Monthly Archives: March 2017

  • 0

Happy Birthday Bu Meutia!

Category : Uncategorized

Note : Tulisan ini berisi pujian-pujian kadar tinggi, hindari membaca sampai habis karena beresiko membuat anda cemburu terinspirasi, atau kagum kepada tokoh.

 

01 meutia

Bu Meutia bersama tiga anak bimbingannya, yang tinggi paling ganteng :v

Mungkin, inilah salah satu jawaban mengapa saya memilih jurusan Antropologi: Meutia Farida Hatta Swasono. Seorang guru besar yang amat saya kagumi, bahkan sebelum mengenal beliau. Jadi penulisan cerita ini bukanlah untuk “menjilat” beliau karena merupakan dosen pembimbing saya, melainkan ungkapan cinta yang sudah muncul lama, yang membuat saya meminta beliau untuk memilih saya menjadi anak bimbingannya ketika rapat penentuan pembimbing bulan desember lalu.

Tampaknya, kekaguman kepada Bung Hatta, proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia inilah yang menular kepada sang anak yang kini menjadi Dosen Pembimbing Skripsi saya. Tidak perlu mendeskripsikan keteladanan Bung Hatta, karena saya yakin informasinya sudah banyak beredar di buku-buku, koran, media online, dan sebagainya. Sumpah Bung Hatta untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka hingga gagal membeli sepatu Bally yang amat ia inginkan demi menolong sesama cukup menjadi bukti keteladanan sang proklamator. Sifat itu juga yang mengalir persis di jiwa Bu Meutia, anak pertama Bung Hatta yang lahir pada 21 maret tahun 1947 lalu di Jogjakarta.

Ketika akan masuk kuliah, banyak orang mengatakan tidak akan ada dosen yang “menagih” tugas  kepada mahasiswa seperti di SMA. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi bu Meutia. Beliau selalu mengingatkan saya dan seluruh anak bimbingannya yang agar mengumpulkan tugas tepat waktu. Meski tidak ada sanksi seperti di SMA, perlakuan yang beliau berikan membuat saya dan beberapa teman malu sendiri untuk  bertemu dengannya. Dosen yang fokus pada kajian Antropologi Psikiatri ini tampaknya sadar cara-cara membuat seseorang merasakan sanksi sosial seperti malu. Masih terbayang ketika ia menghubungi saya, meminta untuk bimbingan,  mengingatkan peter untuk segera menemui beliau, serta menanyakan keberadaan Zani[1] yang tak kunjung datang menemuinya.

Penelitian saya di Cirebon tahun lalu, takkan berhasil tanpa bantuan beliau. Cara meneliti, substansi tulisan, bahkan judul penelitian pun merupakan sumbangsihnya. Ia dengan senang hati ikut berfikir, memberi masukan-masukan berharga, tanpa “menyembunyikan” ilmu dan menyuruh anak didiknya mencari tahu jawaban sendiri. Sebuah gaya mendidik klasik, yang mulai jarang ditemui. Tidak bermaksud mengatakan cara mengajar dosen lain salah, tetapi membuat saya sangat terkesan dengan cara mengajar seperti ini.

Suatu ketika saya membuat janji untuk bimbingan. Namun menjelang waktu yang ditentukan, beliau mengabarkan bahwa terjebak macet. Lantas ia menelepon saya dan membimbing selama perjalanan. Apakah ada dosen lain yang menelepon mahasiswanya selama lebih dari 15 menit sebagai ganti karena tidak bisa bimbingan seperti ini? Ketika minder dengan hasil penelitian, beliau terus menyemangati dan memberi arahan, dan masih banyak kenangan lain. Kebaikan hati beliau ini menghipnotis saya untuk mengatakan kepada dunia tentang sifatnya yang mulia itu, agar dapat diteladani.

Gaya mengajar dan kepedulian kepada anak didik merupakan buah dari keikhlasannya membagi ilmu. Bu Meutia yang merupakan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden SBY ini pernah bercerita mengenai kegemarannya mengajar, sebuah cita-cita sedari kecil. “Saya tetap mengajar, jadi pekerjaan utama saya itu ya mengajar, menteri menjadi sampingan” ujarnya sambil tertawa kecil. Meski demikian, ia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik dan sepenuh hati. Beberapa karya terbaik beliau ketika menjabat seperti penerapan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), pembuatan Undang-undang No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) serta pembuatan undang-undang Pornografi untuk melindungi anak-anak dari bahaya pornografi. Hal inilah yang selalu menginspirasi saya, sebuah bukti nyata bahwa sejatinya Antrop amat diperlukan serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Sayangnya, waktu terus berlalu tanpa kompromi.  Umur terus bertambah, kini Bu Meutia sudah berusia 70 tahun. Tahun ini merupakan tahun terakhirnya mengajar karena sudah pensiun. Artinya, saya, Peter, dan Zani adalah tiga orang laki-laki yang menjadi mahasiwa bimbingan terakhir beliau. Tiga orang mahasiswa yang amat setia, yang  sudah “memilih” bu Meutia sebagai pembimbing sejak mata kuliah Etnografi tahun lalu sebelum lanjut ke Skripsi. Selamat ulang tahun buk, tiada kado terbaik selain doa. Doa saya, semoga ibuk tetap diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT, agar  dapat  terus menebar manfaat bagi manusia. Semoga seluruh kebaikan hati ibuk dibalas tuhan dengan pahala dan surga, Insha Allah.

[1] Anak bimbingan lain bu Meutia.

Please follow and like us: