Category Archives: Uncategorized

  • 0

Mencari Hidayah di Makkah Al Mukarromah

Category : Uncategorized

Mohon maaf, baru akan update Insha Allah pada Ahad, 27 Oktober 2019 Pukul 20.00 WIB

Please follow and like us:

  • 0

Haruskah Suci Agar Pergi Umrah / Haji?

Category : Uncategorized

Tulisan ini berisi pengalaman pribadi menjalani rangkaian ibadah Umrah, mulai dari pengambilan keputusan ingin ke tanah suci saat nafsu duniawi sedang memuncak, pengalaman ketika proses ibadah di Mekkah dan Medinah, hingga harapan dan perasaan setelah kembali ke tanah air

Sepertinya masih ada yang berfikir bahwa hanya seseorang yang telah ‘suci’ seperti shalatnya lengkap, puasanya taat, dan sedekah hebat yang dapat atau layak menunaikan ibadah Umrah atau Haji. Bagi mereka yang tidak sesuai dengan kriteria di atas, tidak layak mendatangi baitullah. Memang tidak semua orang, tetapi sepertinya ada orang-orang yang dahulu beranggapan seperti ini, termasuk saya. Apabila semua orang berfikir bahwa Umrah atau Haji hanya untuk orang-orang yang suci itu, maka sudah barang pasti tidak akan ada orang yang mau berangkat Umrah atau Haji, karena sungguh manusia tidak ada yang benar-benar suci, yang ada hanyalah beruntung karena aibnya masih ditutupi oleh Allah SWT. Menurut saya, sejatinya orang yang pergi ke tanah suci justru adalah mereka yang sadar bahwa dirinya bergelimang dosa, penuh kemaksiatan, dzalim, merasa hina, tetapi ingin bertaubat dan membersihkan diri. Hal ini diperkuat oleh Hadist[1] yang mengatakan bahwa Umrah atau Haji dapat menghapus dosa, artinya orang yang berangkat itu tidak luput dari dosa. Pun dengan rangkaian Umrah atau Haji, menurut saya penuh dengan hal-hal yang bertujuan untuk membuat sadar betapa kecilnya kita, bahwa kita bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tidak ada yang dapat menolong kita selain amal ibadah nantinya.

Keberangkatan ibadah saya kali ini sangat bermakna. Terjadi dari suatu proses panjang dan pertarungan melawan nafsu dunia serta rasa minder, merasa sebagai orang yang hina dan tidak layak ke tanah suci, tanah haram, tanah yang penuh dengan jejak sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Maka dari itu saya ingin sekali berbagi kepada sesama, melalui cerita bagaimana diri yang hina ini berusaha, berupaya mendekatkan diri kepada Nya. selamat membaca :”)

_______

Keinginan Umrah; Tantangan Nafsu dan Keserakahan Dunia
Saya sadar selama ini telah diberikan nikmat dan rezeki yang banyak oleh Allah SWT berupa uang, waktu yang lapang, kesehatan, kesempatan, keluarga dan teman-teman yang baik. Meskipun sudah tercetuskan sejak 2015 ketika membuat paspor pertama kali[2],  selama periode tahun 2016 hingga 2018 saya terus sibuk mengembangkan usaha, memutar modal, serta membeli barang-barang berharga, tetapi sulit untuk menyisihkan uang untuk ke sana. Niat itu baru kuat ketika salah seorang teman menampar saya melalui obrolan singkat kami ketika saya bercerita bahwa telah berhasil mengunjungi delapan negara di luar Indonesia.

 “Kapan Umrah Nul?” komentarnya. “Nanti lah bareng istri” jawab saya

“Meninggal enggak nunggu punya istri dulu Nul” balasnya lagi yang membuat saya terdiam beberapa detik sebelum kembali ngeles “belum ada panggilan gw”[3], yang dibalasnya dengan kecepatan cahaya “Yakin belum dipanggil? lu aja budek kali”. Sambil tertawa bareng, saya kemudian menyerah debat dan mengatakan “doain aja ya, Insha Allah”.

Meski bercanda, tetapi ujarannya cukup menancap  dan membekas di dada saya, sehingga muncul lah niat kuat untuk umrah. Walau demikian, tetap saja berbagai godaan datang silih berganti. Ketika uang tabungan sudah cukup, saya pergunakan untuk daftar dan membayar biaya kuliah S2, lalu membeli ponsel dan motor yang diidamkan sejak lama, menambah modal usaha, kemudian pergi ke Korea tiba-tiba untuk mencari mitra di sana yang akhirnya menggerus tabungan itu lagi. Nafsu ketika sudah tercapai, selesai sudah. Tidak membekas apa-apa alias biasa saja. Kuliah saya terhenti di tengah jalan[4] , misi mencari mitra di Korea gagal terlaksana dan justru bertemu di Indonesia, dan banyak persoalan lain yang intinya jika niat tidak kuat, akan ada-ada saja pengeluaran yang menghambat. Saya merasa tidak pernah puas. Ingin lagi, lagi, dan lebih lagi. Nafsu manusia memang jika tidak dapat dikendalikan akan seperti karung kosong, diisi pasir namun tidak akan pernah penuh dan puas. Diberi satu gunung akan minta dua gunung, diberi dua akan minta empat, begitu seterusnya.

Kembali pada topik semula, saya amat beryukur karena masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT bahwa saya menyadari banyak hal yang saya lakukan itu salah, tidak baik, dan merupakan perbuatan dosa. Keberangkatan saya ibadah kali ini bukan karena islam saya yang meningkat, tetapi karena nikmat dari Allah berupa kesadaran saya yang masih terpelihara, melalui keluarga dan teman-teman yang gemar saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Maka dari itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang amat baik dalam hidup saya. Semoga amal ibadahnya dibalas oleh Allah SWT. Ramadhan 1440 Hijriah atau tahun 2019 ini, saya mencoba memantapkan diri untuk menunjungi tanah suci. Bismillah, kumpulkan uang lagi, daftar, dan Insha Allah berangkat.

Godaan-godaan Sebelum Berangkat Hingga Pesawat Mendarat
Setelah menyetor uang untuk biaya Umrah, masih ada keraguan untuk berangkat, seperti apakah ibadah saya akan diterima oleh Allah SWT? Apakah uang itu tidak sebaiknya saya putarkan lagi untuk usaha terlebih dahulu? Bagaimana nasib pekerjaan yang saya tinggalkan di Indonesia? Hingga kekhawatiran tidak akan mendapatkan teman di perjalanan karena saya berangkat sendiri. Saya bahkan sempat menanyakan pada pihak Travel mekanisme pembatalan tour. Akan tetapi, setelah kembali menguatkan diri dan meluruskan niat, ditambah dengan nasihat orang tua agar memohon kepada Allah SWT agar urusan dunia tidak mengganggu ibadah, perjalanan saya menjadi tenang selama Umrah. 09 Oktober setelah pembekalan di Bandara, pesawat yang kami naiki akhirnya take off pukul 21.00 WIB dan menuju Turkey terlebih dahulu. Perjalanan sekitar 12 jam di udara tidak terasa karena berangkat malam, kemudian dilanjutkan menuju Madinah, sebuah kota yang berjarak sekitar 600 km dari Mekkah.

Ibadah yang Indah di Madinah
Madinah adalah daerah yang menjadi tujuan Hijrah Rasulullah bersama pengikutnya dari Mekkah. Penduduknya ramah dan agama Islam berkembang cukup pesat di sini. Rasulullah membangun Masjid pertama bernama Masjid Quba, yang menurut HR Tirmidzi, ibadah di sini pahalanya setara dengan Umrah. Rasulullah amat cinta dengan Madinah, sehingga mendoakan Madinah agar diberi kedamaian dua kali lebih besar dibanding Makkah. Rasulullah juga wafat di sini, yang makamnya saat ini terletak di dalam masjid Nabawi.

Rombongan kami tiba di Madinah sekitar pukul 04.30 pagi. Imigrasi sudah tampak ramai. Petugas yang terdiri dari lelaki dan perempuan bercadar sibuk melayani orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia, termasuk kami Indonesia. Sesekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia “apa kabar”? sini-sini, dan banyak kosakata lain sepertinya cukup mereka kuasai. Menurut saya, Indonesia memang menjadi salah satu pengunjung terbesar bagi Arab Saudi, khususnya Mekkah dan Madinah, sehingga Bahasa Indonesia menjadi tidak terlalu asing bagi mereka. Setelah melewati imigrasi, kami disambut oleh Mutowwif (pemandu/ guide), lalu mengambil bagasi dibantu handler bandara dan menuju Masjid di dekat Bandara untuk Shalat Subuh.

Kami melanjutkan perjalanan dengan Bis menuju Hotel. Sepanjang perjalanan tampak padang pasir di kanan-kiri, namun beberapa ditumbuhi tumbuh-tumbuhan dan rumput yang hijau. Sambil mengucap kalimat Talbiah “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak”, bis yang kami kendarai melaju dengan kencang.

Kami tiba di Hotel sekitar pukul tujuh, lalu dijadwalkan berkumpul di lobi pukul 10.30 untuk persiapan shalat Jumat di Masjid Nabawi. Akan tetapi saya izin untuk berangkat terlebih dahulu ke Masjid sekitar pukul delapan. Sayang sekali jika waktu di sana terbuang begitu saja di hotel. Maka saya fikir lebih baik perbanyak ibadah di Nabawi. Jarak hotel ke pintu 15 Masjid yang tidak terlalu jauh (hanya sekitar 60 meter), membuat saya bersemangat mengunjungi Masjid yang keutamaannya lebih baik 1.000 kali (kecuali Masjidil Haram) dari Masjid lainnya di bumi ini.Hati saya bergetar, “apakah ini mimpi? benarkah saya tiba di sini?” Serambi masjid yang megah dengan payung pelindung teriknya matahari terbuka gagah. sambil mengucap hamdalah, kaki saya terus melangkah menyusuri Masjid Nabawi yang luas, berusaha mencari di mana shaf pertama, berharap bisa mendengar Khutbah sambil bisa melihat Khatib. Sekitar tiga puluh menit mencari, saya tidak juga berhasil menemukan ujung shaf. Kemudian sambil browsing di Internet, saya melewati sebuah tempat yang sepertinya Mimbar Masjid, dengan orang-orang yang sudah memenuhi tempat itu. Masha Allah! ini Raudhah![5]  Bagaimana cara ke sana? Pertanyaan itu belum terjawab, saya sudah terkagum lagi ketika melihat antrian panjang orang-orang yang melewati sebuah area….makam Rasulullah! Allahu Akbar, ternyata saya tiba di dekat Makam kekasih Allah. Saya segera membaca shalawat, berdoa dan memuja- muji Rasulullah SAW. IDK, tapi secepat kilat bayangan perjuangan beliau mengangkat derajat manusia, menyebarkan agama Islam yang mulia melintas di fikiran saya. Betapa haru hingga saya harus mengelap air mata beberapa kali. Bagi sebagian orang, menangis di sini dianggap berlebihan dan dikhawatirkan sirik. Maka dianjurkan untuk mengucap salam, shalawat, dan berdoa sewajarnya saja. Akan tetapi jika menangis karena haru, bahagia, dan merasa berdosa atau bersalah kepada Allah, menurut saya bukan suatu hal yang salah. Apabila mengingat betapa hina nya kita di hadapan Allah, sepertinya hanya orang-orang yang ‘kuat’ yang dapat menyembunyikan tangisnya. Disebelahnya, terdapat makam sahabat Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khatab. Proses melewati makam ini hanya beberapa menit karena antrean yang panjang dan berdesak-desakan sehingga dibatasi oleh petugas.

Kurang puas, saya kemudian mengantre kembali melalui pintu masuk 1, kemudian berjalan hingga ke luar lagi selama tiga kali. Setelah itu saya mencari tempat duduk untuk bersiap-siap shalat Jumat. Ibadah di sini terasa khusu’, jauh dari fikiran duniawi. Muncul berbagai penyesalan atas dosa-dosa yang dilakukan. Diri seketika terasa hina dan berasa akan mati segera. Saya duduk di sebelah Raudhah karena tempat itu telah penuh. Adzan berkumandang dan saya dapat melihat Muadzin, Khatib, dan Imam secara langsung. Sayangnya, sekitar satu jam sebelum di mulai, saya ingin buang air kecil. Akan tetapi saya terpaksa nahan karena khawatir ketika ke luar, tempat yang saya tinggalkan sudah akan diisi orang lain. Akhirnya dengan mohon keridhaan Allah SWT, saya menahan rasa ingin buang air kecil selama hampir dua jam. Khutbah hanya berlangsung sekitar 15 menit, kemudian iqamat dan shalat Jumat dimulai.

Setelah selesai, saya berdoa sejenak, lalu lari mencari kamar kecil. Sendal tidak ketemu, akhirnya berlari tanpa alas kaki. Panas sekali! Seperti menginjak bara api! Benar-benar panas, ha ha ha. Apa ini adzab dari tuhan untuk saya? Ah intropeksi diri saja, fikir saya dalam hati. Setelah buang air kecil, barulah saya mencari sandal dan masih bertemu. Saya pulang ke hotel untuk makan siang, lalu bersiap-siap kembali ke Nabawi untuk shalat Ashar. Jadi #tips1 buat kamu yang dapat posisi shalat yang baik, buang air kecil dulu ya agar tidak ada yang mengganggu.

Hari itu waktu berlalu indah, mengharukan dan penuh kebahagiaan. Meski Malam dan Subuh, jamaah tidak pernah sepi, selalu seperti Hari Raya

 

Half Day Tour Medinah: Napak Tilas Sejarah Perjuangan Rasulullah

Keesokan harinya setelah sarapan, kami berkunjung ke Masjid Quba seperti yang tadi diceritakan untuk shalat dua rakaat tahiyatul Masjid dan Dhuha.  Setelah itu kami dibawa berbelanja ke pasar kurma, sebuah tempat yang menjual oleh-oleh  kurma di Medinah. Toko di sana menempatkan banyak karyawan orang Indonesia, agar komunikasi antar jemaah lebih lancar dan meningkatkan daya jual. 

Pembayaran bisa dengan SAR (Saudi Arabia Riyal) atau IDR (Indonesia Rupiah). Berbagai jenis kurma terdapat di sana, seperti Kurma Ajwa yang dibanderol dengan harga 100 SAR (sekitar 400.000 Rupiah) tiap 1 kg. Harganya tidak bisa ditawar, karena pedagang hanya karyawan yang bekerja untuk perusahaan.

Setelah puas berbelanja, kami di bawa mengunjungi Jabal Uhud, sebuah gunung yang kelak akan diangkat ke Surga, tempat yang menjadi saksi perjuangan perang Uhud antara Muslimin dan Kaum Quraish yang berakhir dengan kekalahan di pihak Islam akibat keteledoran pasukan meninggalkan posisinya sebelum diperintahkan Nabi. Di tempat ini syuhada sekitar 70 kaum muslim termasuk diantaranya paman Nabi Hamzah bin Abdul Muththalib.

Setelah tour ke tempat-tempat itu, kami kembali ke Hotel dan bersiap-siap untuk Shalat Dzuhur di Masjid Nabawi. Hari cukup panas, dahaga lepas setelah minum Zam-zam yang terdapat di area Masjid Nabawi.  

Ibadah selama tiga hari tidak terasa di sini. Ingin sekali rasanya berlama-lama shalat, memanjatkan doa, dan muhasabah diri di Medinah, kota Suci yang amat Indah, tenang, tentram dan damai. Satu dari dua kota yang tidak akan bisa dimasuki Dajjal kelak. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Mekkah ba’da Dzuhur, saya berdoa agar suatu waktu dapat diberi kesempatan untuk kembali ke Kota ini. Perjalanan selanjutnya adalah inti dari ibadah, yakni Mekkah. Kota yang memberi pengalaman tak terlupakan dalam perjalanan spiritual; Umrah.

 

Bersambung:

Mencari Hidayah di Makkah Al Mukarromah

 

_______

Pertanyaan Umum

Umrah atau Haji, sebaiknya mana yang lebih dahulu?

Jika ditanya mana yang lebih penting, tentu Haji adalah yang utama karena merupakan rukun islam ke lima (penyempurna). Akan tetapi melihat kondisi saat ini, di mana butuh waktu hingga 20 tahun setelah daftar baru bisa berangkat (daftar 2020 akan berangkat 2040), maka menurut saya sebaiknya umrah terlebih dahulu. Umrah merupakan Haji kecil, belajar dasar dari haji, dan mendapat ganjaran pahala/ ampunan yang tidak kalah daripada Haji.

Menurut saya, ketika Umrah, minta lah kemudahan kepada Allah agar kemudian diberikan kesempatan Haji. Apabila daftar haji terlebih dahulu, usia belum tentu sampai, akhirnya kunjungan ke tanah suci juga belum tentu segera terwujud. Alasan lain, bagi saya lebih baik putar kembali uang daftar haji untuk usaha daripada ‘menyetor’ uangnya puluhan tahun lebih awal. Keuntungan usaha itu kemudian gunakan untuk umrah dan lainnya ditabung hingga bisa daftar haji plus atau haji regular. Pertimbangan itu lah yang membuat saya akhirnya mantap untuk memilih umrah terlebih dahulu

 

__________

Catatan Kaki

[1] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anh berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga”.

[2] Masa berlaku paspor adalah lima tahun, dan saya telah meminta untuk ditambahkan nama agar menjadi tiga suku kata pada tahun 2015 sesuai peraturan untuk mendapatkan Visa Umrah yakni harus memiliki tiga suku kata. Jaga-jaga jika ada rejeki dalam lima tahun masa berlaku paspor itu, agar tidak sibuk mengurus penambahan nama lagi nanti. Padahal, saat itu untuk bayar kost  saja tidak sanggup dan baru mulai ingin mencari kerja atau usaha sampingan. Selengkapnya soal ini akan diceritakan di lain waktu

[3] Sebuah kalimat yang menjadi andalan banyak orang, termasuk saya dulu ketika sudah punya cukup uang, kemudian diberi nikmat kesehatan tetapi belum mau menunaikan ibadah ke tanah suci. Saat ini, saya merasa benar bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memanggil hambanya, tetapi belum tentu mau didengar dan datang. Panggilan adzan yang jelas-jelas merupakan panggilan untuk shalat saja diabaikan, bagaimana tahu ada panggilan untuk ke tanah suci jika tidak ada kesadaran? Maka dari itu, untuk teman-teman yang sudah membaca tulisan ini, sadarlah bahwa apabila sudah punya cukup uang dan diberi kesehatan, tunaikanlah. Banyak manfaat yang kita dapat seperti memperkuat iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

[4] Saya mengundurkan diri akibat terdapat masalah internal di dua usaha yang saya rintis sehingga harus memilih antara kuliah atau kerja. Soal ini akan diceritakan pada segment yang berbeda

[5] Dahulu merupakan area antara rumah Rasulullah dan Mimbar tempat beliau berkhutbah, disebut juga sebagai taman surga karena setelah hari kiamat akan diangkat ke surga untuk menjadi taman di sana. Saat ini menjadi bagian Masjid Nabawi dan menjadi salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa sehingga selalu dipenuhi jamaah dari seluruh dunia.

Please follow and like us:

  • 2

Bantah Ramalan Berat Badan Bersama Sean Setio Haliman

Category : Uncategorized

Foreword

Silahkan skip foreword berikut jika ingin langsung membaca cerita sesuai topik terbaru
_____
Sejak merantau ke Kota Padang Panjang, Sumatera Barat pada 2007 untuk melanjutkan pendidikan di MTsN Ganting (setingkat SMP) hingga saat ini, saya merasa bersyukur bertemu dengan banyak orang, kawan atau bukan kawan yang secara tidak langsung mengajari saya sebuah proses sosialisasi serta arti kehidupan. Proses sosialisasi justru lebih banyak terjadi di lingkungan saya setelah pindah ke rantau, bukan di rumah atau bersama keluarga. Meski tidak menafikkan bahwa peran orang tua dan saudara tentu tidak dapat disebut kecil, namun pada kenyataannya saya merasakan bahwa ternyata bertumbuh kembang di lingkungan yang baru, tanpa terkena bias pandangan dari orang-orang yang mengenal keluarga saya seperti di kampung halaman, sangat berdampak pada kepribadian saya hingga saat ini. Ketika di rantau, saya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak ada juga yang tau dan ingin tau sepertinya. Tidak ada teman Sekolah Dasar (SD) di MTsN yang akan membela saat ada pertikaian, menjatuhkan dengan mengungkit-ungkit masa lalu, atau mengolok-olok keluarga seperti yang beberapa teman-teman saya lainnya rasakan. Saya benar-benar berkenalan, membangun relasi, dan interaksi dari nol kembali.
____
Tulisan ini dibuat untuk mengenang, melampiaskan rasa syukur, serta wujud terima kasih kepada Allah SWT dan orang-orang yang ada dalam tulisan ini, karena saya dapat belajar banyak makna dan lika-liku kehidupan itu. Saat masuk SMA setelah lulus MTsN, saya telah berjanji bahwa akan menulis apa yang saya pelajari, rasakan, dan kenang bersama orang-orang terbaik yang pernah saya kenal. Bagi beberapa teman dekat, rencana ini sudah tidak asing lagi bagi mereka. Bulan mei 2019 lalu, keinginan menulis itu hanya sebatas wacana, belum terlaksana walau hanya sepatah kata “pendahuluan”. Ada banyak alasan yang tak perlu saya ungkapkan mengapa saat itu tulisan tidak kunjung dimulai. Terpenting adalah bahwa kali ini saya bertekad ingin menyelesaikan sebuah janji yang telah saya buat dahulu; yaitu berbagi.
Saya berfikir, apabila mati nanti, apa yang dapat saya tinggalkan? Saya ingin dikenang, tetapi saya bukan pejabat, bukan anak orang kaya, bukan ilmuan, bukan pula orang terkenal. Maka dari itu menurut hemat saya, menulis sebuah cerita tentang orang-orang yang berkesan dalam hidup saya bukanlah sesuatu yang berlebihan. Saya tidak memaksa dan akan memaksa kamu atau siapapun juga untuk baca tulisan ini. Jika kamu baca, artinya karena kamu tertarik atau penasaran, bukan karena paksaan. Saya juga tidak mengejar keuntungan, popularitas, dan lain sebagainya. Akan tetapi murni hanya ingin mencurahkan isi hati, fikiran, dan kenangan dalam bentuk tulisan, agar kalau meninggal nanti, ada sebuah karya yang dapat dikenang, minimal oleh orang-orang yang saya kenal dan namanya saya sebutkan dalam cerita-cerita ini.
Untuk semua orang yang saya kenal, terima kasih karena telah memberikan warna dalam hidup saya. Sekali lagi saya katakan bahwa, saya amat bersyukur atas segala yang telah saya lewati hingga saat ini. Banyak sekali kenangan, baik suka ataupun duka yang saya rasakan, yang sepertinya tak dapat saya simpan begitu saja seorang diri. Entah hal ini juga yang membuat saya akhir-akhir ini merindukan banyak teman-teman lama, sekedar bercerita atau bernostalgia. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua, atau minimal bagi orang yang diceritakan dalam tulisan.

Saya akan berusaha menceritakan kenangan bersama teman-teman dengan balutan cerita dan pembelajaran tentang kehidupan, bukan tulisan tentang biografi semata. Urutan dalam cerita ini bukanlah berdasarkan kedekatan atau satu point penilaian lainnya saja, tetapi karena sedang ingin menulis topik yang berkaitan dengan subjek tersebut. Tunggu saja tulisan lainnya, siapa tau kamu yang akan saya tulis berikutnya, Kwkw

_____

 

Sean: Orang yang Berbeda
Semenjak Sekolah Dasar, sejatinya saya sudah beberapa kali mengalami fase naik turun berat badan yang drastis. Kurus ketika balita, lalu gembul ketika SD, kurus lagi di jenjang MTs dan SMA, lalu mencapai puncak gemuk di saat setelah lulus kuliah. Saya sadar bahwa menjadi gendut tidaklah nikmat. Jalan sedikit sudah capai, ngos-ngosan, penyakit berdatangan, dan penampilan tampak lebih tua. 

Akan tetapi sejak tahun 2016 ketika kondisi ekonomi pribadi saya membaik, godaan makanan tak dapat dielakkan. Rencana menurunkan berat badan saya terus gagal, hingga beberapa teman yang mengetahui rencana saya untuk diet sudah menganggap rencana saya hanya sebagai dongeng. Tampaknya tidak ada lagi yang percaya, kecuali satu orang yang selalu menyemangati tiap bercerita tentang ingin kurus kembali, yaitu Sean, cowo kelahiran Jakarta 9 Juni 1998 yang merupakan junior saya di jurusan Antropologi FISIP UI. Meski telah mendengar keinginan saya untuk kurus berkali-kali,  seperti ketika makan bareng di Hanamasa menjelang bulan puasa 2018, hingga makan siang di kantin Fasilkom UI pada penghujung tahun yang sama. ia selalu menjawab “ya pasti lo bisa, iya semoga berhasil”, dibumbui aneka motivasi serta ditaburi kiat-kiat diet yang sehat. Sedikit flashback awal saya kenal Sean: bahwa pada mulanya saya bertanya kepada menti saya tentang apakah ia punya kenalan yang tertarik ikut lomba, lalu kemudian iya merekomendasikan Sean, hingga akhirnya kami sering bekerjasama dalam beberapa proyek dan event kampus.

Sean (Kanan) saat setingkat Sekolah Dasar | 2010

 

Saat itu seperti biasanya, obrolan kami terasa cair dan ke mana-mana, mulai dari soal ekonomi, asmara, pertemanan, dunia kampus, karir dan cita-cita, sampai bahasan tentang berat badan, wkkw. Saya mengatakan bahwa goal saya 2019 adalah menurunkan berat badan dan membentuk otot. Kami terus bertukar informasi, masukan, tips, atau cara-cara agar keinginan saya dapat tercapai hingga saat ini. Menurutnya, dan emang ketika saya lihat foto alay nya di FB (canda Se :v), ternyata jaman SD-SMP dulu ia gembul juga, lalu kemudian perlahan berubah hingga seperti saat sekarang ini. Intinya adalah, lakukanlah diet dengan benar, tidak asal-asalan dan tanpa pengetahuan. 

Membantah Ramalan
Sebuah ramalan online; primb*n.com mengatakan bahwa berdasarkan tanggal lahir, saya adalah orang yang akan memiliki perawakan berisi“, tidak berotot, dan “besar” . Tetapi… meski sebetulnya tidak percaya ramalan, saya sempat ragu karena memang beberapa yang diramalkan terasa tidak salah, seperti kegemaran traveling atau bepergian, apalagi kondisi saya saat itu sedang gendut, pas lah. Ramalan tetap ramalan, jika ramalan diucapkan oleh seseorang, bukan tuhan atau pencipta yang berkata dalam kitab suci-Nya, maka saya rasa sebaiknya tidak boleh memercayainya. Ramalan tentang berat badan sudah terpatahkan saat ini, karena saya sudah 65 kg, hanya kurang 5 kg untuk ideal dan sesuai target. Kini saya akan mencoba membantah bahwa berdasar tanggal lahir, saya bukanlah orang yang berotot, kwkkw. Jika tercapai, saya akan membahas ini lebih lanjut. Sekarang, saya akan berbagi informasi mengenai tips agar diet berhasil.

Diet Dijamin Berhasil dengan Cara Ini:

Saya terus diburu oleh teman-teman yang melihat postingan-postingan saya beberapa waktu belakangan, karena menampilkan perubahan berat badan saya dari yang tadinya 79.8 kg menjadi 65 kg hingga tulisan ini dibuat. Pertama-tama saya mohon maaf belum menjawab pesan-pesan yang masuk. Sejujurnya saya amat khawatir bahwa program turun berat badan kali ini sama seperti diet-diet saya sejak 2016 lalu: gagal. Alih-alih turun, berat badan saya terus naik perlahan. Emang iya, kalau naik atau turun, tidak mungkin langsung plek… 5 kg, 10 kg, tidak begitu. Ada juga naik 500 gram, lalu sekilo, satu setengah kilo, dua kilo, tiga kilo, dan seterusnya hingga kemudian sadar bahwa ternyata bentuk badan sudah berbeda. Jadi bukan tidak mau berbagi tips, tetapi takut tips nya tidak benar, keliru, atau saya sendiri gagal dan akan dianggap omong doang. Oleh karena itu saya berfikir “udeh, buktiin dulu deh lo berhasil” . Saat ini mungkin belum maksimal, karena berat badan saya masih berlebih 5 kg dari target, yaitu 60 kg. Tetapi melihat perubahan yang signifikan sejak bulan Mei 2019 lalu sampai saat ini sudah turun hampir 15 kg, saya merasa terlalu jahat kalau menyimpan info sendiri. Niat ingin kurus sejak tiga tahun lalu sebenarnya bukan karena cuma wacana, tetapi salah info dan kurangnya pengetahuan. Siapa bilang saya tidak berusaha, siapa bilang tidak mencoba, tetapi emang kenyataannya ilmu atau pengetahuan sangat penting dimiliki agar diet tidak salah.

Dalam tulisan ini ada peran dua tokoh, satu lagi adalah coach saya bernama Yuli, tetapi karena Coach Yuli menjelaskan sebuah produk yang saya pakai, sementara dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas detail hal itu, karena bukan ngiklan, kwkw. Bahasan mengenai Coach Yuli dan produknya akan dikupas pada tulisan lainnya

Saya melakukan berbagai kegiatan sesuai tips di bawah, berbeda dengan diet saya pada masa lampau yang tanpa pengetahuan yang cukup. Maka jika kamu berniat serius, cobalah beberapa tips berikut ini, yang juga saya rangkum dari Sean dan Coach Yuli.

1. Pahami hal tentang Kalori
Kalori adalah satuan / unit kandungan yang dihasilkan oleh berbagai makanan dalam bentuk energi yang dibutuhkan tubuh. Manusia butuh energi untuk beraktivitas, energi dihasilkan oleh makanan dan minuman. Akan tetapi kelebihan kalori menyebabkan penumpukan lemak, yang biasanya menyebabkan tubuh terlihat lebih gemuk. Saya sendiri sebenarnya berasal dari jurusan IPA ketika SMA, tetapi mungkin karena berbentuk hafalan atau teori tanpa memahami lebih lanjut, ditambah masuk jurusan sohum ketika kuliah, pengetahuan ini menjadi agak kabur. Ternyata, hampir semua makanan yang kita makan mengandung kalori. Silahkan googling untuk tiap jenis makanan, atau jika membeli makanan kemasan, lihat tulisan kandungan kalori di bagian belakang kemasan. Kebutuhan kalori tiap orang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, dan aktivitas harian. Pada umunya kebutuhan kalori berdasarkan Angka Kecupuan Gizi (AKG) adalah +- 2.000 an kalori. Angka ini tentu dapat berbeda pada tiap individu. Apabila paham tentang kalori ini, kita akan menjadi tahu dan bisa memilah-milah makanan mana yang baik untuk dikonsumsi
Intinya jika ingin program turun berat badan, sebenarnya sangat simpel, yaitu: konsumsilah makanan atau minuman di bawah batas kebutuhan kalori harian, tetapi jangan terlalu rendah karena akan berdampak buruk kepada kesehatan. Jika ingin naik berat badan, maka cukupi asupan kalori di atas kebutuhan, sangat simpel. Serta apabila ingin mempertahankan, maka cukupilah sesuai kebutuhan. Setelah paham mengenai konsep ini, barulah program diet berikutnya akan terasa mudah.

2. Hindari gula dan makanan berminyak
Gula yang dimaksud di sini termasuk kepada minuman-minuman manis, bersoda, dan yang mengandung gula lainnya, sedangkan makanan berminyak jelas seperti gorengan, sayuran yang menggunakan minyak dan aneka olahan menggunakan minyak lainnya. Bayangkan, mengonsumsi sayuran saja belum tentu sehat, terutama apabila dicampur minyak seperti tumis dan sebagainya. Banyak penjual makanan yang ngakunya juga makanan sehat, belum tentu sehat karena bercampur mayonaise dan berbagai komposisi yang tinggi kalori lainnya. Gula dan minyak mengandung kalori yang cukup tinggi, bisa mencapai 380-an kalori tiap 100 gram! begitu juga makanan berminyak, kamu bisa caritahu sendiri dengan mengetik kata kunci “kalori xxx, contoh: kalori gorengan”, maka akan muncul hasil info kalori.

3. Ganti pola makan
Setelah memahai tentang kalori, saya menjadi sadar bahwa “ternyata ini toh yang buat diet saya selama ini gagal” . Saya hanya sebatas tau, bahwa hindari makanan berminyak, gorengan, minuman manis atau bersoda, nasi putih diganti nasi merah, olahraga, dan lain sebagainya tanpa tahu maksud dan maknanya. Saya tidak bisa menghitung kalori yang telah saya konsumsi, sehingga merasa akan kurus, tetapi ternyata gagal. Saya pernah benar-benar tidak mengonsumsi nasi selama berbulan-bulan, tetapi tetap saja gemuk karena ternyata makanan yang saya konsumsi lainya mengandung kalori yang juga cukup tinggi. Saya makan dimsum, mengira karena dikukus maka baik untuk diet, ternyata salah besar. Kalori dari dimsum juga cukup tinggi, yaitu sekitar 133 kalori per potong, dan biasanya kita mengonsumsi lebih dari dua. Saya biasanya empat hingga lima, bisa dihitung sendiri berapa kalori yang telah masuk.  Saya juga sarapan dengan lontong sayur, bubur ayam, ketoprak, dan makanan lain selain nasi. Tetapi ternyata sarapan ini juga kurang baik. Tetap saja kalori yang terkandung pada tiap porsinya sangat besar.

4. Rajin-rajin berpuasa
Sekali lagi, setelah paham mengenai konsep kalori, kita akan tahu mengapa puasa dapat menurunkan berat badan, karena otomatis jumlah kalori yang masuk juga biasanya relatif lebih rendah. Maka dari itu, rajin-rajinlah berpuasa, tetapi ingat bahwa jika niatnya untuk menurunkan berat badan, pahala urus dengan yang kuasa saja ya! Saya tidak bisa judge tidak akan dapat pahala juga karena saya bukan tukang hitung amalan seseorang 🙂

5. Perbanyak minum air putih
Hal yang juga Sean sering sampaikan adalah banyak minum air putih. Konsep ini diperkuat oleh Coach Yuli dan tenaga medis lainnya, karena mengonsumsi air putih dapat membakar lemak. Tubuh membutuhkan 1 Liter air tiap 25 kg berat badan. Maka apabila berat badanmu 50 kg, maka kebutuhan air adalah 2 Liter. Untuk turun berat badan, maka kalikan dua kebutuhan harian itu (misal 50 kg maka harus minum 4 Liter). Akan tetapi jangan berlebihan juga, karena dapat memengaruhi fungsi ginjal
Coba perhatikan apapun obat dietnya, pasti disuruh minum air putih yang banyak. Saya sadar setelah tahu tentang manfaat air putih ini. Sampai-sampai pernah berfikir, sebetulnya obat diet itu bukan 100% membuat kurus/ menurunkan berat badan, tetapi dibantu oleh aktivitas dan faktor lainnya

6. OIahraga teratur
Sekali lagi, konsep utama diet ini adalah tentang kalori. Berolahraga dapat membakar kalori. Sebagai contoh, berjalan 4 km dalam 40 menit dapat membakar 300 kalori. Bagi orang yang dalam proses menurunkan berat badan, menurut hemat saya seperti yang dikatakan Sean adalah dengan olahraga lari. Ketika tahu hal ini, saya membeli sebuah treadmill. Akan tetapi, walau telah dibeli pada Februari 2019, treadmill saya akhrinya dapat rutin terpakai tiga bulan kemudian, yaitu setelah bulan Mei karena point 7. Pada awalnya saya hanya sanggup berjalan 2 km selama 30-40 menit, lalu intensitas saya tingkatkan hingga saat ini konsisten di jarak tempuh 4 km dalam 30-40 menit. Kamu orang yang ‘tidak ingin buang waktu’? ya sama seperti saya, pada awalnya saya merasa buang-buang waktu untuk treadmill. Akan tetapi saya mencari cara bagaimana agar bisa rutin dan tidak bosan. Saya menonton serial/ drama/ film yang durasinya di atas waktu saya tredmill, sehingga fikiran saya teralihkan pada film yang saya tonton, tanpa berasa sudah membakar kalori cukup banyak. Oia saya sudah tonton Star Wars dari episode 1 sampai episode 8, direkomendasikan oleh Sean juga, lalu ATM Rak Error Season 2 yang terdiri dari 23 episode, drama Korea seperti Phinokio, City Hunter, serta Goblin yang berjilid-jilid juga episodenya, semuanya ditonton ketika sedang treadmill, wkwkw

7. Konsumsi Herbalife
Saya tidak iklan, endorse, atau jualan. Menurut saya, pada dasarnya semua obat/ program diet (yang tersertifikasi dan sesuai standar) sama saja. Mereka akan menyarankan tips-tips yang juga sudah saya jelaskan pada nomor 1-6 seperti minum air yang banyak, tidur yang cukup, jaga pola makan, dan sebagainya. Tetapi dari sekian banyak produk yang saya coba, mulai dari yang berbentuk pil hingga susu, namun akhirnya saya jatuh hati pada Herbalife. Mereka tidak hanya ‘jualan’ produk, tetapi benar-benar membina, menyemangati, memberi motivasi, dan tentu mengawasi agar program kita berhasil. Kita akan otomatis di bina oleh Coach yang sesuai standar perusahaan. Selain itu,  Herbalife memiliki produk-produk yang rendah kalori dan dapat memenuhi asupan nutrisi. Konsep kalori memang mudah diucapkan, tetapi belum tentu dapat terlaksana dengan baik. Pengurangan asupan nutrisi karena mengurangi kalori dapat menyebabkan kecapaian, tidak bersemangat, dan kurang tenaga. Akan tetapi di herbalife, kesulitan menerapkan cara itu akan dapat diatasi. Sebagai contoh produk shake nya saja, hanya mengandung 70 kalori dalam tiap penyajian! Shake ini dikonsumsi sebagai pengganti sarapan. Bayangkan bahwa yang sarapan anda tadinya lontong sayur, ketoprak, atau bahkan nasi Padang dengan jumlah kalori hampir 500-700 an, langsung berubah menjadi hanya 70 kalori. Agar kenyang lebih lama, maka tambahan pisang sangat dianjurkan. Meski ditambah pisang, jumlah kalori yang masuk tetap hanya akan 120-150 an kalori saja, sangat kecil! Saya tidak akan menjelaskan dan jualan produk di sini. Tulisan ini tulus untuk berbagi kepada teman-teman yang juga punya keinginan untuk menurunkan berat badan.

Foto Bekam di Kaki, tampak darah agak berbusa

Andai gemuk itu sehat, maka tidak masalah saya gemuk. Persoalannya adalah, banyak penyakit bersarang pada orang gemuk, karena orang gemuk sudah pasti memiliki lemak berlebih, dan orang yang memiliki lemak berlebih akan mendapati banyak penyakit. Saya telah mengalami ini sendiri. Saya bersyukur karena tersadarkan pasca lebaran kemarin, punggung telapak kaki saya sakit seperti terkilir. Berjalan juga susah karena sakit. Awalnya saya fikir karena kecapekan, atau karena jarang jalan, kemudian saya ke tukang pijit dan tidak juga ada hasil, hingga saya menjalani proses Bekam, mengeluarkan darah kotor yang ada di tubuh, termasuk bagian kaki saya. Menurut therapist nya, kolesterol saya tinggi. Ini dibuktikan dengan darah yang ke luar berbusa-busa. Selain itu, saya juga mudah lelah, tidak berstamina, dan tidak semangat dalam hidup. Akan tetapi, setelah mengonsumsi herbalife ini, saya dapat menemukan semangat hidup saya kembali, termasuk untuk menulis tulisan ini

8. Jangan begadang
Proses detoksifikasi tubuh terjadi pada malam hari kisaran pukul 22.00-05.00, begadang dapat meningkatkan insulin dalam tubuh yang memicu rasa lapar sehingga mengirim sinyal ke otak untuk makan dan otomatis menambah kalori yang masuk ke tubuh. Saya kemudian teringat masa – masa skripsi, di mana memang saya sering sekali begadang dan pada akhirnya mengonsumsi makanan cepat saji dan tinggi kalori.

9. Motivasi diri
Hal terpenting dari seluruh tips di atas adalah, kita harus memiliki motivasi diri. Sebagai contoh, motivasi saya untuk diet adalah karena ingin sehat. Saya sadar bahwa banyak penyakit yang saya derita adalah berhubungan dengan berat badan berlebih. Saya ingin baik-baik saja, ingin berkarya, dan bermanfaat bagi sekitar, maka saya termotivasi untuk sehat dan bugar. Carilah hal yang bisa memotivasi kamu untuk terus semangat menjalani programnya. Jangan menyerah ketika berat badan turun sedikit. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tidak mungkin berat badan turun langsung 5 kg atau 10 kg. Saya meng-abadikan tiap proses perubahan berat badan saya, dari yang hanya turun ratusan gram, kemudian satu kilo, beberapa kilo, hingga total saat ini sudah hampir 15 kg! Saya ingat betul beberapa teman saya meledek “cuma turun 100 gram, itu minum segelas air juga naik lagi”; “Halah cuma turun sekilo, itu karena belum makan siang aja, nanti abis makan juga naik dua kilo” dan masih banyak ucapan-ucapan yang bisa membuat demotivasi lainnya. Jangan hiraukan ucapan-ucapan serupa itu. Anggaplah hanya candaan mereka saja dan tetap fokus pada tujuan kita. Lalu masalah biaya, cobalah untuk berhitung kembali, apakah iya diet itu mahal? Diet untuk sehat mungkin memang mahal, tetapi jatuh sakit jauh lebih mahal (biaya pengobatannya)

Itulah beberapa tips diet dari saya, diolah dari berbagai sumber bacaan dan tips serta informasi dari Sean. Saya bersyukur mengenal Sean, orang yang selalu percaya saya dapat berhasil diet. Mungkin sepele, tetapi ucapan-ucapannya yang selalu positif membuat saya menjadi yakin dan bersemangat. Ramalan tentang perawakan yang berisi dan bertubuh gendut telah saya patahkan, berkat keyakinan dan bantuan Sean, Orang yang pengen nyalon jadi Abang Jakarta Utara setelah lulus kuliah katanya, aamiin, Insha Allah.

Depok, 2  Oktober 2019

_______

Kirimkan komentar atau pertanyaan kamu seputar saya, untuk dibahas pada tulisan berikutnya. Contoh: Kak, lebih enak jaman kuliah atau jaman udah kerja?

Pertanyaan yang baik dan apabila berasa bermanfaat akan saya jawab dan share 🙂

Please follow and like us:

  • 0

Urus Pindah KTP buat Lajang dan Rumah Sewa, Mudah!

Category : Uncategorized

KTP Baru: Depok

Mungkin banyak diantara teman-teman dari daerah yang sudah bekerja, namun belum menikah masih menggunakan KTP daerah / asalnya, sehingga terkendala pada banyak administrasi seperti; buka tabungan, beli kenderaan, tanah, atau rumah.

Maka ketika kamu baca tulisan ini, kamu beruntung karena artinya kamu riset, cari tahu, atau belajar terlebih dahulu. Jangan seperti saya yang terlalu cepat minta urus ke kampung, baru kemudian googling, baca blog, baca pengalaman orang-orang yang ganti KTP juga setelah dapat SKP (Surat Keterangan Pindah WNI). Ganti KTP berarti ganti KK (Kartu keluarga), artinya teman-teman harus keluar dari KK lama, kemudian membuat KK baru terlebih dahulu. Saat ini, membuat KK tidak perlu lagi telah menikah. Bagi teman-teman yang masih single dan sudah bekerja, sudah bisa membuat KK sendiri. Artinya di KK itu, kepala keluarganya adalah anda sendiri, dan anggota keluarganya juga sendiri :(. Berbeda dengan dahulu, di mana harus sudah menikah, atau “nompang” KK keluarga di tempat yang ingin dijadikan alamat KTP.
Oke, nanti aja ceritanya. Sekarang saya jelaskan dulu cara pindah KTP buat teman-teman yang bekerja di luar daerah asalnya.
1. Datang ke RT (di Sumatera Barat biasanya disebut juga Jorong) untuk minta surat pengantar pencabutan KK, biasanya sudah ada format khusus
2. Minta surat keterangan dari RW (di Sumatera Barat biasanya disebut juga Desa), dengan membawa surat dari RT tadi
3. Datang ke kelurahan / Nagari membawa KK Asli dan surat pengantar dari RT dan RW. Proses ini memakan waktu hingga 10 hari kerja, tergantung daerah masing-masing

Anda akan dapat Surat Keterangan Pindah WNI (SKP WNI). Kemudian, datang ke DISDUKCAPIL (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil) Kota. Sebelumnya agar tidak bolak-balik, harap siapkan persyaratan berikut:

  • a. Asli dan Fotocopy 2 rangkap SKP WNI dari daerah asal
  • b. Asli dan Fotocopy 2 rangkap biodata masing-masing yang pindah (biasanya dapat bersama SKP)
  • c. Asli dan Fotocopy KTP Elektronik yang lama. Buat jaga-jaga, saya buat 2 rangkap masing-masing, yakni KTP fotocopy di potong dan berada di satu kertas A4 Full
  • d. Fotocopy buku nikah/ akta perkawinan (kalau single lewatin aja)
  • e. Fotocopy KK daerah asal
  • f. Fotocopy akta kelahiran anak jika kurang dari 17 tahun
  • g. Fotocopy KK wali jika belum 17 tahun
  • h. Surat kuasa jika pengurusan diwakilkan

    Tanda terima berkas di DISDUKCAPIL

Saya hanya melengkapi berkas a,b,c, dan e, kemudian langsung dapat tanda terima berkas SKP WNI. Proses 5 hari kerja.

4. Kemudian, kembali ke DISDUKCAPIL (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil) untuk mengambil surat dari DISDUKCAPIL kota tempat baru yang ingin dituju.
Anda harus ke kelurahan. Akan tetapi, anda harus ke RT dan RW tempat anda tinggal (yang baru) terlebih dahulu, meminta surat keterangan/ pengantar. Prosesnya sama seperti nomor satu dan dua.

5. Datang ke kelurahan mengantarkan semua berkas, yakni: Surat dari DISDUKCAPIL, pengantar dari RT dan RW, serta mengisi formulir permohonan pindah KK dan KTP. Proses 14 hari kerja.
Karena tidak sabar, saya iseng datang ketika masih 9 hari kerja, dan ternyata KTP saya sudah jadii!! yeay, ternyata mudah ya. Syukurnya lagi, foto di KTP baru saya masih foto lama, jadi masih terlihat muda, wkkwkw. Sayangnya, KK belum jadi karena kata petugas di sana, minimal memang 14 hari kerja. Tapi it’s okay, saya sebenarnya paling butuh ya KTP. kwkwk

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat.
Bagi teman-teman yang sudah biasa berurusan birokrasi di negeri ini, pengurusan ini tidak terlalu sulit kok.

Please follow and like us:

  • 0

Happy Birthday Bu Meutia!

Category : Uncategorized

Note : Tulisan ini berisi pujian-pujian kadar tinggi, hindari membaca sampai habis karena beresiko membuat anda cemburu terinspirasi, atau kagum kepada tokoh.

 

01 meutia

Bu Meutia bersama tiga anak bimbingannya, yang tinggi paling ganteng :v

Mungkin, inilah salah satu jawaban mengapa saya memilih jurusan Antropologi: Meutia Farida Hatta Swasono. Seorang guru besar yang amat saya kagumi, bahkan sebelum mengenal beliau. Jadi penulisan cerita ini bukanlah untuk “menjilat” beliau karena merupakan dosen pembimbing saya, melainkan ungkapan cinta yang sudah muncul lama, yang membuat saya meminta beliau untuk memilih saya menjadi anak bimbingannya ketika rapat penentuan pembimbing bulan desember lalu.

Tampaknya, kekaguman kepada Bung Hatta, proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia inilah yang menular kepada sang anak yang kini menjadi Dosen Pembimbing Skripsi saya. Tidak perlu mendeskripsikan keteladanan Bung Hatta, karena saya yakin informasinya sudah banyak beredar di buku-buku, koran, media online, dan sebagainya. Sumpah Bung Hatta untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka hingga gagal membeli sepatu Bally yang amat ia inginkan demi menolong sesama cukup menjadi bukti keteladanan sang proklamator. Sifat itu juga yang mengalir persis di jiwa Bu Meutia, anak pertama Bung Hatta yang lahir pada 21 maret tahun 1947 lalu di Jogjakarta.

Ketika akan masuk kuliah, banyak orang mengatakan tidak akan ada dosen yang “menagih” tugas  kepada mahasiswa seperti di SMA. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi bu Meutia. Beliau selalu mengingatkan saya dan seluruh anak bimbingannya yang agar mengumpulkan tugas tepat waktu. Meski tidak ada sanksi seperti di SMA, perlakuan yang beliau berikan membuat saya dan beberapa teman malu sendiri untuk  bertemu dengannya. Dosen yang fokus pada kajian Antropologi Psikiatri ini tampaknya sadar cara-cara membuat seseorang merasakan sanksi sosial seperti malu. Masih terbayang ketika ia menghubungi saya, meminta untuk bimbingan,  mengingatkan peter untuk segera menemui beliau, serta menanyakan keberadaan Zani[1] yang tak kunjung datang menemuinya.

Penelitian saya di Cirebon tahun lalu, takkan berhasil tanpa bantuan beliau. Cara meneliti, substansi tulisan, bahkan judul penelitian pun merupakan sumbangsihnya. Ia dengan senang hati ikut berfikir, memberi masukan-masukan berharga, tanpa “menyembunyikan” ilmu dan menyuruh anak didiknya mencari tahu jawaban sendiri. Sebuah gaya mendidik klasik, yang mulai jarang ditemui. Tidak bermaksud mengatakan cara mengajar dosen lain salah, tetapi membuat saya sangat terkesan dengan cara mengajar seperti ini.

Suatu ketika saya membuat janji untuk bimbingan. Namun menjelang waktu yang ditentukan, beliau mengabarkan bahwa terjebak macet. Lantas ia menelepon saya dan membimbing selama perjalanan. Apakah ada dosen lain yang menelepon mahasiswanya selama lebih dari 15 menit sebagai ganti karena tidak bisa bimbingan seperti ini? Ketika minder dengan hasil penelitian, beliau terus menyemangati dan memberi arahan, dan masih banyak kenangan lain. Kebaikan hati beliau ini menghipnotis saya untuk mengatakan kepada dunia tentang sifatnya yang mulia itu, agar dapat diteladani.

Gaya mengajar dan kepedulian kepada anak didik merupakan buah dari keikhlasannya membagi ilmu. Bu Meutia yang merupakan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden SBY ini pernah bercerita mengenai kegemarannya mengajar, sebuah cita-cita sedari kecil. “Saya tetap mengajar, jadi pekerjaan utama saya itu ya mengajar, menteri menjadi sampingan” ujarnya sambil tertawa kecil. Meski demikian, ia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik dan sepenuh hati. Beberapa karya terbaik beliau ketika menjabat seperti penerapan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), pembuatan Undang-undang No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) serta pembuatan undang-undang Pornografi untuk melindungi anak-anak dari bahaya pornografi. Hal inilah yang selalu menginspirasi saya, sebuah bukti nyata bahwa sejatinya Antrop amat diperlukan serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Sayangnya, waktu terus berlalu tanpa kompromi.  Umur terus bertambah, kini Bu Meutia sudah berusia 70 tahun. Tahun ini merupakan tahun terakhirnya mengajar karena sudah pensiun. Artinya, saya, Peter, dan Zani adalah tiga orang laki-laki yang menjadi mahasiwa bimbingan terakhir beliau. Tiga orang mahasiswa yang amat setia, yang  sudah “memilih” bu Meutia sebagai pembimbing sejak mata kuliah Etnografi tahun lalu sebelum lanjut ke Skripsi. Selamat ulang tahun buk, tiada kado terbaik selain doa. Doa saya, semoga ibuk tetap diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT, agar  dapat  terus menebar manfaat bagi manusia. Semoga seluruh kebaikan hati ibuk dibalas tuhan dengan pahala dan surga, Insha Allah.

[1] Anak bimbingan lain bu Meutia.

Please follow and like us:

  • 6

Menipu Penipu

Cara terbaik menjebak penipu adalah dengan berlagak seperti 

 orang paling bodoh dan lugu, melebihi saat awal tertipu”

01

Foto dari Kiri ke Kanan : Bripka Agus Kristanto – Kapolsek AKBP. Ronald A. Purba, S.I.K, M.Si – Saya – Kompol Irwansyah Putra, ST

Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendoakan, menghibur, mendukung, serta membantu menyelesaikan proses kasus ini. Terima kasih kepada Polsek Metro Menteng, khususnya Kapolsek AKBP. Ronald A. Purba, S.I.K, M.Si beserta jajaran; Unit Reskrim Polsek Menteng dibawah komando Kompol Irwansyah Putra, ST beserta anggota; Bripka Agus Kristanto dan  Brigadir Oloan Sinabutar, anggota tim 3 yang sudah membantu saya secara khusus dari awal hingga akhir; serta tim buser (buru sergap) Polsek Metro Menteng yang paling berperan dan terjun langsung ke lapangan yakni Aipda Robi Danan Jaya, Aiptu Karsiwan, Bripka Chandra Nur. W, Bripka Herman Fadilah, serta Bripka Aris Alimudin. Tulisan ini dibuat sebagai apresiasi kepada POLRI yang terus berbenah memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya Polsek Metro Menteng yang secara intens membantu meski saya membuat LP di Polda Metro Jaya; pihak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan, pelajaran bagi kita semua agar lebih berhati-hati dan waspada, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak hanya berdiam diri menunggu nasib, namun terus mendukung kinerja aparat dan bersinergi dengan berbagai pihak. Selain itu, tulisan ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban saya kepada banyak pihak yang telah saya buat penasaran akibat postingan pasca penipuan. Adapun postingan tersebut wajar mengingat kekhawatiran saya atas penggunaan data yang tersimpan pada laptop untuk hal hal yang tidak diinginkan. Postingan yang berbunyi himbauan agar tidak menggubris / menanggapi jika ada pihak yang mengatasnamakan saya karena laptop hilang cukup membuat banyak orang penasaran. Kepada seluruh sahabat, teman, hingga keluarga yang tidak sempat saya jawab, ini adalah jawaban dari rasa penasaran tersebut. Nama-nama pada cerita dibawah akan disamarkan untuk melindungi privasi dan menghindari berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Rabu, 4 Januari 2017 saya bertemu  dosen untuk bimbingan terakhir sebelum memulai skripsi. Beliau menyanggupi untuk menjadi pembimbing skripsi saya dengan topik penelitian tentang identitas suku bangsa Mandailing asal Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat di rantau. Hal ini sekaligus membuat saya harus “pulang kampung” selama lebih kurang dua bulan untuk penelitian skripsi tersebut.  Sadar akan mengalami penurunan pemasukan akibat tidak bisa mengontrol penuh usaha yang saya jalankan di Depok membuat saya berencana menjual Macbook yang baru saya beli tiga bulan lalu. Rencananya uang penjualan Mac tersebut akan saya gunakan untuk Trading. Keinginan untuk menjual Mac itu sebenarnya tidak lebih besar daripada keraguan untuk menjual laptop apple tersebut. Akibatnya, belum ada satupun data yang saya backup. Selain itu iklan di OLX yang sudah saya pasang sejak beberapa hari sebelumnya juga masih sepi peminat.  Beberapa orang bertanya, namun tidak ada harga yang cocok. Kemudian terdapat satu orang yang tampaknya serius. Pukul 23.25 WIB hari itu saya dihubungi via whatsapp. Dua jam kemudian (Kamis dini hari) setelah saya jawab, dia meminta untuk mengantar barang ke Kantor Departemen Keuangan, untuk audit pajak. Gila ini orang, pikir saya. Saya menolak dan mengatakan kalau mau siang aja.

Kamis, 5 Januari 2017 ada forum Angkatan jurusan dari sore. Saya tidak mau melewatkan acara kumpul terbesar angkatan ini. Hari belum berganti,  pukul 18.24 ia kembali menghubungi saya menanyakan apakah barangnya bisa diantar malam itu. Walaupun belum sempat memindahkan data, saya menyanggupi. Calon pembeli gelisah. Tampaknya ia sangat serius dan butuh. Ia berharap masih bisa diantar malam itu. Ia juga siap mengganti ongkos saya. Kemudian saya meminta alamat lengkapnya. Saya mengajak teman saya Park untuk bertemu calon pembeli. Setelah pulang ke kontrakan, hujan turun cukup deras. Park yang harusnya menemani ketemuan menjadi tertahan akibat hujan. Ketika hujan reda, saya mengajak park untuk meminjam Hardisk milik salah satu teman saya Rizal terlebih dahulu. Karena kampus sudah tutup, kami harus memutar arah melewati jalur yang cukup jauh untuk menuju indekos teman tersebut. Pukul satu dini hari, saya tiba di kontrakan setelah Park saya antar ke kontrakannya karena malam ini batal COD. Saya mencoba memindahkan data, sayangnya Hardisk tersebut tidak compatible dengan Mac milik saya. Setelah lelah mencari berbagai cara seperti mendownload software untuk merubah jenis system di HDD tersebut, saya menyerah. Saya mengatakan kepada calon pembeli bahwa baru akan bisa memindahkan data Jumat siang dan bisa ketemuan sore hari. Calon pembeli masih berharap bisa diantar malam itu juga. Ia mengatakan masih bangun sampai pukul tiga dini hari.

Jumat, 6 Januari 2017 pukul  05.15 calon pembeli meminta izin untuk menelepon

Halo mas Sanul, gua Febri. Begini mas, jujur gua ini editor video. Gua pagi ini bakal presentasi project video ke investor. Gua butuh Mac nya karena cuma Mac seri itu yang bisa baca file presentasi gua[1]. Mac gua rusak dan stuck di bagian apple nya. gua udah cari-cari seri itu tapi gak ada. Mau beli baru sayang uangnya.”

Kemudian saya menjawab “begini mas, maaf sebelumnya, sebenernya saya gak niat banget jual tuh Mac. Saya masih mikir juga, soalnya sayang masih baru”.

“Lah terus kenapa dipasang iklannya? Emang awalnya mas kenapa mau jual?” Tanya Febri lagi.

Satu sisi saya keberatan mas dengan Mac nya, pakai Office gak ori suka hang”tapi kalau difikir fikir sayang juga karena  masih baru.

“Oh kalo Cuma office mah gua ada, entar lo gua kasih, cuma tolong banget bantuin gua dulu”

“Gila, baik banget nih orang”, Pikir saya. Tidak ada sedikitpun rasa curiga. Sepertinya saya  termakan konsep timbal balik dan simpati atau resiprokal[2] seperti yang Mangkunegara (2005) katakan. “Tapi mas, kalau saya tidak jadi jual nanti bagaimana?” Tanya saya.“Gak apa-apa. Lo udah mau bantuin gua juga udah syukur” jawab Febri.

Akhirnya saya memutuskan untuk menemui mas Febri. Saya masih ada waktu berfikir di jalan dan ketika ia presentasi. Toh nanti kalau gak jadi jual juga gapapa, itung-itung bantu orang.

Pukul 07.00 saya menuju stasiun Gondangdia, tempat kami janjian ketemu. Semoga keburu karena jam 08.30 katanya mas Febri sudah harus presentasi. Pukul delapan kurang, saya sudah sampai di stasiun Gondangdia. Mas Febri bilang tunggu sebentar, lagi otw. Pukul 08.15, sebuah Ninja berwarna Orange datang mendekat dengan suara mesin khasnya. Tidak salah lagi, itu mas Febri. Saya kemudian disuruh menaiki motor gede buatan Kawasaki itu tanpa sempat jabat tangan. Kesan pertama yang baik semakin meyakinkan saya dan tidak terfikir sedikitpun akan hal buruk yang nanti akan terjadi.  Saya dibawa menyusuri jalanan kota Jakarta sambil bercengkrama, menuju seven eleven di kawasan Sabang. Motor parkir, kami masuk ke mini market untuk membeli minuman. Selama 30 menit kami membahas banyak hal. Mas Febri mengatakan presentasinya diundur jadi pukul Sembilan. Saya seperti terhipnotis dengan kata-kata mas Febri.

02

Motor yang digunakan pelaku, Ninja 250 CC

Tidak ada perasaan curiga, apalagi ketika dia setuju tetap mentransfer uang sebagai jaminan karena  saya meminjamkan laptop itu. “Gapapa mas, yang penting saya tinggalin KTP dan Transfer uangnya”. Entar kalo gak jadi tinggal transfer balik aja” katanya. Tanpa fikir panjang, saya mengiyakan. Kemudian saya dibawa menuju MNC Tower, tempat ia presentasi. Sayangnya, saya diturunkan di Circle K perempatan jalan Kebon Sirih dekat MNC. “tunggu sini aja, lobi MNC tidak ada kursi”.

Inilah kali terakhir dan  hal paling bodoh yang saya lakukan[3]. Saya begitu mudah percaya. Bahkan ketika ia menunjukkan bukti transfer mbanking ke rekening saya, saya tidak sempat cek. Lebih parah lagi ketika ia menyuruh saya  “mas kalau mau foto, foto aja”. Saya tidak sama sekali melakukan itu. Saya percaya, sungguh sangat percaya.  “Paling lama saya satu jam mas. Nanti kalau ada yang telepon, diangkat aja. Paling itu dari kantor buat ngecek apa bener saya beli Mac” kemudian ia berlalu pergi.

Ketika duduk, barulah saya membuka HP, mengecek saldo via mbanking. Hasilnya, saldo belum bertambah. Mungkin pending, fikir saya. Satu jam berlalu. Belum ada tanda-tanda mas Febri muncul. Saya mulai gelisah. Apalagi saldo belum juga berubah. Battery low, Powerbank ketinggalan di tempat Forkat semalam. Saya coba sms karena telepon tidak diangkat. Bukannya mendapat jawaban untuk segera bertemu, ia malah meminta untuk memberikan dus Mac kepada kurir Gosend yang sudah ia pesan. Mas Febri masih coba meyakinkan dengan berbagai alasan.

Katanya butuh box untuk registrasi di kantor. Saya mulai curiga. Desakan dari gosend dan mas Febri yang harus segera meregistrasi barang membuat fikiran saya bergejolak. Disatu sisi mulai khawatir, namun sisi lain takut membuat mas Febri kecewa kalau barang gagal di registrasi. Driver gosend datang dengan muka masam, sambil mengomel kalau ia merasa dibikin muter-muter. “Bapak gimana sih, katanya di Sevel, kok malah disini?” Ya mana saya tau pak, saya bukan yang pesen, salah yang pesen lah” Driver yang tidak sabaran terus mendesak. “mas buruan, udah lama nih, kecuali mas mau tambah (fee)” celotehnya. “bentar ya pak, ini saya COD ama orang, duitnya belum masuk” jawab saya sambil memberikan uang 15 ribu. “Box ini salah satu bukti kepemilikan saya. Kalau box ini ilang, saya ga bisa klaim asuransi. Kalau ada, saya bisa klaim dan dapat ganti” saya coba jelaskan walau sepertinya driver paruh baya itu tidak mengerti sama sekali.

“gak gitu deh pak, bapak nanti coba fotokan orang yang terima barang. Tadi saya lupa foto. Nanti dengar instruksi saya” jelas saya kepada driver itu. Setelah mengiyakan, ia berlalu dengan buru-buru. Pada waktu yang bersamaan, saya masih terus berkomunikasi dengan Mas Febri. Akhirnya ia menyuruh saya menemuinya ke MNC Tower Lantai 9, Ruang Produksi. Saya disuruh menemui wakil manager bidang produksi tersebut. Tanpa buang waktu, saya segera ke lokasi yang diminta. Harapannya, dapat segera dipastikan ini benar atau penipuan. Setelah berjalan cukup jauh dari Circle K menuju MNC Tower, saya mencari orang yang disebut. Hasilnya? TIDAK ADA. Fix ini penipuan. Saya segera menghubungi driver gojek. Satu panggilan tidak terjawab, mungkin masih di jalan. Panggilan kedua diangkat “Pak, sudah kasih barangnya? Tolong jangan dikasih pak, saya ditipu” saya berteriak dari balik telepon. “kalau gak kasih,  saya gak dapet pak (bayaran)” ujar si driver gojek sambil menutup telepon. Sial, kurang ajar juga main matiin aja. Lalu saya sms dan katakan “saya akan  bayar pak, tolong pak saya ditipu, dsb” namun tidak ada respon. Saya coba telepon kembali “pak sudah kasih belum?” driver jawab “orangnya lagi nyebrang, iya iya ini udah dekat” ia kembali menutup telepon tanpa mendengar instruksi saya. Tidak lama kemudian, sebuah gambar diterima via whatsapp.

IMG_5095

Hasil Jepretan driver Gosend, gak usah di sensor ya, udah blur juga

Oh syukurlah bapak itu foto juga. Eh bentar…. Sh*T, fotonya blur! Kayak foto dengan jenis CIF (0.3 Megapixel). Saya tertipu. Barang sudah lenyap bersama dus-nya. Adzan berkumandang. Awalnya saya enggan untuk jumat, namun kemudian sadar, saya butuh menenangkan diri.

Febri selanjutnya disebut sebagai pelaku.

Saya terus menghubungi pelaku, tidak habis fikir ditipu. Banyak pesan singkat saya kirimkan yang berisi permintaan untuk mengembalikan data saja. Saya sangat butuh data itu karena tidak ada backup-an sama sekali. Saya berjalan menuju Circle K,  berharap ada rekaman cctv yang bisa menjadi barang bukti. Namun usaha gagal karena tidak ada teknisi disitu. Kemudian saya menuju Sevel, tempat pertama bertemu. Setelah memohon dan menjelaskan kepada petugas, akhirnya saya mendapat foto yang di shoot dari HP petugas itu sendiri. Jumlahnya tidak banyak, hanya 4 buah foto. Itupun dengan sudut gambar yang kurang baik. Tapi cukuplah untuk menjadi barang bukti dan petunjuk mencari pelaku.

07

Foto Pelaku ketika di 7-11

Setelah punya cukup bukti, saya menuju kantor polisi yang berada 20 meter dari sevel. Saya menjelaskan kepada petugas kejadian yang dialami dan memperlihatkan KTP Pelaku. “Tenang pak, coba saya cek KTP nya dulu” ujar petugas itu menenangkan saya yang panik. “Palsu ini mah, Lurahnya bukan ini, palsu” kata polisi itu. Tuhan…. Bagaimanaaa ini. Kemudian polisi itu membawa saya ke polsek menteng. Disana ada Bripka Agus dan Brigadir Oloan yang sedang piket. Saya kembali menjelaskan peristiwa yang saya alami dari awal. Keduanya sangat baik, menenangkan saya dan meminta tim buser untuk segera datang. Sembari menunggu, kami menuju TKP terlebih dahulu. Mas Agus meminta rekaman CCTV kepada petugas. Kali ini kami diizinkan masuk dan merekam sendiri. Tidak lama kemudian, pukul 15.44 tiba tiba pelaku mengubungi kembali. Ia mengirim pesan singkat via whatsapp yang intinya mengatakan mau mengembalikan barang saya. Pelaku juga meminta maaf dan mengaku salah. Ia melakukan hal ini karena butuh biaya chemotherapy orang tuanya (tidak disebutkan ayah/ibu). Saya senang, bahagia, karena pelaku sadar[4]. Drama kedua terjadi. Saya coba meyakinkan pelaku kalau saya percaya. Tapi sepertinya pelaku lebih pintar. Ia mengatakan hanya butuh KTP nya saja. Saya coba membuat pelaku tertarik dengan mengatakan akan memberikan uang juga. Mas Agus dan Bang Oloan dari polsek menteng standby diluar, bersiap tangkap tangan. Saya bilang “ Mas Agus, nanti kalau orangnya datang, mungkin saya akan maafkan”. “Yasudah mas terserah mas, kalau begitu tunggu aja dulu” katanya. Pelaku memberikan kontak kakaknya bernama Fahmi, orang yang mengantar barang. Sebenarnya saya sudah curiga. Karena awalnya pelaku mengatakan barang diantar oleh temannya. Kemudian berubah menjadi kakaknya. Oh mungkin kakaknya ini adalah temannya juga.

Satu jam kemudian, saya mendapat pesan “Mas, maaf. Saya sekarang sama pembeli laptopnya. Febri suruh saya kasih ke mas, tapi saya butuh uangnya untuk chemotherapy orang tua”. Jawaban yang tentu menohok saya: PHP. Saya terus melakukan negosiasi. Pelaku meminta untuk transfer uang. Ya gak mungkin kan? Masa saya transfer lagi dan kena dua kali?. Penantian sore itu berakhir pilu. Polisi yang sudah standby tampak kecewa, apalagi saya. Beberapa saat kemudian, kami kembali ke polsek. Disana sudah ada empat orang tim buser yang datang. Bang Robi meminta temannya untuk melacak no HP pelaku. Sayangnya sudah tidak aktif. Kedua nomor tersebut terakhir aktif 30 menit lalu di sekitar jalan Cempaka Putih. Agak kecewa juga kenapa baru dilacak saat itu. Tapi sudahlah, bantuan mereka juga sudah cukup. Pukul 18.00 saya menuju Polda Metro Jaya untuk melaporkan kejadian. Mas Agus bilang personil di polda lebih banyak, terlatih, dan punya alat canggih. Sayangya, sampe disana antrian cukup banyak. Saya baru selesai membuat laporan pukul 20.30 WIB. Penyidik juga baru akan saya dapat maksimal seminggu setelah itu. Keburu kabur deh penjahatnya. Padahal, niat awal ke Polda agar segera gerak cepat mumpung ruang pelaku berkeliaran  masih sempit. Hari sudah malam, saya menuju Depok untuk pulang. Saya juga menghubungi AppleID untuk menanyakan status Mac saya. Menurut pengakuan CS, jika saya sudah login iCloud maka tidak akan ada yang bisa menghapus data saya kecuali dengan paksa. Jika dihapus paksa, maka Mac akan otomatis terkunci, itu katanya. Tapi masa tidak ada celah? Apalagi pembeli merupakan pengadah. Saya tiba di Depok pukul 23.55. Hari ini ada acara inisiasi di kampus. Sabtu pagi, saya dihubungi seorang yang bernama Eldy, anggota polisi bagian IT di Polda Metro Jaya. Meski bukan sebagai penyidik Ia memberi saya banyak masukan.

“itu sudah motif biasa mas, tidak usah hubungi pelaku,  biarin nanti dia ketangkep aja” seru mas Eldi. Meski demikian, sesekali saya masih mengirim pesan melalui sms dan whatsapp. Berharap pelaku baca dan berubah fikiran. Tidak ada salahnya mencoba pengaruhi pelaku kan? Siapa tau dia berubah fikiran. Selain itu, data yang ada di Mac itu sangat penting. Mulai dari data kuliah, pribadi, hingga pekerjaan. Jadi saya belum bisa menerima kehilangan data yang sudah disimpan sejak semester 3 kuliah[5].

Sabtu tidak ada komunikasi, saya fokus mengikuti kegiatan inisiasi di kampus.

Minggu, 8 Januari 2017 sekitar pukul 14.00 saya kembali ke TKP. Mencoba mencari bukti atau petunjuk baru. Saya kemudian melihat lihat lagi chat awal. Disitu pelaku sempat bilang alamatnya di Cempaka Putih. Eits, tunggu sebentar; Polisi juga sempat melacak lokasi terakhir ponsel aktif di Cempaka Putih. Artinya, lokasi pelaku memang di sekitar itu. Saya buka lagi semua bukti bukti foto dan rekaman CCTV. Terlihat memang pelaku sangat pintar. Ia membawa saya ke sevel yang tidak memiliki CCTV di parkiran. Ketika masuk sevel, gesture pelaku juga cukup baik menghindari kamera. Ditambah dengan topi yang dikenakannya, sulit untuk mengenali pelaku.

Pukul 17:41 hp saya bergetar. Sebuah pesan singkat kembali masuk. Pelaku menjawab pesan saya sebelumnya yang mengancam akan melaporkan ke polisi jika tidak mengembalikan data. Tampaknya ancaman itu meyakinkannya kalau saya memang belum melapor polisi. Akibatnya perasaan tamak kembali muncul untuk menipu kali kedua. “Ini mau dianter kemana mas? Gimana? Tanya pelaku. “ Saya juga udah gak butuh, sudah pemakaman tadi ba’da dzuhur” pelaku coba membuat drama kembali. Orang tua yang awalnya chemotherapy ceritanya sudah meninggal. Ia berniat untuk mengembalikan barang. Saya mengatur ritme, seolah percaya dan simpati. “innalillahi wa inna ilaihi rojiun mas, apa bener belum dijual mas? Kalaupun udah, saya hanya butuh data nya mas. Bisa ketemuan dimana mas?” Tanya saya. “saya bayar deh mas” tambah saya untuk lebih menarik pelaku. “terserah mau bayar atau nggak,  kalaupun enggak, gpp. Saya hanya butuh KTP saya itu” katanya. KTP Palsu kok dijadiin bahan buat nipu lagi ya? Fikir saya dalam hati. Pelaku mengajak menggunakan gosend. Saya kirim KTP + Uang tunai ke alamatnya, sedangkan saya akan menerima barang dari dia yang juga dikirim via gosend. Kami menyusun jadwal untuk bertemu. Disepakatilah pukul 21.00 untuk sama sama order gosend. Terjadi banyak chat pada rentang jam itu. Saya sangat berharap, kali ini jangan sampai lolos. “jangan kasih kendor” Pikir saya. Saya pun mencoba menjadi orang paling bodoh dan lugu di dunia ini. Posisi saya pukul 20.00 masih di depok. Sedangkan pelaku meminta untuk order pukul 21.00. Gila, saya hanya punya waktu satu jam untuk mengatur strategi. Fikiran kembali bergejolak. Saya tidak ingin kali ini gagal. Banyak wacana berterbangan di fikiran saya. Namun tidak mungkin karena beberapa hal. Satu satunya hal yang memungkinkan adalah menjebak pelaku. bagaimana caranya? Saya meminta bang Eldy yang punya alat pelacak lokasi dari provider untuk membantu, sayangnya ia tidak tertarik sama sekali dan menjawab “saya sedang sibuk”. Tidak ada cara selain tangkap langsung seperti rencana awal di sevel bersama mas Agus, bedanya kali ini lebih kompleks; menggunakan jasa gosend.

Pelaku harus dipastikan benar benar akan menemui gosend pesanan saya. Ketika itu polisi harus membackup dari belakang. Oke fix. Saya kemudian segera menghubungi mas Agus. Sayangnya beliau sedang di rumah dan meminta saya agar langsung ke Polsek Menteng. Sampai di Polsek, saya mengatakan perihal kedatangan saya untuk menjebak pelaku. Lagi lagi misskom terjadi, ternyata mas Agus belum memberi “pengantar”. Akibatnya saya harus berusaha keras meyakinkan polisi bahwa saya memang akan bertemu dengan penjahat. Tidak lama kemudian, barulah mas Agus menelepon dan menjelaskan kepada polisi yang berjaga.

Hari sudah pukul Sembilan malam. Saya mengatakan kereta tertahan di stasiun Manggarai. Sebuah foto di Manggarai yang saya tangkap 30 menit lalu baru saya kirim ketika di Polsek untuk meyakinkan pelaku dan mengulur waktu. Anggota buser (buru sergap) baru datang satu, yakni bang Robi. 30 menit berselang, bang Herman datang disusul bang Candra yang akan menyamar sebagai gojek. “bang maaf bang, masih lama gak ya bang? Saya takut pelaku batal nih bang” saya sangat gelisah. “iya bentar, lagi pada di jalan” ujar bang Robi. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Berbagai alasan sudah saya keluarkan untuk mengulur waktu diantaranya menerima permintaan pelaku untuk nunggu di stasiun gambir, padahal saya tau kereta tidak berhenti disitu. “ Mas ternyata kereta gak berenti di gambir, saya putar balik dulu ya”. Selain itu saya meminta izin untuk mengecas HP di stasiun Gondangdia sebentar karena HP sangat low. Saya menscreenshoot HP, memperlihatkan battery yang tinggal 7% sedang di charge. Padahal saya menggunakan powerbank.

“gimana? Jadi gak nih?” pelaku mulai curiga. Suasana tidak karuan. Jantung saya berdegup kencang, takut rencana yang sudah setengah jalan ini batal. Tak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan pelaku, saya meminta sama-sama screenshoot pemesanan gosend, kemudian memfoto barang dan driver. Dengan demikian saya akan terkesan hati-hati dan serius. Pelaku tentu pintar dan bisa mengakali segala hal itu. Walau cara ini menyulitkan saya juga, tetapi cara ini sekaligus membuat pelaku percaya bahwa saya sendiri dan tidak ditemani polisi. Saya mengambil uang di ATM, mengirim gambar ke pelaku. Pelaku berlagak baik dan seolah jujur. Ia mengatakan agar uang ditaruh di plastik hitam, jangan bilang ke driver gosend kalau itu uang, kalau gak pasti gak sampai. Tentu hal ini memberi saya nafas tambahan untuk mengulur waktu. Saya mengatakan sedang mencari cara membungkus uang tersebut. Pukul 22.45 barulah anggota buser lengkap. Pukul 23.00 kami menuju stasiun. Saya mengatakan sudah siap untuk memesan gosend. Sebuah mobil avanza sembunyi dibelakang stasiun Gondangia. Saya memesan gosend sesuai permintaan pelaku. Sinyal agak lemot, butuh sekitar lima menit untuk dapat driver. Tapi…driver pertama menelepon dan meminta untuk di cancel. What the….

Oke, Saya menarik nafas, mencoba kembali memesan gosend. Setelah dapat, saya hubungi langsung. Kali ini lelaki dengan logat betawi  berbicara lembut dibalik handphone. “Halo pak, posisi dimana yak?” tanyanya. “Saya di dekat RM. Sederhana pak, dibelakang Bank BRI”. tidak lama kemudian pemuda yang sepertinya baru berumur tidak lebih dari 30 tahunan datang menghampiri saya. “Pak, ini barangnya di mobil” saya membawa driver tersebut mendekati polisi. Kemudian polisi mengerumuni pemuda itu. Negosiasi dilakukan. Pemuda ragu, mukanya pucat. Polisi berpakaian sipil tampak tak meyakinkan. Kemudian saya bilang “mas, ini mereka polisi”. Saya memperlihatkan LP, tapi tidak cukup. Driver tersebut meminta untuk di cancel, tapi saya larang. Terjadi sedikit debat sengit disitu, untungnya dengan berbagai cara dan kalimat persuasive, driver itu mau bekerja sama. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.10. Saya meminta driver gojek untuk menghubungi pelaku terlebih dahulu agar terlihat seperti beneran.

“Halo pak, ini lokasinya dimana ya pak?” tanyanya. Sayup sayup terdengar jawaban jawaban pelaku yang memandu. “Kalau tulisannya sih kosmetik pak” jawab gojek lagi. Sepertinya pelaku bertanya apa isi paket. Driver tampak pucat, namun mencoba tetap tenang. Setelah berhasil megelabui, giliran saya yang pura pura bertanya kepada pelaku. “Mas nomor gojek yang nganter barang saya berapa? Kenapa saya belum dihubungi?” Pelaku mengatakan “nih ngomong langsung aja”. Sampai saat ini saya masih tidak tahu dengan siapa saya berbicara malam itu. Seseorang yang bertanya posisi saya mengaku sebagai gojek, namun menggunakan handphone pelaku. Apakah pelaku merupakan komplotan?

Gojek dan Polisi berganti peran. Gojek menaiki mobil, sedangkan polisi mengendarai motor gojek. Alasannya adalah untuk menangkap pelaku, tentu sulit bagi gojek untuk melawan jika terjadi apa-apa. Kami menuju lokasi yang menjadi tempat pelaku menerima barang. Sedangkan gojek yang mengaku mengantar barang ke Gondangdia tidak ada kabar. Jelas sekali hal itu palsu. Tidak apa-apa, saya akan memposisikan diri menunggu di Gondangdia agar pelaku tetap percaya. Perjalanan sangat menegangkan. Pelaku ternyata sengaja memilih lokasi yang agak sepi. Mobil yang kami tumpangi sulit mengambil posisi. Beberapa kali bang Robi sebagai sopir mengeluh “gila! susah nih posisinya”.

Gojek menunggu di dekat halte Busway. Bang Herman dan Bang Aris mengendari satria FU mengambil posisi menghadap gojek dari kejauhan. Jalan yang searah mempersulit tempat persembunyian. Suasana makin tegang, beberapa menit berselang sebuah motor bebek datang menghampiri gojek. Tampak dua orang berboncengan menapok gojek. Astaga, apakah pelakunya bawa temen? Oh ternyata bukan. Tidak lama keduanya meninggalkan lokasi. Menurut bang Candra yang menyamar sebagai Gojek,  keduanya adalah sepasang kekasih yang lagi kasmaran. “gila dikagetin gw, tiba tiba gw ditapok ditanya : bang cewe gw cakep ga? Gw abis jadian nih” kata bang Candra menirukan perkataan dua orang itu selepas tugas.

Beberapa saat kemudian, sebuah motor Ninja datang. Oh My God, itu orangnya. Tidak salah lagi, orang yang sama dengan motor yang sama. Sialnya, pelaku keburu tau dan sadar ada yang tidak beres ketika Satria mulai mendekat. Ia kabur dengan cepat menggunakan motor 250 cc miliknya. Gojek hanya bisa terpana, tanpa perlawanan. Bang Robi menginjak gas, mencoba memacu mobil yang kami tunggangi dibelakang Satria. Terjadi aksi kejar-kejaran beberapa saat hingga pelaku mengambil jalan Forbiden dan mobil yang dikemudikan bang Roby tidak sanggup lagi mengejar. Sial!!! Gagal lagi! Saya kesal. Ibarat pancingan, udah susah-susah dan hampir kemakan pancingannya, ikannya kabur. Waktu terus berjalan. Kami saling mengeluh. Bang Chandra yang mengendarai motor gojek terus mengeluarkan sumpah serapah “Anjin*, matiin mesin aja kagak berani tuh orang, gak kekejar gw” katanya. Bang Robi tidak kalah kesal, apalagi saya.

Eh tapi… bagaimana Satria? Kekejar ga? Secara Head to Head, tentu Mustahil. Bang Robi menyuruh untuk menghubungi Bang Herman yang mengendarai Satria. Hasilnya ? WAW…. Kami menuju ke jalan yang ternyata sudah dikerumuni warga, pelakunya TERTANGKAP!! Dengan tangan terborgol, ia terus memohon mohon meminta maaf. Saya keluar dari mobil, melayangkan sebuah pukulan yang mengenai kepala pelaku. Ah gak berasa, kurang kenceng. Sudah lama tangan ini tidak menghujam orang, sepertinya kurang bertenaga. “Mampus lo” sumpah serapah keluar dari mulut saya. Antara emosi bahagia, bangga, dan haru bercampur jadi satu. Kalau bukan karena ditahan bang Robi, mungkin saya sudah kembali memukul pelaku di tempat.

21

Pelaku berhasil tertangkap

Beneran ini kan orangnya? Tanya bang Robi. Saya yakin 1000% bang, jawab saya. Pelaku dimasukkan ke mobil, dibawa menuju Polsek. Bersyukur, akhirnya pelaku dapat ditangkap pukul 23.45; kurang dari 52 jam setelah saya membuat laporan di Polda Metro Jaya. Ketika di mobil, pelaku memohon-mohon, meminta maaf. Sayangnya Mac sudah dijual. Sekarang saya tidak tahu bagaimana nasib data-data saya yang ada disana.

Setelah tertangkap, pelaku diinterogasi. Saya menyadari banyak hal yang terasa aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan;

  1. KTP Yang diberikan kepada saya menurut pelaku adalah asli. Polda Metro Jaya juga memastikan keaslian KTP itu. Polisi dekat Sevel yang mengatakan KTP itu palsu cukup membuat banyak spekulasi. Coba kalau tau itu asli, tentu saya bisa lebih tenang. Tapi pelaku berani juga ya ngasih KTP Asli.
  2. Kalau benar KTP itu asli, wajar pelaku sangat menginginkan KTP itu kembali. Sayangnya cara yang dipakai sudah tidak mempan. Masa mau ketipu dua kali?
  3. Pelaku merupakan orang berada, punya ninja dan baru ambil mobil Fortuner. Kontrakannya juga 36 juta setahun. Apakah uang itu hasil nipu juga? Kalau kaya, duitnya buat apa? HUTANG.
  4. Pelaku tidak sehebat yang dibayangkan. Menjemput barang sendiri dengan motor yang sama tentu beresiko. Atau mungkin, pelaku juga tertipu.

Kamu menemukan hal janggal dalam cerita diatas? Coba diskusikan di kolom komentar!

Beberapa saran dan manfaat yang bisa dijadikan pelajaran

  1. Untuk kita semua, berhati-hatilah dan terus waspada. Penipuan tidak memandang status dan derajat. Orang yang terlihat kaya juga ternyata lebih berbahaya.
  2. Tetap tenang dan terus kumpulkan bukti-bukti jika mengalami hal serupa. Lapor polisi dan kawal penyelesaiannya. Polisi menangani banyak kasus dengan jumlah personil yang terbatas. Satu penyidik bisa menangani hingga 10 kasus, jadi jika ingin cepat, bantu polisi menangani kasus tersebut dan jangan hanya menunggu.
  3. Tetap semangat

[1] Beberapa kali ketika bertemu saya penasaran dan meminta pelaku mencoba dulu file miliknya apakah bisa terbaca di laptop saya. Pelaku enggan mencoba dan sangat yakin bisa. Ia berkata “udah, seribu persen saya yakin bisa” sambil menunjuk seri laptop saya MD101.

[2] Konsep timbal balik. Saya menyebutnya “kebaikan berbalas kebaikan”. Agama saya juga telah lebih dulu mengajarkan kebaikan tersebut. Bahwa setiap kebaikan sekecil apapun, akan mendapat balasan (QS 99:7-8)

[3] Anda sebagai pembaca mungkin akan melihat saya sebagai orang yang sangat bodoh dan mudah percaya. Tetapi fakta di lapangan bisa berbeda jika Anda merasakan sendiri apa yang saya rasakan. Pelaku cukup cerdas dan mampu menanamkan kepercayaan.

[4] Meski merasa tidak masuk akal, saya coba meyakinkan diri untuk meyakinkan pelaku agar rencananya berhasil. Pelaku menyusun rencana, saya juga mencari cara.

[5] Semester 1 dan 2 saya juga mengalami musibah berupa kerusakan laptop yang menyebabkan harus di format dan kehilangan data yang disimpan sejak semester 1 dan 2.

Please follow and like us:

  • 4

Penyanderaan; Keputusan dan Kesempatan

Category : Uncategorized

Tulisan tentang pentingnya mengikuti Inisiasi

[Revisi dari tulisan pertama dengan judul sama yang pernah di posting pada 2014]

Note : tulisan ini bisa membuat Anda ragu untuk tidak mengikuti Inisiasi atau malah menjadi tidak ingin untuk tidak mengikuti Inisiasi. Jika takut pilihan itu berubah, jangan lanjutkan untuk membaca tulisan ini.

Foreword

Tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya posting pada oktober 2014 lalu yang ditujukan untuk angkatan 2014. Namun saya hapus dan tidak di posting ulang untuk angkatan 2015 karena saya rasa sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat itu. Pertama kali tulisan ini dibuat untuk memberi tahu 2014 bahwa saya adalah angkatan 2013 yang tidak mengikuti Inisiasi pada tahun pertama, namun menyesal dan memutuskan untuk Inisiasi ulang pada 2014. Lalu, kenapa tulisan ini kembali dibuat?

Saat ini saya adalah seorang mentor untuk kelompok Antrop Bisnis. Salah satu menti saya ragu untuk ikut Inisiasi. Lantas saya merasa apa yang dialami oleh menti saya adalah apa-apa yang sudah saya pernah alami dahulu. Saya paham betul apa yang mereka fikir, rasa, dan takutkan. Bukan hanya di kelompok saya, tampaknya kegelisahan untuk mengikuti Inisiasi atau tidak, juga terjadi pada kelompok lain dan memang akan selalu terjadi. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memberi sedikit masukan bagi Anda yang masih ragu-ragu untuk mengikuti Inisiasi. Tulisan ini mengandung banyak opini, yang tentunya bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Saya tidak pernah dan tidak akan menjeneralisir opini ini sebagai opini umum.

Sebaiknya keputusan dibuat setelah mempertimbangkan segala kemungkinan baik-buruknya. Seperti yang pepatah katakan “jangan memutuskan sesuatu ketika emosi, dan jangan berjanji ketika senang”. Saya takut keputusan Anda untuk tidak Inisiasi belum difikirkan secara baik. Bertanya kepada senior adalah salah satu cara mendapatkan referensi untuk memperkuat keputusan Anda. Senior meski bagaimanapun pastinya sudah mengalami apa yang baru akan anda lewati. Sebaiknya Anda tidak hanya bertanya kepada senior yang mengikuti Inisiasi pada tahun pertama atau senior yang tidak mengikuti Inisiasi sama sekali, namun juga kepada senior yang Inisiasi susulan. Hal ini karena sudah pasti senior yang mengikuti Inisiasi tidak merasakan langsung bagaimana posisi orang yang tidak Inisiasi. Begitu juga dengan senior Anda yang tidak Inisiasi, tidak akan bisa merasakan langsung posisi menjadi sudah Inisiasi, kasarnya; bias. Saya tidak mengatakan saya paling tahu, namun setidaknya saya pernah merasakan kedua posisi tersebut (tidak Inisiasi dan Inisiasi)

Tanpa harus panjang lebar membaca tulisan ini kebawah, Anda seharusnya sudah bisa menebak, mengapa saya mengikuti Inisiasi ulang. Namun sebelumnya saya akan sedikit bercerita mengapa tidak Inisiasi pada tahun pertama. Cerita yang mungkin sama persis atau identik dengan apa yang Anda rasakan. Keputusan saya untuk tidak mengikuti Inisiasi adalah keputusan matang yang dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya; ingin mengulang SBM, capek, kesehatan, waktu, lingkungan, dan sebagainya. Tetapi bisa saya pastikan bahwa faktor tersebut bukanlah faktor utama. Faktor utama adalah niat. Ketika tidak memiliki niat untuk ikut, maka berbagai alasan diatas akan muncul dan seolah menjadi sebab. Saya tidak menyalahkan niat Anda, justru saya sadar bahwa niat tidak akan muncul jika tidak mengetahui tujuan dan akibat. Ketidaktahuan saya akan dampak tidak mengikuti Inisiasi serta apa sebenarnya makna Inisiasi adalah kecerobohan awal saya ketika maba. Saya mahasiswa daerah, mengalami culture shock, masih tidak bisa membagi waktu, dan tidak ada orang yang mengarahkan. Akibatnya banyak hal yang saya putuskan tanpa memiliki referensi yang cukup. Tulisan ini adalah salah satu referensi yang bisa Anda pertimbangkan. Harapannya, tidak ada lagi penyesalan dan alasan “tidak ada yang mengarahkan” seperti yang saya rasakan.

Tujuan Inisiasi

Inisiasi adalah ceremony pengukuhan maba sebagai “kerabat” baru. Untuk menjadi sekelompok golongan, diperlukan “pengukuhan”. Sedangkan sebelum pengukuhan tentu memiliki proses/ tantangan yang harus dilewati. Lesehan adalah salah satu rangkaian proses menuju Inisiasi. Lesehan sendiri memiliki tujuan mulia, yakni edukasi terhadap maba yang berada pada masa transisi antara siswa menjadi mahasiswa. Terlepas dari tugas seperti meminta tanda tangan, review jurnal, dan penelitian lapangan akan anda rasakan manfaatnya nanti setelah memasuki semester atas[1]. Saya sendiri mengakui, lesehan tahun kedua cukup banyak memberi pelajaran berharga ketika pada matkul seperti pengolahan data kualitatif, teknik penelitian, dan berbagai kegiatan lain yang memang menjadi style nya Antropologi.

Tapi kak, saya pengen SBM lagi…

Pertama yang ingin saya katakan adalah “yakin lulus?” Saya juga pernah gelisah akan hal tersebut. Merasa lebih baik fokus untuk SBM. Akan tetapi tidak elok menjadikan alasan tersebut sebagai penyebab untuk tidak mengikuti Inisiasi. Meski ikut SBM pada tahun kedua, saya tidak sama sekali menjadikan itu sebagai faktor utama. Bahkan tidak banyak teman saya yang tahu kalau saya ikut SBM lagi.

Jika Anda tiba – tiba tidak lulus SBM, bagaimana? Mau ngulang Inisiasi? Nanti saya jelaskan tidak enaknya mengulang di tahun kedua. Akan tetapi satu hal yang ingin saya sampaikan, tidak ada ruginya mengikuti Inisiasi pada tahun pertama. Jika Anda memang diterima pada SBM nanti, selamat! Anda tidak sama sekali rugi, bahkan Anda akan tetap dianggap sebagai “kerabat”. Seperti apa yang selalu teman saya katakan “Kerabat Non Antrop” merujuk pada salah satu teman saya yang pindah jurusan. Anda juga dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat, serta kenal senior Antrop ketika meminta tanda tangan. Pun jika Anda tidak diterima SBM nanti, Anda sudah Inisiasi dan menjadi “kerabat”. Ngomong ngomong probabilitas ini mengingatkan saya pada Pascal’s Wager [2] yang saya analogikan dengan Inisiasi ; pilihannya cuma dua, Inisiasi atau tidak. Maka memilih Inisiasi adalah pilihan terbaik karena tidak akan merugikan sama sekali. Jika sudah Inisiasi, lulus atau tidak lulus SBM pun akan aman karena sudah menjadi kerabat. Sedangkan jika tidak Inisiasi, sukur-sukur jika lulus SBM, kalau tidak lulus? siap-siap menghadapi “penyanderaan” seperti apa yang saya rasakan.

Penyanderaan

Berbicara penyanderaan yang saya rasakan, adalah hal yang muncul dari dalam diri sendiri. Sejatinya saya adalah orang yang aktif dan tidak bisa tidak berteman banyak. Coba baca tulisan saya tentang Inisiasi sebelumnya. Ketika tidak Inisiasi, secara tidak langsung saya merasa jauh dari teman-teman angkatan. Bagaimana tidak, banyak kegiatan maba yang saya tidak ikuti karena tidak mengikuti rangkaian Inisiasi. Selain itu saya juga menjadi takut berkenalan dengan senior. Saya sama sekali tidak menyalahkan system. Ini adalah perasaan yang muncul sendiri dan wajar terjadi. Buktinya ada orang yang tidak Inisiasi namun tampaknya santai dan tidak merasa apa yang saya rasakan, meski saya yakin pasti dia merasakan terdapat setidaknya setitik perbedaan. Selama hampir satu semester setelah tidak Inisiasi, saya merasa berjalan sendiri dan menjadi minoritas. Tujuan dari Inisiasi dengan rangkaian kegiatannya yang sudah saya jelaskan memang agar membantu maba dalam adaptasi terhadap jurusan baru nya. Anda tentu akan merasakan kerabat sangat akan membantu memberikan contoh makalah, tugas kuliah, dan manfaat lain setelah inisiasi nanti, bukan sekarang. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Keputusan
Bukan penyesalan namanya jika disadari di awal. Itu pula yang saya rasakan. Setelah memaparkan sedikit dampak tidak Inisiasi seperti sulit uituk dikenal senior, kerabat-kerabat lain, dan merasa terkucil [3], kini keputusan ada ditangan anda. Begitu juga saya yang memutuskan untuk mengikuti Inisiasi susulan. Terkadang saya berfikir dan menyesal, kenapa harus saya yang ditakdirkan tuhan untuk tidak Inisiasi tahun lalu? Tetapi di satu sisi, saya bersyukur dan mengambil hikmahnya. Mungkin dengan ini saya bisa berbagi pengalaman yang saya rasakan kepada junior agar tidak memiliki perasaan sama. Hingga saat ini belum ada senior yang bukan kerabat yang membagi pengalaman buruknya dan alasan kenapa harus Inisiasi. Kurangnya informasi ini lah yang membuat tiap tahun  selalu ada mahasiswa baru yang tidak ingin ikut ospek jurusan tersebut.

Kesempatan

INISIASI ANGKATAN 2014Bagi saya kesempatan itu adalah ketika diizinkan untuk mengikuti Inisiasi susulan meski harus kembali penelitian, menulis laporan, dan ikut malam puncak Inisiasi. Kesempatan saya juga adalah karena kedua teman saya yang tidak Inisiasi sebelumnya juga ingin Inisiasi susulan. Selain itu saya juga didukung penuh oleh angkatan. Orang-orang yang paling semangat mendukung saat itu diantaranya Elok, Mukhlis, Peter, Rifki, dan Gege. Tanpa mereka semua mungkin sulit untuk saya mendapatkan kesempatan kedua tersebut. Kesempatan bagi anda adalah untuk memikirkan kembali dengan matang keputusan yang akan diambil nanti. Setelah membaca atau mencari tahu referensi lain, semoga Anda mampu memutuskan dengan bijak agar tidak menyesal.

Kesimpulan :

Tujuan Utama Inisiasi adalah penyambutan Mahasiswa Baru. Menjadi satu komunitas atau kelompok tertentu, tentu harus diinisiasi terlebih dahulu. Pengetahuan penting tentang Inisiasi nanti akan Anda pelajari pada banyak matakuliah Antropologi seperti Hubungan Antar Suku Bangsa (HASB), dsb. Pada proses Inisiasi terjadi liminalisasi, proses perubahan anda dari Siswa menjadi Kerabat Antropologi. Mengapa harus menjadi kerabat? Hal ini karena tujuan dari diadakannya Inisiasi memang untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa baru Antropologi. Edukasi ini akan mempermudah mahasiswa beradaptasi dengan jurusan Antropologi dan memiliki jejaring yang luas nantinya. Pada mata kuliah Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan (OSSK) Anda akan belajar mengenai keluarga fiktif. Selain pada jurusan antropologi, contoh keluarga fiktif ini terdapat pada paguyuban. Orang orang akan merasa senasib dan menjadi keluarga. Istilah ini dikenal juga dengan istilah our people. Menjadi kerabat sejatinya menawarkan banyak keuntungan. Akan tetapi semua dikembalikan pada Anda. Apakah mau memanfaatkan benefit tersebut, atau bahkan menghindar dari kesempatan itu dengan tidak menjadi kerabat. Yang terpenting adalah niat Anda untuk mengikuti Inisiasi. Niat harusnya sudah ada setelah tahu tujuan dan dampak dari mengikuti atau tidak mengikuti kegiatan tersebut. Jika niat sudah baik, maka alasan seperti ingin mengulang SBM, tidak bisa membagi waktu, dan sebagainya tidak lagi menjadi penyebab.

Tiap orang memiliki kepribadian dan motivasi yang berbeda. Sejatinya saya adalah orang yang tidak bisa tidak aktif, tidak bisa bekerja sendiri, dan tidak bisa tidak bergaul. Akibatnya, tidak menjadi kerabat menghambat habbit saya. Jika Anda adalah orang yang suka menyendiri, tidak merasa perlu banyak kenalan, bisa hidup sendiri, atau cuek, maka tidak Inisiasi tidak akan menjadi begitu masalah. Tetapi Jika Anda seperti saya, maka tidak Inisiasi akan menjadi masalah besar. Saya juga tidak mengatakan semua anak antrop non kerabat itu tidak aktif, buktinya ada beberapa teman, senior, atau junior non kerabat yang juga bisa aktif di jurusan atau bahkan organisasi luar. Saya juga tidak mengatakan semua kerabat itu adalah orang yang aktif, karena semua tergantung individu itu kembali. Menjadi kerabat tentu hanyalah media untuk mendapat semua benefit yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Akan tetapi saya juga tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa memang, banyak kegiatan yang hanya diperuntukkan untuk kerabat. Tanpa niat memojokkan sahabat atau teman-teman non kerabat, saya minta maaf. Saya secara pribadi tidak membedakan status tersebut, akan tetapi pada kenyataannya menurut saya lebih sulit mengenal non kerabat akibat “penyanderaan” tadi. Saya sudah memaparkan banyak hal. Terima kasih dan selamat jika anda sanggup membaca tulisan sampai disini. Pada akhirnya, Anda sendirilah yang akan menentukan pilihan.

Oia, jika masih punya banyak pertanyaan dan keraguan, Kalau ingin ngobrol atau nanya langsung, bisa hubungi saya pada kanal media yang terdapat pada kanan atas blog ini atau pada page contact.

Saya akan sangat senang bisa membantu dan mengatasi kegelisahan Anda

Salam,

IA

[1] Bagi yang tidak mengikuti lesehan dengan baik atau sering bolos, tentu akan merasa tidak banyak manfaat yang didapat.

[2] Taruhan Pascal adalah gagasan yang dikeluarkan oleh Blaise Pascal tentang orang yang atheis. Ia mengatakan tidak rugi jika percaya tuhan. Jika bertaruh tentang keberadaan tuhan, maka menjadi atheis bukanlah pilihan terbaik. Hal ini karena jika setelah mati nanti ternyata benar tuhan itu tidak ada, maka kita tidak akan kehilangan apapun jika kita hidup sesuai dengan perintah-Nya. Akan tetapi jika tidak percaya ada tuhan, lalu setelah mati nanti ternyata benar ada tuhan, kita tentu akan masuk neraka / disiksa.

[3] kecilnya saja adalah anda(jika bukan kerabat) tidak diperbolehkan menandatangani buku angkatan Mahasiswa baru nanti. Tidak boleh mengikuti acara-acara yang bertajuk kekerabatan, dan lainnya.

Please follow and like us:

  • 2

FLASHBACK #Kelabu SMA: Pengalaman Pertama Kali Ditipu

Setelah puas berbagi cerita keberuntungan selama tiga minggu berturut turut, hingga salah satu teman saya berkata “hoki banget sih lu Nul” maka kali ini saya akan bercerita pengalaman buruk yang pernah saya alami. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Kejadian ini terjadi ketika saya baru masuk SMA tahun 2011. Jangan lihat dari sudut pandang orang dewasa atau meneropong dari tahun 2016, karena anda akan merasa saya sangat bodoh dan ceroboh. Perlu diketahui bahwa perkembangan teknologi dan informasi saat ini begitu cepat berkembang dan sudah jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu.

Saya yakin, mungkin banyak orang termasuk anda pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika remaja. Namun tetap saja saya merasa hal ini tidak seharusnya terjadi kepada remaja yang masih berseragam putih abu-abu dengan muka lugu seperti saya. Kejadian ini seharusnya dialami oleh mereka yang sudah dewasa karena peristiwa ini bisa menimbulkan trauma yang mendalam bagi korban, termasuk saya. Akan tetapi, kejadian ini bisa juga menjadi bekal berharga ketika seseorang sudah dewasa, tergantung ketahanan individu. Saya pribadi merasa menjadi lebih berhati-hati pasca peristiwa itu.

Lima tahun lalu, Nokia masih jaya. Banyak anak muda hingga remaja tanggung menggunakan ponsel asal Finlandia ini. Kami sekeluarga bahkan kompak menggunakan merek yang sama, termasuk saya. Akan tetapi ketika itu saya masih menggunakan nokia X2. Ingat bentuknya? Seperti ini

Disisi lain, facebook masih sangat booming. Media sosial ini bahkan menjadi nokia-x2-1symbol anak gaul masa itu. Status yang jika saya lihat saat ini terasa menjijikkan banyak bertebaran. Mulai dari keluhan saat sekolah, tentang pertemanan, hingga doa-doa yang motifnya mencari perhatian. Oia meski saya tidak menghapus status – status itu hingga sekarang, gak usah di stalking ya, karena beberapa udah saya private biar aib itu gak kebongkar; wakakaka. Back to topic, libur musim dingin 2011 (gak deng, libur semester ganjil maksudnya) saya dan saudara-saudara berkumpul di rumah. Suatu saat saya bercerita dengan kakak[1] saya bahwa saya sangat sangat ingin Nokia X5, salah satu ponsel tercanggih saat itu. Nokia-X5-01-Phone__69134

Lalu kakak saya mengatakan melihat iklan di facebook yang menjual ponsel berbagai merek ternama seperti Nokia dan Blackberry dengan harga miring. Salah satu tanda penipuan adalah memang harga yang ditawarkan selalu miring / gak masuk akal. Hanya saja kali ini alasannya jelas, yakni barang murah karena didapat dari Batam yang notabenenya blackmarket.

Pada awalnya ia juga ingin membeli HP. Akan tetapi karena harga HP yang saya inginkan lebih rendah dari apa yang ia ingin beli, ia menyarankan untuk “mencoba” membeli HP yang saya inginkan terlebih dahulu. Harga ponsel yang saya inginkan adalah 1.2 juta, selisih 2 juta dari harga resmi saat itu (3.2 Juta). Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya uang tabungan saya dipakai untuk itu. Apalagi pada awalnya penjual bilang bisa bayar DP 50% dulu. Sisanya dikirim ketika barang sudah sampai. Tetapi ketika sudah transfer Rp. 600.000, penjual menghubungi kami dan berkata ada masalah dengan bos nya yang tidak mengizinkan pembeli hanya bayar DP. Mereka bersandiwara dengan seolah-olah bahwa pegawainya salah, kemudian meminta maaf dan meminta untuk melunasi sisanya terlebih dahulu. Saya sempat meragukan hal ini. “gimana kalau ini penipuan kak ? entar makin banyak duit yang hilang” tanya saya. Namun karena sudah lelah berdebat, kakak saya kemudian menyarankan untuk mentransfer saja.

Akhirnya? Yes kami tertipu. Pengguna tidak lagi bisa dihubungi. Barang juga tidak datang hingga detik ini, ya memang karena tidak dikirim. Uang yang saya tabung hilang begitu saja. Meski hanya 1.2 Juta, tapi jangan lihat nilai itu dari masa sekarang, karena jika berada pada lima tahun lalu, menurut saya harga itu cukup besar. Apalagi bagi remaja yang masih duduk di tingkat SMA. Meski kakak sulung saya polisi, kami tidak melaporkan masalah ini dengan berbagai alasan. Saat ini saya sadar, sepertinya kakak saya takut orang tua memarahinya ketika itu, ahhaha. Meski demikian, karena merasa bersalah, kakak mengganti kerugian saya 50%. Itu adalah pengalaman saya pertama kali belanja online dan kena tipu. Kalau sekarang kan aman, ada market place seperti tokopedia dan bukalapak yang menggunakan rekening bersama. Walaupun begitu, faktanya saat ini masih banyak orang tertipu dari belanja online dari FB, IG, dll. Sejatinya buyer sudah harus lebih cerdas sehingga penipuan tidak lagi terjadi. Kamu sendiri kapan pertama kali mengalami pengalaman kurang baik ? tulis di kolom komentar ya!

Jawab pertanyaan dan menangkan hadiah pulsa untuk 3 orang beruntung yang menjawab pertanyaan dengan benar tiap minggunya

Untuk ikutan, klik Ikuti Quiz

Next Story : Belajar untuk tidak mudah percaya ; ditipu ibu-ibu penjaga asrama

Tulisan ini tidak bermaksud untuk pamer; menyinggung satu, dua atau sekelompok orang; dan menyebarkan kebencian. Tulisan ini murni untuk memberi motivasi, atau setidaknya berbagi cerita yang semoga dapat diambil hikmahnya. Mohon maaf apabila ada yang salah, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan J

_____

[1]Kakak laki-laki yang paling dekat dengan saya. Tanggal lahir kami sama, tetapi berbeda enam tahun.

Please follow and like us:

  • 0

FLASHBACK # Asus Zenfone 5, Bukti Kekuatan Pertemanan

the billionaireINTRO: Cerita Masa Lalu, sayang jika dipendam sendiri.

Siapa bilang gamer tidak menghasilkan uang. Cukup banyak gamer yang menunjukkan keberhasilan dalam menghasilkan uang dari bermain game. Salah satu film yang disutradarai Songyos Sugmakanan di Thailand yang berjudul The Billionaire bahkan menceritakan kisah Top Ittipat, seorang remaja 16 tahun pecandu game yang akhirnya menjadi pengusaha dan sukses di usia 26 tahun berkat usaha Tao Kae Noi, rumput laut fenomenal di berbagai negara menjadikannya berpenghasilan 800 juta Baht tahun 2008. Jika anda menonton film tersebut, anda akan tahu bahwa game itu adalah titik awal keinginan Top untuk berbisnis. Kembali ke topik awal, jadi berawal dari game juga lah saya pernah mendapat hadiah sebuah smarphone Asus Zenfone 5 dari VNG Indonesia.

Ketika game Clash of Clans masih viral tahun 2015 lalu, bermunculan game – game serupa yang menawarkan konsep sama. Salah satunya adalah Chaos Age. Game besutan perusahaan asal Vietnam, VNG Indonesia ini menawarkan tampilan yang hampir mirip dengan Clash of Clans. Tetapi menu dan lain sebagainya berbahasa Indonesia. Launching pada awal 2015, game ini masih belum banyak diminati. Bagi yang sudah main COC, akan sulit untuk berpindah game ke Chaos Age atau game lain yang identik. Akan tetapi, VNG cukup getol melakukan iklan, promo, dan hal-hal lain untuk menarik gamer. Salah satu event yang mereka adakan adalah lomba selfie bagi pengguna game. Lewat akun Facebooknya, VNG menawarkan dua buah smartphone untuk dua pemenang tertinggi dari tiap kategori event. Sadar game ini masih sangat baru, saya ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Tiap peserta diminta mengupload foto ke akun Fb dan berlomba mendapatkan jumlah like terbanyak.

Peluang terbuka lebar, saya menyusun strategi. Salah satunya membentuk tim yang bertugas untuk “mengemis” like pada teman-teman yang memiliki akun di FB. Ketika itu saya meminta Fajri Azis sebagai ketua tim pemenangan, #kayakpilkada. Akan tetapi, apa mereka mau? Saya ngasih apa? Ya.. janji.! Saya menjanjikan sejumlah uang jika mereka membantu saya meraih kemenangan. Tidak hanya pada satu orang, tetapi banyak orang. Jika kalah? Ya tetap bayar, tapi bayar dengan keyakinan. “Kalau kalah gimana?” tenang aja, gak bakal kalah kok, jawab saya berulang kali setelah berdebat hal yang sama. Hari demi hari berjalan. Like terus bertambah, tapi masih belum bisa menjadi yang teratas. Satu ketika ada teman jurusan yang menjadi ketua acara suatu himpunan.  Kebetulan ia sedang membutuhkan uang untuk menyelenggarakan event itu. Daripada ngedanus, saya menawarkan kerjasama untuk meminta sekitar 20 orang yang berada di kepanitiaan tersebut agar mengumpulkan masing-masing 20 like saja. 20 x 20 = 400, cukuplah untuk menambah peluang. Akan tetapi setelah mempersentasikan peluang dan keuntungan yang akan didapat, mereka tidak memberikan jawaban.  Penolakan itu tidak membuat saya menyerah. Hal itu justru membuat saya ingin membuktikan, bahwa ini bukan gambling, tapi peluang yang terukur. Seminggu sebelum lomba berakhir, saya berhasil menjadi peringkat satu dengan total 700 an like. Ketika hawa kemenangan sudah datang, tiba – tiba dua hari sebelum lomba ditutup jumlah like lawan saya bertambah drastis. It’s crazy, impossible! Saya bahkan tidak masuk tiga besar! Merasa ada yang aneh, saya melihat likers dari tiap kompetitor. Hasilnya, kebanyakan mereka menggunakan cara curang. Setelah mencari di internet, ternyata ada jasa penjual likes foto di FB. Saya mempelajari pola like dan likersnya. Kemudian dengan emosi yang membuncak, saya menghubungi admin lomba dan menjabarkan bukti kecurangan lawan. Saya memulai tulisan di kertas A4 font TNR Spasi 1.15 dengan jumlah kata yang tak sedikit, kayak makalah UAS aja ya…

033Saya memberi opini berdasarkan fakta seperti screen shoot orang-orang yang menyukai foto dan profilenya, cara membedakan akun asli dan palsu, dan sebagainya. Setelah protes dilayangkan, respon admin VNG cukup baik. Ia menjanjikan penilaian yang seadil-adilnya. Ia juga mengatakan tim juri sudah siap untuk memeriksa jumlah like satu persatu. Gile gak tu? Di akhir jawaban ia mengatakan “tenang kak, kita bisa bedain kok, kita pantau pergerakan like dan periksa likers nya satu-satu, kerjaan yang belum tentu bisa dilakuin event lain” jawabnya dengan sedikit bangga. Wwkwkw

Saatnya pengumuman tiba, dan……. Ini adalah pemenang lomba foto VNG Indonesia

01 PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA SELFIE CHAOS AGEMeski secara jumlah keseluruhan kalah, tetapi jumlah real likers saya lebih banyak, yakni 845 like. Mengalahkan juara 2 dan 3 yang hanya mendapat 660 dan 421 likes. Padahal keduanya memiliki jumlah like keseluruhan hingga 2 ribuan. Tapi yang terverifikasi real ya cuma segitu. Sekali lagi bukti dari prinsip hidup yang saya pegang terbukti, more results will be achieved by those who struggle more. Karena berada di Depok, saya menghubungi admin untuk mengambil hadiah langsung ke kantor VNG di AXA Tower, Kuningan, Jakarta. Selain karena ingin cepat ngambil hadiah, saya juga memiliki agenda khusus kesana, yakni mempresentasikan proposal tawaran kerjasama / sponsorship suatu proker di himpunan.

Kemenangan ini sekaligus menjadi kado ulang tahun saya, 17 maret 2015 lalu. Kado dari teman-teman semua. Tapi satu pelajaran yang bisa dipetik, pertemanan telah membuktikan kekuatan terbaiknya. Tanpa seluruh teman-teman yang membantu, saya tidak akan berhasil meraih kemenangan ini. Salah seorang sahabat sekaligus senior yang baik, orang yang menjadi primadona maba FISIP tahun 2013 lalu, Tirto Prima Putra bahkan menawarkan diri untuk menemani saya mengambil hadiah ke kantor VNG setelah aktif membantu mencari likes untuk foto saya. Walau pada awalnya menolak karena takut menyusahkan, akhirnya saya menerima ajakan Tirto untuk tetap menemani dengan alasan bahwa ia juga sedang mencari gedung untuk lokasi foto komunitasnya (Full Frame-red). Untuk Tirto, terima kasih. Semenjak wisuda Agustus 2016 lalu, kami hanya bertemu sekali, itupun tidak sengaja karena sama-sama menunggu kereta di stasiun UI.  zenfone 5 event chaos age

Baca Juga : FLASHBACK #Kado tahun baru 2014: 1 BUAH SMARTFREN ANDROMAX G

Tulisan ini tidak bermaksud untuk pamer; menyinggung satu, dua atau sekelompok orang; dan menyebarkan kebencian. Tulisan ini murni untuk memberi motivasi, atau setidaknya berbagi cerita yang semoga dapat diambil hikmahnya. Mohon maaf apabila ada yang salah, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan J

____________

Jawab pertanyaan dan menangkan hadiah pulsa untuk 3 orang beruntung yang menjawab pertanyaan dengan benar
Untuk ikutan, klik Ikuti Quiz

Serah terima Hadiah di Kantor VNG Indonesia
Cr : Tirto Prima P

Please follow and like us:

  • 0

FLASHBACK # Hadiah Untuk Sebuah Ketulusan, Iphone 6 dari AQUA.

05INTRO: Cerita Masa Lalu, sayang jika dipendam sendiri.

Bertajuk temukan Indonesiamu, Aqua mengadakan lomba memainkan permainan tradisional seperti congklak, catur jawa, gasing, dan egrang pada peserta yang mendaftar. Hadiahnya tiga Iphone 6 dan tiga Go Pro Hero 4 untuk total enam orang beruntung. Acara diadakan di Kalimalang, Grand Indonesia, dan Bintaro sektor VII selama tiga minggu berurutan. Minggu pertama, saya sudah mendaftar di Kalimalang. Permainan pertama yang saya mainkan adalah congklak, sebuah permainan yang sudah saya mainkan ketika kecil dulu. Beruntung, saya mendapat lawan yang ternyata kebanyakan tidak hadir di lokasi. Akibatnya saya menang bye dengan mudah hingga sampai semifinal. Jika menang dan masuk final, saya berkesempatan menjadi pemenang dari congklak dan akan menghadapi pemenang lain dari permainan egrang, catur jawa, dan gasing. Tak seperti dongeng yang selalu indah diakhir, saya kalah. Saya hanya bisa menang hingga semifinal, dengan bye pula. Meski kalah, saya tetap mengikuti rangkaian acara hingga akhir dan didapatkan pemenang dari tiap kategori. Pemenang dari empat kategori akan berhadapan dan bersaing masuk ke final. Jika masuk 4 besar (masing-masing juara kategori) dan berhasil menang, maka dipastikan satu hadiah sudah berada di tangan. Pemenang dari congklak bertemu pemenang dari egrang. Keduanya akan bertanding di kategori yang tidak dimainkan salah satu kategori dari keduanya, yakni gasing dan catur jawa. Sedangkan pemenang catur jawa dan gasing bertemu dan akan memainkan egrang atau congklak. Setelah menang, barulah final ditentukan dengan permainan paling sulit, yakni egrang. Saya terus mengamati permainan, pola, dan system pertandingan untuk bekal di minggu depan atau minggu depannya lagi. Satu hal yang masih melekat kuat saat itu adalah semangat dan motivasi. Saya pulang dengan tangan kosong, tapi tidak untuk minggu depan.

JpegKetika di Grand Indonesia, saya hadir lebih awal. Saya mencoba seluruh permainan dan memperhatikan pola agar bisa menang. Ternyata permainan congklak adalah yang paling potensial karena memiliki pola agar menang mudah. Saya berharap agar kembali bertanding pada kategori itu. Sebelum bertanding, saya bernandzar “jika saya menang, uangnya akan saya pakai untuk bayar kuliah sendiri, tuhan!” Dengan campur tangan tuhan kembali, seperti semuanya sudah diatur, saya mendapat undian untuk bertanding pada kategori congklak, bedanya kali ini peserta lebih banyak dan tak ada yang tidak hadir. Pola permainan congklak sudah saya tebak. Ada celah yang bisa dimainkan, akan tetapi harus beruntung. Yakni menjadi orang kedua yang menjalankan permainan agar tahu pergerakan lawan. Tiap lubang congklak ada celahnya. Jika lawan memulai dari lubang satu, maka saya harus memulai dari lubang dua, dan seterusnya. Itu adalah pola yang saya pelajari dari minggu lalu hingga saat ini. Kemungkinan itu tentu sangat kecil. Jika saya mendapat giliran untuk jalan pertama, bagaimana? Ya disinilah kecerdikan dibutuhkan. Ketika suit, saya meminta “yang menang yang menentukan siapa yang jalan duluan”. Hal ini karena saya bisanya menang jika suit, wkwkw sombong, tapi serius. Akhirnya hingga final, dengan kuasa tuhan lagi saya bisa menang dengan mudah. Menjadi pemenang kategori congklak.

JpegKini, saya menunggu pemenang kategori egrang, gasing, dan catur jawa untuk diundi dan menjadi lawan saya. Satu hal yang saya hindari adalah bertemu lawan bukan dari egrang. Karena jika lawan saya adalah pemenang gasing dan catur jawa, ada kemungkinan babak selanjutnya ditentukan dengan lomba egrang. Sedangkan saya sama sekali tidak bisa bermain egrang tersebut. Kemungkinan untuk bertemu pemenang egrang tentu hanya 1/3, sehingga kemungkinan saya bermain egrang di semifinal adalah 2/3. Tapi, please, percaya! Ini kayak di filem-filem banget, terlalu mulus skenarionya, tapi kenyataannya memang begitu, permohonan saya didengar tuhan. saya bertemu pemenang Egrang, sehingga tidak mungkin bermain egrang / congklak. Setelah diundi, kami bertanding gasing. Sebuah permainan yang juga sudah saya pelajari minggu lalu. Sejatinya saya mempelajari keempat kategori lomba, tetapi untuk egrang sangat sulit karena baru pertama kali saya coba.

Runner Up minggu lalu, Berlian tampak hadir. Kami berkenalan di Kalimalang. Saya mendukungnya karena sebelumnya saya dikalahkan oleh Ryan di semifinal, sehingga Berlian bertemu Ryan di Final kategori Congklak. Kini giliran Berlian yang mendukung saya. Ia mengajarkan bermain gasing, kebetulan minggu lalu ia masuk final setelah menang di kategori ini. Tiba tiba ketika permainan hendak dimulai, dua bintang tamu datang. Ada Andovi dan Jovial da lopez (Skinny Indonesia 24 ). Permainan dirubah. Kami harus melawan bintang tamu terlebih dahulu. Saya melawan Andovi, sedangkan lawan pertama melawan Jovial. Tidak ada yang serius ketika itu karena kami mengira ini hanya untuk main-main. Bahkan berlian dan temannya menyoraki saya “ngalah aja nul”. Sempat terfikir untuk mengalah dan lucu-lucuan. Akan tetapi, untung saya tidak menganggap remeh challenge ini karena ternyata, pemenang dari lomba ini akan masuk semi final, yakni lomba gasing tersebut. saya memang menang melawan Andovi, akan tetapi lawan awal saya kalah melawan Jovi, tidak sengaja katanya. Ia mengira ini hanya main-main. Meski melayangkan protes, juri tak menggubris karena sudah diberitahu peraturan baru tersebut. Akhirnya, di final gasing saya melawan Jovi, tidak lebih hebat dari orang yang seharusnya menjadi lawan saya. Akan tetapi karena bercanda, lawan saya malah kalah dari Jovi dan saya yang diuntungkan.. Endingnya? Sudah bisa ditebak. Saya menang mudah melawan Jovi. Saya masuk FINAL! Sebuah hadiah sudah pasti didapat. Jika juara 1 saya mendapat iPhone 6. Jika runner up, dapat Go Pro Hero yang tidak kalah mahal.

01Masalahnya, di Final kami harus bermain Egrang, Wow! Sebuah pertolongan tampak hadir dari tuhan. “Jika tidak jago, setidaknya saya tidak boleh lebih tidak jago dibanding lawan” pikir saya. Kami diberi waktu 30 menit untuk istirahat dan berlatih. Hasilnya, saya mulai bisa berdiri diantara dua bambu itu. Perlahan belajar, mulai dari berdiri, hingga berjalan selangkah demi selangkah. Pihak lawan juga berusaha keras.

Aba-aba pertandingan dimulai telah dibunyikan. Kami diberi pelindung seperti helm dan deker agar tidak cedera. Permainan ini memang mengandalkan fisik dan keseimbangan. Meski tidak pernah bermain ini ketika kecil, berkat latihan yang serius saya akhirnya bisa berjalan. Hitungan ketiga, perlombaan dimulai. Kami bersiap digaris start. Satu… dua…. Tigaaa… saya melaju dengan kencang. Jauh lebih cepat dibanding latihan tadi. Sedangkan lawan malah jatuh di langkah kedua.

Dan pemenangnya adalah… Ihsan… ucap moderator dengan semangat. “selamat mas Ihsan” ucapnya. Saya tidak menyangka. Sebuah hadiah yang tidak didapat dari keberuntungan, apalagi kebetulan. Usaha yang didapat dari kerja keras, keyakinan, dan pertolongan tuhan tentunya. Sebuah proses panjang yang ditempuh. Ketika itu, iphone 6 masih baru launching. saya menjualnya seharga sembilan juta dan kemudian menjalankan nadzar membayar kuliah yang saat itu masih cukup besar

Saya menelepon Ibu, mengabari tentang rezeki yang saya dapat. Ketika itu saya sadar betapa manis bisa mandiri dan bayar biaya kuliah sendiri. Ini adalah hadiah dari Aqua untuk sebuah ketulusan.

____________

Jawab pertanyaan dan menangkan hadiah pulsa untuk 3 orang beruntung yang menjawab pertanyaan dengan benar
Untuk ikutan, klik Ikuti Quiz

Baca Juga : FLASHBACK #Asus Zenfone 5, Bukti Kekuatan Pertemanan

Tulisan ini tidak bermaksud untuk pamer; menyinggung satu, dua atau sekelompok orang; dan menyebarkan kebencian. Tulisan ini murni untuk motivasi, atau setidaknya berbagi cerita yang semoga dapat diambil hikmahnya. Mohon maaf apabila ada yang salah, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan

Please follow and like us: