlebih dahulu, usia belum tentu sampai, akhirnya kunjungan ke tanah suci juga belum tentu segera terwujud. Alasan lain, bagi saya lebih baik putar kembali uang daftar haji untuk usaha daripada ‘menyetor’ uangnya puluhan tahun lebih awal. Keuntungan usaha itu kemudian gunakan untuk umrah dan lainnya ditabung hingga bisa daftar haji plus atau haji regular. Pertimbangan itu lah yang membuat saya akhirnya mantap untuk memilih umrah terlebih dahulu

 

__________

Catatan Kaki

[1] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anh berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga”.

[2] Masa berlaku paspor adalah lima tahun, dan saya telah meminta untuk ditambahkan nama agar menjadi tiga suku kata pada tahun 2015 sesuai peraturan untuk mendapatkan Visa Umrah yakni harus memiliki tiga suku kata. Jaga-jaga jika ada rejeki dalam lima tahun masa berlaku paspor itu, agar tidak sibuk mengurus penambahan nama lagi nanti. Padahal, saat itu untuk bayar kost  saja tidak sanggup dan baru mulai ingin mencari kerja atau usaha sampingan. Selengkapnya soal ini akan diceritakan di lain waktu

[3] Sebuah kalimat yang menjadi andalan banyak orang, termasuk saya dulu ketika sudah punya cukup uang, kemudian diberi nikmat kesehatan tetapi belum mau menunaikan ibadah ke tanah suci. Saat ini, saya merasa benar bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memanggil hambanya, tetapi belum tentu mau didengar dan datang. Panggilan adzan yang jelas-jelas merupakan panggilan untuk shalat saja diabaikan, bagaimana tahu ada panggilan untuk ke tanah suci jika tidak ada kesadaran? Maka dari itu, untuk teman-teman yang sudah membaca tulisan ini, sadarlah bahwa apabila sudah punya cukup uang dan diberi kesehatan, tunaikanlah. Banyak manfaat yang kita dapat seperti memperkuat iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

[4] Saya mengundurkan diri akibat terdapat masalah internal di dua usaha yang saya rintis sehingga harus memilih antara kuliah atau kerja. Soal ini akan diceritakan pada segment yang berbeda

[5] Dahulu merupakan area antara rumah Rasulullah dan Mimbar tempat beliau berkhutbah, disebut juga sebagai taman surga karena setelah hari kiamat akan diangkat ke surga untuk menjadi taman di sana. Saat ini menjadi bagian Masjid Nabawi dan menjadi salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa sehingga selalu dipenuhi jamaah dari seluruh dunia.

Please follow and like us:

Leave a Reply