Monthly Archives: January 2017

  • 6

Menipu Penipu

Cara terbaik menjebak penipu adalah dengan berlagak seperti 

 orang paling bodoh dan lugu, melebihi saat awal tertipu”

01

Foto dari Kiri ke Kanan : Bripka Agus Kristanto – Kapolsek AKBP. Ronald A. Purba, S.I.K, M.Si – Saya – Kompol Irwansyah Putra, ST

Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendoakan, menghibur, mendukung, serta membantu menyelesaikan proses kasus ini. Terima kasih kepada Polsek Metro Menteng, khususnya Kapolsek AKBP. Ronald A. Purba, S.I.K, M.Si beserta jajaran; Unit Reskrim Polsek Menteng dibawah komando Kompol Irwansyah Putra, ST beserta anggota; Bripka Agus Kristanto dan  Brigadir Oloan Sinabutar, anggota tim 3 yang sudah membantu saya secara khusus dari awal hingga akhir; serta tim buser (buru sergap) Polsek Metro Menteng yang paling berperan dan terjun langsung ke lapangan yakni Aipda Robi Danan Jaya, Aiptu Karsiwan, Bripka Chandra Nur. W, Bripka Herman Fadilah, serta Bripka Aris Alimudin. Tulisan ini dibuat sebagai apresiasi kepada POLRI yang terus berbenah memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya Polsek Metro Menteng yang secara intens membantu meski saya membuat LP di Polda Metro Jaya; pihak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan, pelajaran bagi kita semua agar lebih berhati-hati dan waspada, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak hanya berdiam diri menunggu nasib, namun terus mendukung kinerja aparat dan bersinergi dengan berbagai pihak. Selain itu, tulisan ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban saya kepada banyak pihak yang telah saya buat penasaran akibat postingan pasca penipuan. Adapun postingan tersebut wajar mengingat kekhawatiran saya atas penggunaan data yang tersimpan pada laptop untuk hal hal yang tidak diinginkan. Postingan yang berbunyi himbauan agar tidak menggubris / menanggapi jika ada pihak yang mengatasnamakan saya karena laptop hilang cukup membuat banyak orang penasaran. Kepada seluruh sahabat, teman, hingga keluarga yang tidak sempat saya jawab, ini adalah jawaban dari rasa penasaran tersebut. Nama-nama pada cerita dibawah akan disamarkan untuk melindungi privasi dan menghindari berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Rabu, 4 Januari 2017 saya bertemu  dosen untuk bimbingan terakhir sebelum memulai skripsi. Beliau menyanggupi untuk menjadi pembimbing skripsi saya dengan topik penelitian tentang identitas suku bangsa Mandailing asal Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat di rantau. Hal ini sekaligus membuat saya harus “pulang kampung” selama lebih kurang dua bulan untuk penelitian skripsi tersebut.  Sadar akan mengalami penurunan pemasukan akibat tidak bisa mengontrol penuh usaha yang saya jalankan di Depok membuat saya berencana menjual Macbook yang baru saya beli tiga bulan lalu. Rencananya uang penjualan Mac tersebut akan saya gunakan untuk Trading. Keinginan untuk menjual Mac itu sebenarnya tidak lebih besar daripada keraguan untuk menjual laptop apple tersebut. Akibatnya, belum ada satupun data yang saya backup. Selain itu iklan di OLX yang sudah saya pasang sejak beberapa hari sebelumnya juga masih sepi peminat.  Beberapa orang bertanya, namun tidak ada harga yang cocok. Kemudian terdapat satu orang yang tampaknya serius. Pukul 23.25 WIB hari itu saya dihubungi via whatsapp. Dua jam kemudian (Kamis dini hari) setelah saya jawab, dia meminta untuk mengantar barang ke Kantor Departemen Keuangan, untuk audit pajak. Gila ini orang, pikir saya. Saya menolak dan mengatakan kalau mau siang aja.

Kamis, 5 Januari 2017 ada forum Angkatan jurusan dari sore. Saya tidak mau melewatkan acara kumpul terbesar angkatan ini. Hari belum berganti,  pukul 18.24 ia kembali menghubungi saya menanyakan apakah barangnya bisa diantar malam itu. Walaupun belum sempat memindahkan data, saya menyanggupi. Calon pembeli gelisah. Tampaknya ia sangat serius dan butuh. Ia berharap masih bisa diantar malam itu. Ia juga siap mengganti ongkos saya. Kemudian saya meminta alamat lengkapnya. Saya mengajak teman saya Park untuk bertemu calon pembeli. Setelah pulang ke kontrakan, hujan turun cukup deras. Park yang harusnya menemani ketemuan menjadi tertahan akibat hujan. Ketika hujan reda, saya mengajak park untuk meminjam Hardisk milik salah satu teman saya Rizal terlebih dahulu. Karena kampus sudah tutup, kami harus memutar arah melewati jalur yang cukup jauh untuk menuju indekos teman tersebut. Pukul satu dini hari, saya tiba di kontrakan setelah Park saya antar ke kontrakannya karena malam ini batal COD. Saya mencoba memindahkan data, sayangnya Hardisk tersebut tidak compatible dengan Mac milik saya. Setelah lelah mencari berbagai cara seperti mendownload software untuk merubah jenis system di HDD tersebut, saya menyerah. Saya mengatakan kepada calon pembeli bahwa baru akan bisa memindahkan data Jumat siang dan bisa ketemuan sore hari. Calon pembeli masih berharap bisa diantar malam itu juga. Ia mengatakan masih bangun sampai pukul tiga dini hari.

Jumat, 6 Januari 2017 pukul  05.15 calon pembeli meminta izin untuk menelepon

Halo mas Sanul, gua Febri. Begini mas, jujur gua ini editor video. Gua pagi ini bakal presentasi project video ke investor. Gua butuh Mac nya karena cuma Mac seri itu yang bisa baca file presentasi gua[1]. Mac gua rusak dan stuck di bagian apple nya. gua udah cari-cari seri itu tapi gak ada. Mau beli baru sayang uangnya.”

Kemudian saya menjawab “begini mas, maaf sebelumnya, sebenernya saya gak niat banget jual tuh Mac. Saya masih mikir juga, soalnya sayang masih baru”.

“Lah terus kenapa dipasang iklannya? Emang awalnya mas kenapa mau jual?” Tanya Febri lagi.

Satu sisi saya keberatan mas dengan Mac nya, pakai Office gak ori suka hang”tapi kalau difikir fikir sayang juga karena  masih baru.

“Oh kalo Cuma office mah gua ada, entar lo gua kasih, cuma tolong banget bantuin gua dulu”

“Gila, baik banget nih orang”, Pikir saya. Tidak ada sedikitpun rasa curiga. Sepertinya saya  termakan konsep timbal balik dan simpati atau resiprokal[2] seperti yang Mangkunegara (2005) katakan. “Tapi mas, kalau saya tidak jadi jual nanti bagaimana?” Tanya saya.“Gak apa-apa. Lo udah mau bantuin gua juga udah syukur” jawab Febri.

Akhirnya saya memutuskan untuk menemui mas Febri. Saya masih ada waktu berfikir di jalan dan ketika ia presentasi. Toh nanti kalau gak jadi jual juga gapapa, itung-itung bantu orang.

Pukul 07.00 saya menuju stasiun Gondangdia, tempat kami janjian ketemu. Semoga keburu karena jam 08.30 katanya mas Febri sudah harus presentasi. Pukul delapan kurang, saya sudah sampai di stasiun Gondangdia. Mas Febri bilang tunggu sebentar, lagi otw. Pukul 08.15, sebuah Ninja berwarna Orange datang mendekat dengan suara mesin khasnya. Tidak salah lagi, itu mas Febri. Saya kemudian disuruh menaiki motor gede buatan Kawasaki itu tanpa sempat jabat tangan. Kesan pertama yang baik semakin meyakinkan saya dan tidak terfikir sedikitpun akan hal buruk yang nanti akan terjadi.  Saya dibawa menyusuri jalanan kota Jakarta sambil bercengkrama, menuju seven eleven di kawasan Sabang. Motor parkir, kami masuk ke mini market untuk membeli minuman. Selama 30 menit kami membahas banyak hal. Mas Febri mengatakan presentasinya diundur jadi pukul Sembilan. Saya seperti terhipnotis dengan kata-kata mas Febri.

02

Motor yang digunakan pelaku, Ninja 250 CC

Tidak ada perasaan curiga, apalagi ketika dia setuju tetap mentransfer uang sebagai jaminan karena  saya meminjamkan laptop itu. “Gapapa mas, yang penting saya tinggalin KTP dan Transfer uangnya”. Entar kalo gak jadi tinggal transfer balik aja” katanya. Tanpa fikir panjang, saya mengiyakan. Kemudian saya dibawa menuju MNC Tower, tempat ia presentasi. Sayangnya, saya diturunkan di Circle K perempatan jalan Kebon Sirih dekat MNC. “tunggu sini aja, lobi MNC tidak ada kursi”.

Inilah kali terakhir dan  hal paling bodoh yang saya lakukan[3]. Saya begitu mudah percaya. Bahkan ketika ia menunjukkan bukti transfer mbanking ke rekening saya, saya tidak sempat cek. Lebih parah lagi ketika ia menyuruh saya  “mas kalau mau foto, foto aja”. Saya tidak sama sekali melakukan itu. Saya percaya, sungguh sangat percaya.  “Paling lama saya satu jam mas. Nanti kalau ada yang telepon, diangkat aja. Paling itu dari kantor buat ngecek apa bener saya beli Mac” kemudian ia berlalu pergi.

Ketika duduk, barulah saya membuka HP, mengecek saldo via mbanking. Hasilnya, saldo belum bertambah. Mungkin pending, fikir saya. Satu jam berlalu. Belum ada tanda-tanda mas Febri muncul. Saya mulai gelisah. Apalagi saldo belum juga berubah. Battery low, Powerbank ketinggalan di tempat Forkat semalam. Saya coba sms karena telepon tidak diangkat. Bukannya mendapat jawaban untuk segera bertemu, ia malah meminta untuk memberikan dus Mac kepada kurir Gosend yang sudah ia pesan. Mas Febri masih coba meyakinkan dengan berbagai alasan.

Katanya butuh box untuk registrasi di kantor. Saya mulai curiga. Desakan dari gosend dan mas Febri yang harus segera meregistrasi barang membuat fikiran saya bergejolak. Disatu sisi mulai khawatir, namun sisi lain takut membuat mas Febri kecewa kalau barang gagal di registrasi. Driver gosend datang dengan muka masam, sambil mengomel kalau ia merasa dibikin muter-muter. “Bapak gimana sih, katanya di Sevel, kok malah disini?” Ya mana saya tau pak, saya bukan yang pesen, salah yang pesen lah” Driver yang tidak sabaran terus mendesak. “mas buruan, udah lama nih, kecuali mas mau tambah (fee)” celotehnya. “bentar ya pak, ini saya COD ama orang, duitnya belum masuk” jawab saya sambil memberikan uang 15 ribu. “Box ini salah satu bukti kepemilikan saya. Kalau box ini ilang, saya ga bisa klaim asuransi. Kalau ada, saya bisa klaim dan dapat ganti” saya coba jelaskan walau sepertinya driver paruh baya itu tidak mengerti sama sekali.

“gak gitu deh pak, bapak nanti coba fotokan orang yang terima barang. Tadi saya lupa foto. Nanti dengar instruksi saya” jelas saya kepada driver itu. Setelah mengiyakan, ia berlalu dengan buru-buru. Pada waktu yang bersamaan, saya masih terus berkomunikasi dengan Mas Febri. Akhirnya ia menyuruh saya menemuinya ke MNC Tower Lantai 9, Ruang Produksi. Saya disuruh menemui wakil manager bidang produksi tersebut. Tanpa buang waktu, saya segera ke lokasi yang diminta. Harapannya, dapat segera dipastikan ini benar atau penipuan. Setelah berjalan cukup jauh dari Circle K menuju MNC Tower, saya mencari orang yang disebut. Hasilnya? TIDAK ADA. Fix ini penipuan. Saya segera menghubungi driver gojek. Satu panggilan tidak terjawab, mungkin masih di jalan. Panggilan kedua diangkat “Pak, sudah kasih barangnya? Tolong jangan dikasih pak, saya ditipu” saya berteriak dari balik telepon. “kalau gak kasih,  saya gak dapet pak (bayaran)” ujar si driver gojek sambil menutup telepon. Sial, kurang ajar juga main matiin aja. Lalu saya sms dan katakan “saya akan  bayar pak, tolong pak saya ditipu, dsb” namun tidak ada respon. Saya coba telepon kembali “pak sudah kasih belum?” driver jawab “orangnya lagi nyebrang, iya iya ini udah dekat” ia kembali menutup telepon tanpa mendengar instruksi saya. Tidak lama kemudian, sebuah gambar diterima via whatsapp.

IMG_5095

Hasil Jepretan driver Gosend, gak usah di sensor ya, udah blur juga

Oh syukurlah bapak itu foto juga. Eh bentar…. Sh*T, fotonya blur! Kayak foto dengan jenis CIF (0.3 Megapixel). Saya tertipu. Barang sudah lenyap bersama dus-nya. Adzan berkumandang. Awalnya saya enggan untuk jumat, namun kemudian sadar, saya butuh menenangkan diri.

Febri selanjutnya disebut sebagai pelaku.

Saya terus menghubungi pelaku, tidak habis fikir ditipu. Banyak pesan singkat saya kirimkan yang berisi permintaan untuk mengembalikan data saja. Saya sangat butuh data itu karena tidak ada backup-an sama sekali. Saya berjalan menuju Circle K,  berharap ada rekaman cctv yang bisa menjadi barang bukti. Namun usaha gagal karena tidak ada teknisi disitu. Kemudian saya menuju Sevel, tempat pertama bertemu. Setelah memohon dan menjelaskan kepada petugas, akhirnya saya mendapat foto yang di shoot dari HP petugas itu sendiri. Jumlahnya tidak banyak, hanya 4 buah foto. Itupun dengan sudut gambar yang kurang baik. Tapi cukuplah untuk menjadi barang bukti dan petunjuk mencari pelaku.

07

Foto Pelaku ketika di 7-11

Setelah punya cukup bukti, saya menuju kantor polisi yang berada 20 meter dari sevel. Saya menjelaskan kepada petugas kejadian yang dialami dan memperlihatkan KTP Pelaku. “Tenang pak, coba saya cek KTP nya dulu” ujar petugas itu menenangkan saya yang panik. “Palsu ini mah, Lurahnya bukan ini, palsu” kata polisi itu. Tuhan…. Bagaimanaaa ini. Kemudian polisi itu membawa saya ke polsek menteng. Disana ada Bripka Agus dan Brigadir Oloan yang sedang piket. Saya kembali menjelaskan peristiwa yang saya alami dari awal. Keduanya sangat baik, menenangkan saya dan meminta tim buser untuk segera datang. Sembari menunggu, kami menuju TKP terlebih dahulu. Mas Agus meminta rekaman CCTV kepada petugas. Kali ini kami diizinkan masuk dan merekam sendiri. Tidak lama kemudian, pukul 15.44 tiba tiba pelaku mengubungi kembali. Ia mengirim pesan singkat via whatsapp yang intinya mengatakan mau mengembalikan barang saya. Pelaku juga meminta maaf dan mengaku salah. Ia melakukan hal ini karena butuh biaya chemotherapy orang tuanya (tidak disebutkan ayah/ibu). Saya senang, bahagia, karena pelaku sadar[4]. Drama kedua terjadi. Saya coba meyakinkan pelaku kalau saya percaya. Tapi sepertinya pelaku lebih pintar. Ia mengatakan hanya butuh KTP nya saja. Saya coba membuat pelaku tertarik dengan mengatakan akan memberikan uang juga. Mas Agus dan Bang Oloan dari polsek menteng standby diluar, bersiap tangkap tangan. Saya bilang “ Mas Agus, nanti kalau orangnya datang, mungkin saya akan maafkan”. “Yasudah mas terserah mas, kalau begitu tunggu aja dulu” katanya. Pelaku memberikan kontak kakaknya bernama Fahmi, orang yang mengantar barang. Sebenarnya saya sudah curiga. Karena awalnya pelaku mengatakan barang diantar oleh temannya. Kemudian berubah menjadi kakaknya. Oh mungkin kakaknya ini adalah temannya juga.

Satu jam kemudian, saya mendapat pesan “Mas, maaf. Saya sekarang sama pembeli laptopnya. Febri suruh saya kasih ke mas, tapi saya butuh uangnya untuk chemotherapy orang tua”. Jawaban yang tentu menohok saya: PHP. Saya terus melakukan negosiasi. Pelaku meminta untuk transfer uang. Ya gak mungkin kan? Masa saya transfer lagi dan kena dua kali?. Penantian sore itu berakhir pilu. Polisi yang sudah standby tampak kecewa, apalagi saya. Beberapa saat kemudian, kami kembali ke polsek. Disana sudah ada empat orang tim buser yang datang. Bang Robi meminta temannya untuk melacak no HP pelaku. Sayangnya sudah tidak aktif. Kedua nomor tersebut terakhir aktif 30 menit lalu di sekitar jalan Cempaka Putih. Agak kecewa juga kenapa baru dilacak saat itu. Tapi sudahlah, bantuan mereka juga sudah cukup. Pukul 18.00 saya menuju Polda Metro Jaya untuk melaporkan kejadian. Mas Agus bilang personil di polda lebih banyak, terlatih, dan punya alat canggih. Sayangya, sampe disana antrian cukup banyak. Saya baru selesai membuat laporan pukul 20.30 WIB. Penyidik juga baru akan saya dapat maksimal seminggu setelah itu. Keburu kabur deh penjahatnya. Padahal, niat awal ke Polda agar segera gerak cepat mumpung ruang pelaku berkeliaran  masih sempit. Hari sudah malam, saya menuju Depok untuk pulang. Saya juga menghubungi AppleID untuk menanyakan status Mac saya. Menurut pengakuan CS, jika saya sudah login iCloud maka tidak akan ada yang bisa menghapus data saya kecuali dengan paksa. Jika dihapus paksa, maka Mac akan otomatis terkunci, itu katanya. Tapi masa tidak ada celah? Apalagi pembeli merupakan pengadah. Saya tiba di Depok pukul 23.55. Hari ini ada acara inisiasi di kampus. Sabtu pagi, saya dihubungi seorang yang bernama Eldy, anggota polisi bagian IT di Polda Metro Jaya. Meski bukan sebagai penyidik Ia memberi saya banyak masukan.

“itu sudah motif biasa mas, tidak usah hubungi pelaku,  biarin nanti dia ketangkep aja” seru mas Eldi. Meski demikian, sesekali saya masih mengirim pesan melalui sms dan whatsapp. Berharap pelaku baca dan berubah fikiran. Tidak ada salahnya mencoba pengaruhi pelaku kan? Siapa tau dia berubah fikiran. Selain itu, data yang ada di Mac itu sangat penting. Mulai dari data kuliah, pribadi, hingga pekerjaan. Jadi saya belum bisa menerima kehilangan data yang sudah disimpan sejak semester 3 kuliah[5].

Sabtu tidak ada komunikasi, saya fokus mengikuti kegiatan inisiasi di kampus.

Minggu, 8 Januari 2017 sekitar pukul 14.00 saya kembali ke TKP. Mencoba mencari bukti atau petunjuk baru. Saya kemudian melihat lihat lagi chat awal. Disitu pelaku sempat bilang alamatnya di Cempaka Putih. Eits, tunggu sebentar; Polisi juga sempat melacak lokasi terakhir ponsel aktif di Cempaka Putih. Artinya, lokasi pelaku memang di sekitar itu. Saya buka lagi semua bukti bukti foto dan rekaman CCTV. Terlihat memang pelaku sangat pintar. Ia membawa saya ke sevel yang tidak memiliki CCTV di parkiran. Ketika masuk sevel, gesture pelaku juga cukup baik menghindari kamera. Ditambah dengan topi yang dikenakannya, sulit untuk mengenali pelaku.

Pukul 17:41 hp saya bergetar. Sebuah pesan singkat kembali masuk. Pelaku menjawab pesan saya sebelumnya yang mengancam akan melaporkan ke polisi jika tidak mengembalikan data. Tampaknya ancaman itu meyakinkannya kalau saya memang belum melapor polisi. Akibatnya perasaan tamak kembali muncul untuk menipu kali kedua. “Ini mau dianter kemana mas? Gimana? Tanya pelaku. “ Saya juga udah gak butuh, sudah pemakaman tadi ba’da dzuhur” pelaku coba membuat drama kembali. Orang tua yang awalnya chemotherapy ceritanya sudah meninggal. Ia berniat untuk mengembalikan barang. Saya mengatur ritme, seolah percaya dan simpati. “innalillahi wa inna ilaihi rojiun mas, apa bener belum dijual mas? Kalaupun udah, saya hanya butuh data nya mas. Bisa ketemuan dimana mas?” Tanya saya. “saya bayar deh mas” tambah saya untuk lebih menarik pelaku. “terserah mau bayar atau nggak,  kalaupun enggak, gpp. Saya hanya butuh KTP saya itu” katanya. KTP Palsu kok dijadiin bahan buat nipu lagi ya? Fikir saya dalam hati. Pelaku mengajak menggunakan gosend. Saya kirim KTP + Uang tunai ke alamatnya, sedangkan saya akan menerima barang dari dia yang juga dikirim via gosend. Kami menyusun jadwal untuk bertemu. Disepakatilah pukul 21.00 untuk sama sama order gosend. Terjadi banyak chat pada rentang jam itu. Saya sangat berharap, kali ini jangan sampai lolos. “jangan kasih kendor” Pikir saya. Saya pun mencoba menjadi orang paling bodoh dan lugu di dunia ini. Posisi saya pukul 20.00 masih di depok. Sedangkan pelaku meminta untuk order pukul 21.00. Gila, saya hanya punya waktu satu jam untuk mengatur strategi. Fikiran kembali bergejolak. Saya tidak ingin kali ini gagal. Banyak wacana berterbangan di fikiran saya. Namun tidak mungkin karena beberapa hal. Satu satunya hal yang memungkinkan adalah menjebak pelaku. bagaimana caranya? Saya meminta bang Eldy yang punya alat pelacak lokasi dari provider untuk membantu, sayangnya ia tidak tertarik sama sekali dan menjawab “saya sedang sibuk”. Tidak ada cara selain tangkap langsung seperti rencana awal di sevel bersama mas Agus, bedanya kali ini lebih kompleks; menggunakan jasa gosend.

Pelaku harus dipastikan benar benar akan menemui gosend pesanan saya. Ketika itu polisi harus membackup dari belakang. Oke fix. Saya kemudian segera menghubungi mas Agus. Sayangnya beliau sedang di rumah dan meminta saya agar langsung ke Polsek Menteng. Sampai di Polsek, saya mengatakan perihal kedatangan saya untuk menjebak pelaku. Lagi lagi misskom terjadi, ternyata mas Agus belum memberi “pengantar”. Akibatnya saya harus berusaha keras meyakinkan polisi bahwa saya memang akan bertemu dengan penjahat. Tidak lama kemudian, barulah mas Agus menelepon dan menjelaskan kepada polisi yang berjaga.

Hari sudah pukul Sembilan malam. Saya mengatakan kereta tertahan di stasiun Manggarai. Sebuah foto di Manggarai yang saya tangkap 30 menit lalu baru saya kirim ketika di Polsek untuk meyakinkan pelaku dan mengulur waktu. Anggota buser (buru sergap) baru datang satu, yakni bang Robi. 30 menit berselang, bang Herman datang disusul bang Candra yang akan menyamar sebagai gojek. “bang maaf bang, masih lama gak ya bang? Saya takut pelaku batal nih bang” saya sangat gelisah. “iya bentar, lagi pada di jalan” ujar bang Robi. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Berbagai alasan sudah saya keluarkan untuk mengulur waktu diantaranya menerima permintaan pelaku untuk nunggu di stasiun gambir, padahal saya tau kereta tidak berhenti disitu. “ Mas ternyata kereta gak berenti di gambir, saya putar balik dulu ya”. Selain itu saya meminta izin untuk mengecas HP di stasiun Gondangdia sebentar karena HP sangat low. Saya menscreenshoot HP, memperlihatkan battery yang tinggal 7% sedang di charge. Padahal saya menggunakan powerbank.

“gimana? Jadi gak nih?” pelaku mulai curiga. Suasana tidak karuan. Jantung saya berdegup kencang, takut rencana yang sudah setengah jalan ini batal. Tak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan pelaku, saya meminta sama-sama screenshoot pemesanan gosend, kemudian memfoto barang dan driver. Dengan demikian saya akan terkesan hati-hati dan serius. Pelaku tentu pintar dan bisa mengakali segala hal itu. Walau cara ini menyulitkan saya juga, tetapi cara ini sekaligus membuat pelaku percaya bahwa saya sendiri dan tidak ditemani polisi. Saya mengambil uang di ATM, mengirim gambar ke pelaku. Pelaku berlagak baik dan seolah jujur. Ia mengatakan agar uang ditaruh di plastik hitam, jangan bilang ke driver gosend kalau itu uang, kalau gak pasti gak sampai. Tentu hal ini memberi saya nafas tambahan untuk mengulur waktu. Saya mengatakan sedang mencari cara membungkus uang tersebut. Pukul 22.45 barulah anggota buser lengkap. Pukul 23.00 kami menuju stasiun. Saya mengatakan sudah siap untuk memesan gosend. Sebuah mobil avanza sembunyi dibelakang stasiun Gondangia. Saya memesan gosend sesuai permintaan pelaku. Sinyal agak lemot, butuh sekitar lima menit untuk dapat driver. Tapi…driver pertama menelepon dan meminta untuk di cancel. What the….

Oke, Saya menarik nafas, mencoba kembali memesan gosend. Setelah dapat, saya hubungi langsung. Kali ini lelaki dengan logat betawi  berbicara lembut dibalik handphone. “Halo pak, posisi dimana yak?” tanyanya. “Saya di dekat RM. Sederhana pak, dibelakang Bank BRI”. tidak lama kemudian pemuda yang sepertinya baru berumur tidak lebih dari 30 tahunan datang menghampiri saya. “Pak, ini barangnya di mobil” saya membawa driver tersebut mendekati polisi. Kemudian polisi mengerumuni pemuda itu. Negosiasi dilakukan. Pemuda ragu, mukanya pucat. Polisi berpakaian sipil tampak tak meyakinkan. Kemudian saya bilang “mas, ini mereka polisi”. Saya memperlihatkan LP, tapi tidak cukup. Driver tersebut meminta untuk di cancel, tapi saya larang. Terjadi sedikit debat sengit disitu, untungnya dengan berbagai cara dan kalimat persuasive, driver itu mau bekerja sama. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.10. Saya meminta driver gojek untuk menghubungi pelaku terlebih dahulu agar terlihat seperti beneran.

“Halo pak, ini lokasinya dimana ya pak?” tanyanya. Sayup sayup terdengar jawaban jawaban pelaku yang memandu. “Kalau tulisannya sih kosmetik pak” jawab gojek lagi. Sepertinya pelaku bertanya apa isi paket. Driver tampak pucat, namun mencoba tetap tenang. Setelah berhasil megelabui, giliran saya yang pura pura bertanya kepada pelaku. “Mas nomor gojek yang nganter barang saya berapa? Kenapa saya belum dihubungi?” Pelaku mengatakan “nih ngomong langsung aja”. Sampai saat ini saya masih tidak tahu dengan siapa saya berbicara malam itu. Seseorang yang bertanya posisi saya mengaku sebagai gojek, namun menggunakan handphone pelaku. Apakah pelaku merupakan komplotan?

Gojek dan Polisi berganti peran. Gojek menaiki mobil, sedangkan polisi mengendarai motor gojek. Alasannya adalah untuk menangkap pelaku, tentu sulit bagi gojek untuk melawan jika terjadi apa-apa. Kami menuju lokasi yang menjadi tempat pelaku menerima barang. Sedangkan gojek yang mengaku mengantar barang ke Gondangdia tidak ada kabar. Jelas sekali hal itu palsu. Tidak apa-apa, saya akan memposisikan diri menunggu di Gondangdia agar pelaku tetap percaya. Perjalanan sangat menegangkan. Pelaku ternyata sengaja memilih lokasi yang agak sepi. Mobil yang kami tumpangi sulit mengambil posisi. Beberapa kali bang Robi sebagai sopir mengeluh “gila! susah nih posisinya”.

Gojek menunggu di dekat halte Busway. Bang Herman dan Bang Aris mengendari satria FU mengambil posisi menghadap gojek dari kejauhan. Jalan yang searah mempersulit tempat persembunyian. Suasana makin tegang, beberapa menit berselang sebuah motor bebek datang menghampiri gojek. Tampak dua orang berboncengan menapok gojek. Astaga, apakah pelakunya bawa temen? Oh ternyata bukan. Tidak lama keduanya meninggalkan lokasi. Menurut bang Candra yang menyamar sebagai Gojek,  keduanya adalah sepasang kekasih yang lagi kasmaran. “gila dikagetin gw, tiba tiba gw ditapok ditanya : bang cewe gw cakep ga? Gw abis jadian nih” kata bang Candra menirukan perkataan dua orang itu selepas tugas.

Beberapa saat kemudian, sebuah motor Ninja datang. Oh My God, itu orangnya. Tidak salah lagi, orang yang sama dengan motor yang sama. Sialnya, pelaku keburu tau dan sadar ada yang tidak beres ketika Satria mulai mendekat. Ia kabur dengan cepat menggunakan motor 250 cc miliknya. Gojek hanya bisa terpana, tanpa perlawanan. Bang Robi menginjak gas, mencoba memacu mobil yang kami tunggangi dibelakang Satria. Terjadi aksi kejar-kejaran beberapa saat hingga pelaku mengambil jalan Forbiden dan mobil yang dikemudikan bang Roby tidak sanggup lagi mengejar. Sial!!! Gagal lagi! Saya kesal. Ibarat pancingan, udah susah-susah dan hampir kemakan pancingannya, ikannya kabur. Waktu terus berjalan. Kami saling mengeluh. Bang Chandra yang mengendarai motor gojek terus mengeluarkan sumpah serapah “Anjin*, matiin mesin aja kagak berani tuh orang, gak kekejar gw” katanya. Bang Robi tidak kalah kesal, apalagi saya.

Eh tapi… bagaimana Satria? Kekejar ga? Secara Head to Head, tentu Mustahil. Bang Robi menyuruh untuk menghubungi Bang Herman yang mengendarai Satria. Hasilnya ? WAW…. Kami menuju ke jalan yang ternyata sudah dikerumuni warga, pelakunya TERTANGKAP!! Dengan tangan terborgol, ia terus memohon mohon meminta maaf. Saya keluar dari mobil, melayangkan sebuah pukulan yang mengenai kepala pelaku. Ah gak berasa, kurang kenceng. Sudah lama tangan ini tidak menghujam orang, sepertinya kurang bertenaga. “Mampus lo” sumpah serapah keluar dari mulut saya. Antara emosi bahagia, bangga, dan haru bercampur jadi satu. Kalau bukan karena ditahan bang Robi, mungkin saya sudah kembali memukul pelaku di tempat.

21

Pelaku berhasil tertangkap

Beneran ini kan orangnya? Tanya bang Robi. Saya yakin 1000% bang, jawab saya. Pelaku dimasukkan ke mobil, dibawa menuju Polsek. Bersyukur, akhirnya pelaku dapat ditangkap pukul 23.45; kurang dari 52 jam setelah saya membuat laporan di Polda Metro Jaya. Ketika di mobil, pelaku memohon-mohon, meminta maaf. Sayangnya Mac sudah dijual. Sekarang saya tidak tahu bagaimana nasib data-data saya yang ada disana.

Setelah tertangkap, pelaku diinterogasi. Saya menyadari banyak hal yang terasa aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan;

  1. KTP Yang diberikan kepada saya menurut pelaku adalah asli. Polda Metro Jaya juga memastikan keaslian KTP itu. Polisi dekat Sevel yang mengatakan KTP itu palsu cukup membuat banyak spekulasi. Coba kalau tau itu asli, tentu saya bisa lebih tenang. Tapi pelaku berani juga ya ngasih KTP Asli.
  2. Kalau benar KTP itu asli, wajar pelaku sangat menginginkan KTP itu kembali. Sayangnya cara yang dipakai sudah tidak mempan. Masa mau ketipu dua kali?
  3. Pelaku merupakan orang berada, punya ninja dan baru ambil mobil Fortuner. Kontrakannya juga 36 juta setahun. Apakah uang itu hasil nipu juga? Kalau kaya, duitnya buat apa? HUTANG.
  4. Pelaku tidak sehebat yang dibayangkan. Menjemput barang sendiri dengan motor yang sama tentu beresiko. Atau mungkin, pelaku juga tertipu.

Kamu menemukan hal janggal dalam cerita diatas? Coba diskusikan di kolom komentar!

Beberapa saran dan manfaat yang bisa dijadikan pelajaran

  1. Untuk kita semua, berhati-hatilah dan terus waspada. Penipuan tidak memandang status dan derajat. Orang yang terlihat kaya juga ternyata lebih berbahaya.
  2. Tetap tenang dan terus kumpulkan bukti-bukti jika mengalami hal serupa. Lapor polisi dan kawal penyelesaiannya. Polisi menangani banyak kasus dengan jumlah personil yang terbatas. Satu penyidik bisa menangani hingga 10 kasus, jadi jika ingin cepat, bantu polisi menangani kasus tersebut dan jangan hanya menunggu.
  3. Tetap semangat

[1] Beberapa kali ketika bertemu saya penasaran dan meminta pelaku mencoba dulu file miliknya apakah bisa terbaca di laptop saya. Pelaku enggan mencoba dan sangat yakin bisa. Ia berkata “udah, seribu persen saya yakin bisa” sambil menunjuk seri laptop saya MD101.

[2] Konsep timbal balik. Saya menyebutnya “kebaikan berbalas kebaikan”. Agama saya juga telah lebih dulu mengajarkan kebaikan tersebut. Bahwa setiap kebaikan sekecil apapun, akan mendapat balasan (QS 99:7-8)

[3] Anda sebagai pembaca mungkin akan melihat saya sebagai orang yang sangat bodoh dan mudah percaya. Tetapi fakta di lapangan bisa berbeda jika Anda merasakan sendiri apa yang saya rasakan. Pelaku cukup cerdas dan mampu menanamkan kepercayaan.

[4] Meski merasa tidak masuk akal, saya coba meyakinkan diri untuk meyakinkan pelaku agar rencananya berhasil. Pelaku menyusun rencana, saya juga mencari cara.

[5] Semester 1 dan 2 saya juga mengalami musibah berupa kerusakan laptop yang menyebabkan harus di format dan kehilangan data yang disimpan sejak semester 1 dan 2.

Please follow and like us: