Major Historical Currents in Environmental Anthropology by : Michael R. Dove and Carol Carpenter P43-47

  • 0

Major Historical Currents in Environmental Anthropology by : Michael R. Dove and Carol Carpenter P43-47

Dalam artikel ini saya memfokuskan pembahasan kepada sub tema The Politics Of Natural Resources And The Enviroment. Dalam pembahasannya, terdapat dua tokoh yang bernama Roy F Allen dan Tania M. Li. Allen membahas mengenai analisis sejarah yang berhubungan dengan perubahan dengan perubahan dalam manajemen sumber daya, konsepsi alam, dan hubungan dengan dunia yang lebih luas di masyarakat Nuaulu yang dianalisis secara historis dan saling terkait. Sedangkan Li menganalisis bagaimana dan mengapa self-representation sebagai indigeneous dalam mengatur sumber daya di kelompok Sulawesi tengah, Lindu dan Lauje.

Nature dalam hal ini berkaitan dengan culture. Saat culture tercipta, nature menjadi terpengaruhi. Misalnya kultur menebang pohon, membuat persediaan kayu menjadi menipis. Saat persediaan kayu menipis, maka otomatis kultur atau budayanya berubah juga. Yaitu dari menebang kayu menjadi berpindah dan tidak lagi menebang pohon sesuai kebutuhan. Dua hal ini saling mempengaruhi.

Artikulasi menurut Hal adalah “process of simplication and boundary making, as well as connection” yaitu suatu proses penyederhanaan dan pembuatan batas hubungan atau koneksi. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah Resource competition, local political structure, capacity to articulate, identity to outsider, urban activist interest, and local state contest. Dalam kasus ini, suku yang sederhana adalah yang seharusnya terkena dampak. Padahal tidak selalu, dan misalnya pada Lauje yang malah tidak lebih terakrtikulasi dari suku Lindu yang terkena dampak Hydro Electric.

Contoh suku yang berhasil mengartikulasikan dirinya sendiri adalah suku “cekbocek” di Kalimantan. Indeginity nya dimunculkan dan dibentuk agar dapat mempertahankan suatu tanah. Apabila tidak ada indigenious people disana, maka tanah ini akan “diurus” oleh pemerintah. Oleh karena itulah suku ini kemudian di artikulasikan.

Depok, 21 September 2015

Ihsanul Afwan,

Please follow and like us:

Leave a Reply