FLASHBACK # Hadiah Untuk Sebuah Ketulusan, Iphone 6 dari AQUA.

  • 0

FLASHBACK # Hadiah Untuk Sebuah Ketulusan, Iphone 6 dari AQUA.

05INTRO: Cerita Masa Lalu, sayang jika dipendam sendiri.

Bertajuk temukan Indonesiamu, Aqua mengadakan lomba memainkan permainan tradisional seperti congklak, catur jawa, gasing, dan egrang pada peserta yang mendaftar. Hadiahnya tiga Iphone 6 dan tiga Go Pro Hero 4 untuk total enam orang beruntung. Acara diadakan di Kalimalang, Grand Indonesia, dan Bintaro sektor VII selama tiga minggu berurutan. Minggu pertama, saya sudah mendaftar di Kalimalang. Permainan pertama yang saya mainkan adalah congklak, sebuah permainan yang sudah saya mainkan ketika kecil dulu. Beruntung, saya mendapat lawan yang ternyata kebanyakan tidak hadir di lokasi. Akibatnya saya menang bye dengan mudah hingga sampai semifinal. Jika menang dan masuk final, saya berkesempatan menjadi pemenang dari congklak dan akan menghadapi pemenang lain dari permainan egrang, catur jawa, dan gasing. Tak seperti dongeng yang selalu indah diakhir, saya kalah. Saya hanya bisa menang hingga semifinal, dengan bye pula. Meski kalah, saya tetap mengikuti rangkaian acara hingga akhir dan didapatkan pemenang dari tiap kategori. Pemenang dari empat kategori akan berhadapan dan bersaing masuk ke final. Jika masuk 4 besar (masing-masing juara kategori) dan berhasil menang, maka dipastikan satu hadiah sudah berada di tangan. Pemenang dari congklak bertemu pemenang dari egrang. Keduanya akan bertanding di kategori yang tidak dimainkan salah satu kategori dari keduanya, yakni gasing dan catur jawa. Sedangkan pemenang catur jawa dan gasing bertemu dan akan memainkan egrang atau congklak. Setelah menang, barulah final ditentukan dengan permainan paling sulit, yakni egrang. Saya terus mengamati permainan, pola, dan system pertandingan untuk bekal di minggu depan atau minggu depannya lagi. Satu hal yang masih melekat kuat saat itu adalah semangat dan motivasi. Saya pulang dengan tangan kosong, tapi tidak untuk minggu depan.

JpegKetika di Grand Indonesia, saya hadir lebih awal. Saya mencoba seluruh permainan dan memperhatikan pola agar bisa menang. Ternyata permainan congklak adalah yang paling potensial karena memiliki pola agar menang mudah. Saya berharap agar kembali bertanding pada kategori itu. Sebelum bertanding, saya bernandzar “jika saya menang, uangnya akan saya pakai untuk bayar kuliah sendiri, tuhan!” Dengan campur tangan tuhan kembali, seperti semuanya sudah diatur, saya mendapat undian untuk bertanding pada kategori congklak, bedanya kali ini peserta lebih banyak dan tak ada yang tidak hadir. Pola permainan congklak sudah saya tebak. Ada celah yang bisa dimainkan, akan tetapi harus beruntung. Yakni menjadi orang kedua yang menjalankan permainan agar tahu pergerakan lawan. Tiap lubang congklak ada celahnya. Jika lawan memulai dari lubang satu, maka saya harus memulai dari lubang dua, dan seterusnya. Itu adalah pola yang saya pelajari dari minggu lalu hingga saat ini. Kemungkinan itu tentu sangat kecil. Jika saya mendapat giliran untuk jalan pertama, bagaimana? Ya disinilah kecerdikan dibutuhkan. Ketika suit, saya meminta “yang menang yang menentukan siapa yang jalan duluan”. Hal ini karena saya bisanya menang jika suit, wkwkw sombong, tapi serius. Akhirnya hingga final, dengan kuasa tuhan lagi saya bisa menang dengan mudah. Menjadi pemenang kategori congklak.

JpegKini, saya menunggu pemenang kategori egrang, gasing, dan catur jawa untuk diundi dan menjadi lawan saya. Satu hal yang saya hindari adalah bertemu lawan bukan dari egrang. Karena jika lawan saya adalah pemenang gasing dan catur jawa, ada kemungkinan babak selanjutnya ditentukan dengan lomba egrang. Sedangkan saya sama sekali tidak bisa bermain egrang tersebut. Kemungkinan untuk bertemu pemenang egrang tentu hanya 1/3, sehingga kemungkinan saya bermain egrang di semifinal adalah 2/3. Tapi, please, percaya! Ini kayak di filem-filem banget, terlalu mulus skenarionya, tapi kenyataannya memang begitu, permohonan saya didengar tuhan. saya bertemu pemenang Egrang, sehingga tidak mungkin bermain egrang / congklak. Setelah diundi, kami bertanding gasing. Sebuah permainan yang juga sudah saya pelajari minggu lalu. Sejatinya saya mempelajari keempat kategori lomba, tetapi untuk egrang sangat sulit karena baru pertama kali saya coba.

Runner Up minggu lalu, Berlian tampak hadir. Kami berkenalan di Kalimalang. Saya mendukungnya karena sebelumnya saya dikalahkan oleh Ryan di semifinal, sehingga Berlian bertemu Ryan di Final kategori Congklak. Kini giliran Berlian yang mendukung saya. Ia mengajarkan bermain gasing, kebetulan minggu lalu ia masuk final setelah menang di kategori ini. Tiba tiba ketika permainan hendak dimulai, dua bintang tamu datang. Ada Andovi dan Jovial da lopez (Skinny Indonesia 24 ). Permainan dirubah. Kami harus melawan bintang tamu terlebih dahulu. Saya melawan Andovi, sedangkan lawan pertama melawan Jovial. Tidak ada yang serius ketika itu karena kami mengira ini hanya untuk main-main. Bahkan berlian dan temannya menyoraki saya “ngalah aja nul”. Sempat terfikir untuk mengalah dan lucu-lucuan. Akan tetapi, untung saya tidak menganggap remeh challenge ini karena ternyata, pemenang dari lomba ini akan masuk semi final, yakni lomba gasing tersebut. saya memang menang melawan Andovi, akan tetapi lawan awal saya kalah melawan Jovi, tidak sengaja katanya. Ia mengira ini hanya main-main. Meski melayangkan protes, juri tak menggubris karena sudah diberitahu peraturan baru tersebut. Akhirnya, di final gasing saya melawan Jovi, tidak lebih hebat dari orang yang seharusnya menjadi lawan saya. Akan tetapi karena bercanda, lawan saya malah kalah dari Jovi dan saya yang diuntungkan.. Endingnya? Sudah bisa ditebak. Saya menang mudah melawan Jovi. Saya masuk FINAL! Sebuah hadiah sudah pasti didapat. Jika juara 1 saya mendapat iPhone 6. Jika runner up, dapat Go Pro Hero yang tidak kalah mahal.

01Masalahnya, di Final kami harus bermain Egrang, Wow! Sebuah pertolongan tampak hadir dari tuhan. “Jika tidak jago, setidaknya saya tidak boleh lebih tidak jago dibanding lawan” pikir saya. Kami diberi waktu 30 menit untuk istirahat dan berlatih. Hasilnya, saya mulai bisa berdiri diantara dua bambu itu. Perlahan belajar, mulai dari berdiri, hingga berjalan selangkah demi selangkah. Pihak lawan juga berusaha keras.

Aba-aba pertandingan dimulai telah dibunyikan. Kami diberi pelindung seperti helm dan deker agar tidak cedera. Permainan ini memang mengandalkan fisik dan keseimbangan. Meski tidak pernah bermain ini ketika kecil, berkat latihan yang serius saya akhirnya bisa berjalan. Hitungan ketiga, perlombaan dimulai. Kami bersiap digaris start. Satu… dua…. Tigaaa… saya melaju dengan kencang. Jauh lebih cepat dibanding latihan tadi. Sedangkan lawan malah jatuh di langkah kedua.

Dan pemenangnya adalah… Ihsan… ucap moderator dengan semangat. “selamat mas Ihsan” ucapnya. Saya tidak menyangka. Sebuah hadiah yang tidak didapat dari keberuntungan, apalagi kebetulan. Usaha yang didapat dari kerja keras, keyakinan, dan pertolongan tuhan tentunya. Sebuah proses panjang yang ditempuh. Ketika itu, iphone 6 masih baru launching. saya menjualnya seharga sembilan juta dan kemudian menjalankan nadzar membayar kuliah yang saat itu masih cukup besar

Saya menelepon Ibu, mengabari tentang rezeki yang saya dapat. Ketika itu saya sadar betapa manis bisa mandiri dan bayar biaya kuliah sendiri. Ini adalah hadiah dari Aqua untuk sebuah ketulusan.

____________

Jawab pertanyaan dan menangkan hadiah pulsa untuk 3 orang beruntung yang menjawab pertanyaan dengan benar
Untuk ikutan, klik Ikuti Quiz

Baca Juga : FLASHBACK #Asus Zenfone 5, Bukti Kekuatan Pertemanan

Tulisan ini tidak bermaksud untuk pamer; menyinggung satu, dua atau sekelompok orang; dan menyebarkan kebencian. Tulisan ini murni untuk motivasi, atau setidaknya berbagi cerita yang semoga dapat diambil hikmahnya. Mohon maaf apabila ada yang salah, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan

Please follow and like us:

  • 0

Tulisan Pertama tahun 2016 “GOAL 2016”

Sebenarnya bukan tulisan pertama juga, tapi lebih tepatnya tulisan pertama yang di publikasi. Masih berangkat dari kegalauan karena merasa tidak tahu tujuan hidup, sepertinya 2016 akan menjadi titik balik pencarian jati diri. Sejak “merantau” untuk masuk SMP tahun 2007 dan jauh dari orang tua, aku terus merasa hampa. Aku tidak tahu passionku, aku tidak tahu apa yang aku cari, apa tujuan hidupku, dan seterusnya. Pertanyaan itu sering muncul tiba-tiba dalam benakku dan cukup mengganggu. Proses pencarian jati diri terus aku lakukan hingga membuat aku mudah terbawa arus. Lingkungan menjadi momok tersendiri dalam pembentukan karakter. Hal itu yang membuat aku kemudian pernah merasakan menjadi siswa yang nakal, bolos sekolah, aktif di organisasi, sempat merasa beraliran “kanan”, kemudian kekirian, menjadi gamers, dan lain sebagainya.

Selain keluarga, aku merasa tidak ada yang lebih berharga di dunia daripada hubungan pertemanan. Teman adalah orang yang secara tidak langsung membentuk karakter. Dengan siapa kita berteman, padanya pula kita belajar. Tak salah jika ada pepatah yang berkata berteman dengan tukang parfum akan membuat kita tertular wanginya. Sejak SMP hingga SMA, aku merasa punya banyak teman. Menjadi gamer adalah hal terbaik yang pernah aku rasakan. Game mempersatukan individu, kelompok, atau golongan tertentu dalam suatu ikatan. Saat SMP aku gemar bermain PlayStation, bersama seorang sahabat bernama Andre, tempat rental PS adalah tempat favorit kami saat itu. Hari jumat sabtu menjadi sangat ditunggu karena hanya sekolah hingga pukul satu. Minggu tak terasa karena seharian di tempat rental PS. Aku tak merasa bersalah, karena memang tempat ini memberikan sensasi luar biasa. Denganya aku mengenal banyak teman se hobi. Aku menjadi kenal anak kompleks sebelah, berteman dengan anak dari sekolah lain, dekat dengan senior, dan sebagainya. Selain itu bermain game memberikan hiburan tersendiri setelah jenuh melakukan rutinitas sehari-hari.

Banyak orang melihat pecandu game sebagai suatu hal yang buruk. Padahal menjadi gamer adalah hal yang menyenangkan. Dalam bermain, imajinasi akan terasah, fantasi akan meningkat, serta mimpi-mimpi indah akan mewarnai hidup. Asal mampu membagi waktu, tak ada yang salah dengan gamer. Menilai sesuatu tak sepantasnya dari satu sudut pandang, karena tak baik selalu menggunakan pandangan subjektif. Masuk ke tahun terakhir di SMP hingga awal SMA, zaman mulai berganti. Perkembangan internet yang cepat membuat tempat rental PS mulai berganti warnet. Anak muda mulai beralih hobi dari bermain offline menjadi online. Dengan bermain online, semua orang dapat terhubung. Keuntungan tak terbatas akan didapat pecinta game seperti aku. Tak perlu menjadi ketua OSIS atau artis agar dikenal junior atau senior, menjadi Leader suatu clan saja cukup membuatku terkenal saat itu. Pointblank yang aku mainkan bersama teman-teman SMP sudah pada level tinggi, hingga pada satu waktu char milikku di banned karena terbukti menggunakan cheat. Sebuah cheat yang aku sendiri tidak inginkan. Cheat untuk menaikkan level secara instan tersebut digunakan salah satu teman kepada char milikku. Alhasil aku dan banyak petinggi clan lain mengalami nasib sama, di banned. Kekecewaan itu segera membuat aku dan banyak teman pensiun dari dunia game.

Aku kemudian mulai aktif di organisasi seperti pengkaderan siswa dan OSIS. Menjadi Perdana Menteri II OSIS bukanlah keinginanku, melainkan dorongan dari teman-teman sejawat. Merasa didorong kuat, akhirnya aku mencalonkan diri. Tak bisa aku lupakan seorang tim suksesku membuat tulisan pada poster kampanye bahwa aku adalah “clan master” suatu game. Kelas tiga siswa diminta fokus UN, tak boleh sibuk di organisasi. Aku kembali menjalani kehidupan baru. Berawal dari anggapan SMA adalah masa paling indah, aku mencoba mencari pacar. Sedikit telat, tapi cinta yang aku dapat saat sudah hampir lulus ini memberikan kenangan tersendiri bagiku, akhirnya aku berpacaran untuk pertama kalinya.

Tahun pertama kuliah, aku tak bahagia meski menjadi satu satunya siswa yang diterima di UI. Justru hal itu membuat aku kehilangan banyak sahabat. Aku kehilangan orang-orang yang mewarnai hidupku saat berseragam putih abu-abu. Di satu sisi, aku merasa “teman bisa di cari”. Disisi lain aku merasa mencari teman tak semudah yang dibayangkan. Dunia kuliah sangat berbeda dengan SMA. Di kampus, kamu bisa temukan orang paling cuek se jagat raya, penjilat, dan orang-orang egois yang hanya akan berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Namun banyak juga ditemukan orang-orang baik yang bisa diteladani. Semua tergantung individu, dan aku adalah orang yang mengalami culture shock saat itu. Tahun pertama kuliah berlalu begitu saja. Tak banyak yang aku dapatkan selain kesenangan karena bebas melakukan apapun sebagai mahasiswa kupu-kupu.

Tahun kedua, aku mulai beradaptasi mencoba memahami kerasnya ibukota dan hidup ditengah masyarakat yang beragam. Aku kembali aktif di oganisasi. Tak tanggung-tanggung, empat organisasi sekaligus aku masuki. Mulai dari menjadi wakadiv salah satu divisi di Himpunan, Deputi MIT HIPMI UI, Staff Bisnis dan Proyek KSM EP UI, hingga menjadi penerima manfaat beastudi MUDA PKPU. Keempat organisasi ini cukup menyita banyak waktu, membuat waktu tidur terpotong, beban fikiran bertambah, liburan terganggu, dan sebagainya. Setiap keputusan memberikan dua dampak, positif dan negatif. Selain dampak negatif itu, tentu aku mendapatkan banyak dampak positif. Berkenalan dengan banyak orang dan belajar banyak darinya adalah yang terpenting. Aku belajar bagaimana berorganisasi sebagai bekal di dunia kerja nanti, bekerjasama dalam satu tim, tulus membantu, dan masih banyak lagi.

Tetapi…. Aku masih belum menemukan jati diriku. Semua yang aku lakukan masih terasa tak ada tujuan dan visi yang jelas. Kini aku sudah masuk tahun ke tiga. Sadar akan banyak tawaran akan suatu posisi di organisasi sebelumnya, aku membuat release pernyataan takkan lagi aktif di organisasi. Aku tak ingin timbul salah paham seperti tak ingin melanjutkan organisasi karena alasan pribadi dengan ketua atau masalah personal. Siapapun ketuanya, sahabat atau bukan, aku akan istirahat dari organisasi, jawabku mantap saat ditawari jabatan strategis di suatu organisasi. Hal ini sebagai tindak lanjut keinginanku menikmati masa-masa kuliah yang tersisa hanya tiga semester. Tiga dari empat organisasi sebelumnya telah aku pastikan takkan lagi dilanjutkan meski ditawari jabatan apapun. Saat ini, tersisa satu organisasi yang meminta aku memikirkan dulu tawaran menjadi pengurus inti. Suatu organisasi yang benar-benar membuat aku galau hingga saat ini. Aku telah bertemu sahabat, bertanya dan berkonsultasi dengan mereka hingga meminta nasihat pembimbing akademik dan keluarga. Tapi keputusan ini sangat berat, disatu sisi aku ingin bebas dari semua organisasi dan fokus menikmati masa-masa indah terakhir kuliah, tapi disisi lain aku melihat ada harapan besar dari seorang rekan yang meminta aku mengisi posisi yang ia sebutkan. Hingga tulisan ini diterbitkan, belum ada keputusan pasti apakah aku akan menerima atau menolak tawaran tersebut.

Sepertinya, proses pencarian jati diri masih harus terus aku lakukan. Meski bertemu orang-orang hebat di tahun 2015 seperti beastudiawan MUDA PKPU, kolega di HIPMI, KSM, HM, dan Dimas sebagai sahabat yang membuat aku memiliku visi besar tahun ini, serta Cindy yang masih menjaga komunikasi denganku meski telah lebih dari setahun tak lagi menjadi pacar. Aku bertekad, dengan motivasi itu, aku akan berkarya tahun ini, Insha Allah

Condet, 01 Februari 2016

Please follow and like us:

  • 2

Beastudi Muda; Antara Syukur, Bangga, dan Tanggung Jawab

Sore itu, hujan datang. Dari balik kedai kopi yang dindingnya transparan itu, terlihat remaja dengan payung besar hilir mudik mengantarkan orang-orang yang ingin keluar masuk Mall atau terjebak hujan di pojok tempat menuju angkutan umum. Dengan segelas kopi hangat favorit di sisiku, hatiku terenyuh. Betapa sia-sia apa yang aku lakukan selama ini. Jauh-jauh merantau menuntut ilmu, aku malah asyik bersantai, menikmati indahnya dunia, tak bersyukur pula. Shalat berantakan, puasa tak lagi pernah, alquran hanya jadi pajangan. Entah apa yang menghampiriku hari itu, yang jelas aku merasa malu. Malu pada diri sendiri, malu pada keluarga, paling sedu, malu pada Tuhan sang pemberi rezeki. Masih banyak orang diluar yang keadaannya belum sejahtera.

Bukannya tidak ingin berubah, tetapi berbagai cara telah aku lakukan untuk hijrah. Mulai dari pindah ke indekos yang jaraknya hanya beberapa meter dari Masjid, menonton ceramah-ceramah agama di Youtube, hingga membaca buku-buku religi. Tetapi semua itu tak berarti apa-apa. Aku tetap sama, shalat subuh saja masih jam tujuh.

Hingga pada akhirnya berlatar belakang ingin mandiri dan merubah diri, aku menemukan info beastudi MUDA dari PKPU. Tak sekedar beasiswa, beastudi ini ternyata menekankan pada pelatihan spiritual dan mental selain pelatihan bisnis. Dibina di asrama, wajib mengikuti kegiatan hafal alqur’an, dan kegiatan-kegiatan lainnya justru mendorongku mencoba melamar beasiswa ini. Hanya satu syarat yang sebenarnya mengganjalku waktu itu, “finansial”.

Pelamar beasiswa diutamakan adalah mereka yang membutuhkan bantuan finansial. Kuotanya pun hanya sepuluh orang. Aku sempat ragu, tetapi setelah bermunajat pada Allah, hati ini mantap. Seolah mendapat bisikan dari tuhan, aku berfikir “ kan membutuhkan bantuan finansial, bukan harus berasal dari keluarga kurang mampu dan membutuhkan SKTM”. Kalau harus menggunakan SKTM, aku mundur, hal ini karena aku tidak memiliki surat itu.

Sejatinya, apabila dibilang tidak butuh bantuan finansial, aku bohong. Tapi apabila dikatakan butuh, aku seolah tak bersyukur atas apa yang aku dapat selama ini. Dan masalah kuota, biarlah tuhan yang tentukan. Toh aku juga masuk kuota 16 orang yang diterima SBMPTN pada jurusan dengan pelamar mencapai 500-an orang tahun itu. Akhirnya Dengan niat ingin merubah diri dan mandiri tadi, aku mengikuti rangkaian seleksi.

3 Maret 2015, Setelah lulus seleksi awal (seleksi berkas), aku mengikuti seleksi wawancara yang diadakan di DRPM UI. Saat wawancara berlangsung, panitia sempat tercengang saat membaca formulirku pada bagian gaji orang tua. Ya, mungkin dengan jumlah segitu, aku dirasa tak pantas mendapatkan manfaat beasiswa ini. Pun dengan interview itu, saat ditanya mengenai motivasi dan alasanku melamar beasiswa ini, aku menjawab polos dan seadanya “ aku ingin berubah pak, buk”. Selama ini aku jauh dari tuhan, ibadah berantakan, dengan pembinaan ini, aku berharap dapat berubah karena tuntutan lingkungan. Sejujurnya aku tak berharap banyak, pun kalau tidak diterima nanti berarti tuhan belum mengizinkanku untuk dekat pada Nya. Dalam doa aku juga tidak meminta penuh harap tentang beasiswa ini. Aku hanya berkata seperti tadi. “Andai Kau izinkan aku berubah dan lebih dekat pada Mu, luluskanlah aku Tuhan. Jika tidak, aku Ikhlas. Mungkin lain waktu”.

Mendengar ceritaku, para panitia hening sejenak. Senyum manis mulai terpancar dari wajah mba Ozi[1] yang kemudian bertanya “ andai diterima, berapa persen kemungkinan kamu akan mengambilnya?” dengan mantap aku menjawab “99% mbak!” Sebuah jawaban berbeda dari calon penerima lain yang menjawab 50 ;50%; 70:30 %; dan sebagainya. Mutlak saya ambil karena memintanya pada Tuhan. Setelah diberi, tidak mungkin aku ingkar. 1% nya hanya apabila aku mati, atau hal-hal yang tidak diketahui lainnya. Mendengar jawaban ini mba Ozi dan panitia lain tertawa, kemudian mempersilahkan aku untuk pergi.

6 Maret, hp ku berdering. Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal masuk. Aku mengangkatnya dan ternyata itu dari Bang Firman[2], salah satu panitia yang menyeleksi calon penerima beasiswa. Beliau kembali bertanya tentang data keuangan dan gaji orang tua ku, kali ini lebih serius. Aku menjawab apa adanya. Beberapa saat kemudian, sebuah sms berisi ucapan selamat masuk dari nomor yang sama.

Ya, akhirnya aku diterima dan menjadi penerima manfaat beasiswa ini. Beasiswa kedua ku setelah pernah mendapat beasiswa saat maba dulu. Pikirku hanya tiga; senang, bangga, dan tanggung jawab. Senang karena aku berhasil meraih beasiswa ini; bangga karena menjadi satu dari sepuluh orang yang diterima dari Universitas Indonesia; dan tanggung jawab yang harus aku tepati pada Tuhan seperti janjiku dulu.

Beasiswa ini membina para penerimanya. Diasramakan, dan tentunya ada jam malam. Sebuah petaka bagiku yang sering pulang dini hari karena nongkrong di kampus. Bagi anak FISIP, begadang mungkin sudah menjadi kewajiban. Tugas-tugas yang menumpuk menjadi alasan. Belum lagi aku yang aktif di organisasi. Rapat akan menjadi agenda rutin. Tapi aku sudah bertekad, ini konsekuensi. Jalani saja, syukuri!

Setelah masuk asrama, aku sadar bahwa aku adalah orang yang beruntung. Kata bang Firman, aku adalah penerima di list ke sepuluh (terakhir) dari calon penerima lain. Sembilan nama sudah terisi, tersisa satu yang aku dan beberapa nama lain perebutkan. Masalahnya adalah pada finansialku yang katanya sudah berkecukupan. Tetapi dibanding calon lain, aku paling kompeten. Tak mungkin memaksakan orang yang tidak kompeten meski lebih membutuhkan, ujar bang Firman. Akhirnya Setelah rapat dan koordinasi, panitia memilihku.

Disini, aku bertemu orang-orang hebat yang membuka mataku. Benar bahwa diatas langit masih ada langit. Aku ternyata tak ada apa-apanya dibanding penerima beasiswa lain. Ada Bang Rizki Ananda dari Ilmu Perpustakaan UI 2011 yang menyabet berbagai penghargaan dibidang kewirausahaan; Bang Rasyid Ramdani dari FT 2012 dengan segudang prestasinya. Bang Ammar Yazir Kriminologi 2012 yang jago nge desain[3], Bang Derry dari Geografi 2012 yang sangat mandiri[4], Mahasena Alfafa FT 2013 yang ahli dalam bidang IT[5], Candra Andika Politik 2013 si (calon) politikus ulung[6], Fahruddin Alwi FIB 2013 seorang aktifis muslim yang familiar namanya di kalangan muslim UI, Meika Rizki Syafrino Mesin 2013 yang juga aktif di organisasi agama, dan Faris dari jurusan Kriminologi 2013 yang merupakan Kepala divisi Kewirausahaan BEM FISIP UI. Belum lagi sepuluh wanita hebat penerima beasiswa dari IPB[7]. Dengan lingkungan yang baik inilah aku termotifasi untuk berprestasi lebih tinggi lagi.

Sebuah cerita yang hanya bisa kuungkapkan dengan tulisan, rasa syukur yang dalam pada Tuhan, dan sebuah perjalanan yang menjadi kenangan.

 

 

Ihsanul Afwan

Antropologi UI 2013

BEASTUDI MUDA BATCH 2

[1] aku tahu nama ini setelah lulus beasiswa

[2] Tahu nama setelah masuk juga ..wkwkw

[3] Banyak karya yang dihasilkannya beredar di kampus. Tetapi kita tidak menyadarinya. Ya, memang dia lebih sering bekerja dibalik layar. Karenanya juga dia dijuluki cacing. Cacing adalah makhluk yang menyuburkan tanah, tetapi banyak yang lupa akan jasanya.

[4] Bekerja part time, hidup dengan uang pribadi, dan membeli barang dari usaha sendiri

[5] Berkat bantuannya juga saya dapat membuat website pribadi ini.

[6] Beliau adalah ketua Perhimpunan Mahasiswa Jambi, aktif di organisasi, dan lembaga sosial.

[7] Total penerima beasiswa tiap angkatan 20 orang. 10 akhwan dari UI, dan 10 Ikhwat dari IPB.

Please follow and like us: