Tulisan Pertama tahun 2016 “GOAL 2016”

  • 0

Tulisan Pertama tahun 2016 “GOAL 2016”

Sebenarnya bukan tulisan pertama juga, tapi lebih tepatnya tulisan pertama yang di publikasi. Masih berangkat dari kegalauan karena merasa tidak tahu tujuan hidup, sepertinya 2016 akan menjadi titik balik pencarian jati diri. Sejak “merantau” untuk masuk SMP tahun 2007 dan jauh dari orang tua, aku terus merasa hampa. Aku tidak tahu passionku, aku tidak tahu apa yang aku cari, apa tujuan hidupku, dan seterusnya. Pertanyaan itu sering muncul tiba-tiba dalam benakku dan cukup mengganggu. Proses pencarian jati diri terus aku lakukan hingga membuat aku mudah terbawa arus. Lingkungan menjadi momok tersendiri dalam pembentukan karakter. Hal itu yang membuat aku kemudian pernah merasakan menjadi siswa yang nakal, bolos sekolah, aktif di organisasi, sempat merasa beraliran “kanan”, kemudian kekirian, menjadi gamers, dan lain sebagainya.

Selain keluarga, aku merasa tidak ada yang lebih berharga di dunia daripada hubungan pertemanan. Teman adalah orang yang secara tidak langsung membentuk karakter. Dengan siapa kita berteman, padanya pula kita belajar. Tak salah jika ada pepatah yang berkata berteman dengan tukang parfum akan membuat kita tertular wanginya. Sejak SMP hingga SMA, aku merasa punya banyak teman. Menjadi gamer adalah hal terbaik yang pernah aku rasakan. Game mempersatukan individu, kelompok, atau golongan tertentu dalam suatu ikatan. Saat SMP aku gemar bermain PlayStation, bersama seorang sahabat bernama Andre, tempat rental PS adalah tempat favorit kami saat itu. Hari jumat sabtu menjadi sangat ditunggu karena hanya sekolah hingga pukul satu. Minggu tak terasa karena seharian di tempat rental PS. Aku tak merasa bersalah, karena memang tempat ini memberikan sensasi luar biasa. Denganya aku mengenal banyak teman se hobi. Aku menjadi kenal anak kompleks sebelah, berteman dengan anak dari sekolah lain, dekat dengan senior, dan sebagainya. Selain itu bermain game memberikan hiburan tersendiri setelah jenuh melakukan rutinitas sehari-hari.

Banyak orang melihat pecandu game sebagai suatu hal yang buruk. Padahal menjadi gamer adalah hal yang menyenangkan. Dalam bermain, imajinasi akan terasah, fantasi akan meningkat, serta mimpi-mimpi indah akan mewarnai hidup. Asal mampu membagi waktu, tak ada yang salah dengan gamer. Menilai sesuatu tak sepantasnya dari satu sudut pandang, karena tak baik selalu menggunakan pandangan subjektif. Masuk ke tahun terakhir di SMP hingga awal SMA, zaman mulai berganti. Perkembangan internet yang cepat membuat tempat rental PS mulai berganti warnet. Anak muda mulai beralih hobi dari bermain offline menjadi online. Dengan bermain online, semua orang dapat terhubung. Keuntungan tak terbatas akan didapat pecinta game seperti aku. Tak perlu menjadi ketua OSIS atau artis agar dikenal junior atau senior, menjadi Leader suatu clan saja cukup membuatku terkenal saat itu. Pointblank yang aku mainkan bersama teman-teman SMP sudah pada level tinggi, hingga pada satu waktu char milikku di banned karena terbukti menggunakan cheat. Sebuah cheat yang aku sendiri tidak inginkan. Cheat untuk menaikkan level secara instan tersebut digunakan salah satu teman kepada char milikku. Alhasil aku dan banyak petinggi clan lain mengalami nasib sama, di banned. Kekecewaan itu segera membuat aku dan banyak teman pensiun dari dunia game.

Aku kemudian mulai aktif di organisasi seperti pengkaderan siswa dan OSIS. Menjadi Perdana Menteri II OSIS bukanlah keinginanku, melainkan dorongan dari teman-teman sejawat. Merasa didorong kuat, akhirnya aku mencalonkan diri. Tak bisa aku lupakan seorang tim suksesku membuat tulisan pada poster kampanye bahwa aku adalah “clan master” suatu game. Kelas tiga siswa diminta fokus UN, tak boleh sibuk di organisasi. Aku kembali menjalani kehidupan baru. Berawal dari anggapan SMA adalah masa paling indah, aku mencoba mencari pacar. Sedikit telat, tapi cinta yang aku dapat saat sudah hampir lulus ini memberikan kenangan tersendiri bagiku, akhirnya aku berpacaran untuk pertama kalinya.

Tahun pertama kuliah, aku tak bahagia meski menjadi satu satunya siswa yang diterima di UI. Justru hal itu membuat aku kehilangan banyak sahabat. Aku kehilangan orang-orang yang mewarnai hidupku saat berseragam putih abu-abu. Di satu sisi, aku merasa “teman bisa di cari”. Disisi lain aku merasa mencari teman tak semudah yang dibayangkan. Dunia kuliah sangat berbeda dengan SMA. Di kampus, kamu bisa temukan orang paling cuek se jagat raya, penjilat, dan orang-orang egois yang hanya akan berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Namun banyak juga ditemukan orang-orang baik yang bisa diteladani. Semua tergantung individu, dan aku adalah orang yang mengalami culture shock saat itu. Tahun pertama kuliah berlalu begitu saja. Tak banyak yang aku dapatkan selain kesenangan karena bebas melakukan apapun sebagai mahasiswa kupu-kupu.

Tahun kedua, aku mulai beradaptasi mencoba memahami kerasnya ibukota dan hidup ditengah masyarakat yang beragam. Aku kembali aktif di oganisasi. Tak tanggung-tanggung, empat organisasi sekaligus aku masuki. Mulai dari menjadi wakadiv salah satu divisi di Himpunan, Deputi MIT HIPMI UI, Staff Bisnis dan Proyek KSM EP UI, hingga menjadi penerima manfaat beastudi MUDA PKPU. Keempat organisasi ini cukup menyita banyak waktu, membuat waktu tidur terpotong, beban fikiran bertambah, liburan terganggu, dan sebagainya. Setiap keputusan memberikan dua dampak, positif dan negatif. Selain dampak negatif itu, tentu aku mendapatkan banyak dampak positif. Berkenalan dengan banyak orang dan belajar banyak darinya adalah yang terpenting. Aku belajar bagaimana berorganisasi sebagai bekal di dunia kerja nanti, bekerjasama dalam satu tim, tulus membantu, dan masih banyak lagi.

Tetapi…. Aku masih belum menemukan jati diriku. Semua yang aku lakukan masih terasa tak ada tujuan dan visi yang jelas. Kini aku sudah masuk tahun ke tiga. Sadar akan banyak tawaran akan suatu posisi di organisasi sebelumnya, aku membuat release pernyataan takkan lagi aktif di organisasi. Aku tak ingin timbul salah paham seperti tak ingin melanjutkan organisasi karena alasan pribadi dengan ketua atau masalah personal. Siapapun ketuanya, sahabat atau bukan, aku akan istirahat dari organisasi, jawabku mantap saat ditawari jabatan strategis di suatu organisasi. Hal ini sebagai tindak lanjut keinginanku menikmati masa-masa kuliah yang tersisa hanya tiga semester. Tiga dari empat organisasi sebelumnya telah aku pastikan takkan lagi dilanjutkan meski ditawari jabatan apapun. Saat ini, tersisa satu organisasi yang meminta aku memikirkan dulu tawaran menjadi pengurus inti. Suatu organisasi yang benar-benar membuat aku galau hingga saat ini. Aku telah bertemu sahabat, bertanya dan berkonsultasi dengan mereka hingga meminta nasihat pembimbing akademik dan keluarga. Tapi keputusan ini sangat berat, disatu sisi aku ingin bebas dari semua organisasi dan fokus menikmati masa-masa indah terakhir kuliah, tapi disisi lain aku melihat ada harapan besar dari seorang rekan yang meminta aku mengisi posisi yang ia sebutkan. Hingga tulisan ini diterbitkan, belum ada keputusan pasti apakah aku akan menerima atau menolak tawaran tersebut.

Sepertinya, proses pencarian jati diri masih harus terus aku lakukan. Meski bertemu orang-orang hebat di tahun 2015 seperti beastudiawan MUDA PKPU, kolega di HIPMI, KSM, HM, dan Dimas sebagai sahabat yang membuat aku memiliku visi besar tahun ini, serta Cindy yang masih menjaga komunikasi denganku meski telah lebih dari setahun tak lagi menjadi pacar. Aku bertekad, dengan motivasi itu, aku akan berkarya tahun ini, Insha Allah

Condet, 01 Februari 2016

Please follow and like us: