Monthly Archives: November 2016

  • 4

Penyanderaan; Keputusan dan Kesempatan

Category : Uncategorized

Tulisan tentang pentingnya mengikuti Inisiasi

[Revisi dari tulisan pertama dengan judul sama yang pernah di posting pada 2014]

Note : tulisan ini bisa membuat Anda ragu untuk tidak mengikuti Inisiasi atau malah menjadi tidak ingin untuk tidak mengikuti Inisiasi. Jika takut pilihan itu berubah, jangan lanjutkan untuk membaca tulisan ini.

Foreword

Tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya posting pada oktober 2014 lalu yang ditujukan untuk angkatan 2014. Namun saya hapus dan tidak di posting ulang untuk angkatan 2015 karena saya rasa sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat itu. Pertama kali tulisan ini dibuat untuk memberi tahu 2014 bahwa saya adalah angkatan 2013 yang tidak mengikuti Inisiasi pada tahun pertama, namun menyesal dan memutuskan untuk Inisiasi ulang pada 2014. Lalu, kenapa tulisan ini kembali dibuat?

Saat ini saya adalah seorang mentor untuk kelompok Antrop Bisnis. Salah satu menti saya ragu untuk ikut Inisiasi. Lantas saya merasa apa yang dialami oleh menti saya adalah apa-apa yang sudah saya pernah alami dahulu. Saya paham betul apa yang mereka fikir, rasa, dan takutkan. Bukan hanya di kelompok saya, tampaknya kegelisahan untuk mengikuti Inisiasi atau tidak, juga terjadi pada kelompok lain dan memang akan selalu terjadi. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memberi sedikit masukan bagi Anda yang masih ragu-ragu untuk mengikuti Inisiasi. Tulisan ini mengandung banyak opini, yang tentunya bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Saya tidak pernah dan tidak akan menjeneralisir opini ini sebagai opini umum.

Sebaiknya keputusan dibuat setelah mempertimbangkan segala kemungkinan baik-buruknya. Seperti yang pepatah katakan “jangan memutuskan sesuatu ketika emosi, dan jangan berjanji ketika senang”. Saya takut keputusan Anda untuk tidak Inisiasi belum difikirkan secara baik. Bertanya kepada senior adalah salah satu cara mendapatkan referensi untuk memperkuat keputusan Anda. Senior meski bagaimanapun pastinya sudah mengalami apa yang baru akan anda lewati. Sebaiknya Anda tidak hanya bertanya kepada senior yang mengikuti Inisiasi pada tahun pertama atau senior yang tidak mengikuti Inisiasi sama sekali, namun juga kepada senior yang Inisiasi susulan. Hal ini karena sudah pasti senior yang mengikuti Inisiasi tidak merasakan langsung bagaimana posisi orang yang tidak Inisiasi. Begitu juga dengan senior Anda yang tidak Inisiasi, tidak akan bisa merasakan langsung posisi menjadi sudah Inisiasi, kasarnya; bias. Saya tidak mengatakan saya paling tahu, namun setidaknya saya pernah merasakan kedua posisi tersebut (tidak Inisiasi dan Inisiasi)

Tanpa harus panjang lebar membaca tulisan ini kebawah, Anda seharusnya sudah bisa menebak, mengapa saya mengikuti Inisiasi ulang. Namun sebelumnya saya akan sedikit bercerita mengapa tidak Inisiasi pada tahun pertama. Cerita yang mungkin sama persis atau identik dengan apa yang Anda rasakan. Keputusan saya untuk tidak mengikuti Inisiasi adalah keputusan matang yang dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya; ingin mengulang SBM, capek, kesehatan, waktu, lingkungan, dan sebagainya. Tetapi bisa saya pastikan bahwa faktor tersebut bukanlah faktor utama. Faktor utama adalah niat. Ketika tidak memiliki niat untuk ikut, maka berbagai alasan diatas akan muncul dan seolah menjadi sebab. Saya tidak menyalahkan niat Anda, justru saya sadar bahwa niat tidak akan muncul jika tidak mengetahui tujuan dan akibat. Ketidaktahuan saya akan dampak tidak mengikuti Inisiasi serta apa sebenarnya makna Inisiasi adalah kecerobohan awal saya ketika maba. Saya mahasiswa daerah, mengalami culture shock, masih tidak bisa membagi waktu, dan tidak ada orang yang mengarahkan. Akibatnya banyak hal yang saya putuskan tanpa memiliki referensi yang cukup. Tulisan ini adalah salah satu referensi yang bisa Anda pertimbangkan. Harapannya, tidak ada lagi penyesalan dan alasan “tidak ada yang mengarahkan” seperti yang saya rasakan.

Tujuan Inisiasi

Inisiasi adalah ceremony pengukuhan maba sebagai “kerabat” baru. Untuk menjadi sekelompok golongan, diperlukan “pengukuhan”. Sedangkan sebelum pengukuhan tentu memiliki proses/ tantangan yang harus dilewati. Lesehan adalah salah satu rangkaian proses menuju Inisiasi. Lesehan sendiri memiliki tujuan mulia, yakni edukasi terhadap maba yang berada pada masa transisi antara siswa menjadi mahasiswa. Terlepas dari tugas seperti meminta tanda tangan, review jurnal, dan penelitian lapangan akan anda rasakan manfaatnya nanti setelah memasuki semester atas[1]. Saya sendiri mengakui, lesehan tahun kedua cukup banyak memberi pelajaran berharga ketika pada matkul seperti pengolahan data kualitatif, teknik penelitian, dan berbagai kegiatan lain yang memang menjadi style nya Antropologi.

Tapi kak, saya pengen SBM lagi…

Pertama yang ingin saya katakan adalah “yakin lulus?” Saya juga pernah gelisah akan hal tersebut. Merasa lebih baik fokus untuk SBM. Akan tetapi tidak elok menjadikan alasan tersebut sebagai penyebab untuk tidak mengikuti Inisiasi. Meski ikut SBM pada tahun kedua, saya tidak sama sekali menjadikan itu sebagai faktor utama. Bahkan tidak banyak teman saya yang tahu kalau saya ikut SBM lagi.

Jika Anda tiba – tiba tidak lulus SBM, bagaimana? Mau ngulang Inisiasi? Nanti saya jelaskan tidak enaknya mengulang di tahun kedua. Akan tetapi satu hal yang ingin saya sampaikan, tidak ada ruginya mengikuti Inisiasi pada tahun pertama. Jika Anda memang diterima pada SBM nanti, selamat! Anda tidak sama sekali rugi, bahkan Anda akan tetap dianggap sebagai “kerabat”. Seperti apa yang selalu teman saya katakan “Kerabat Non Antrop” merujuk pada salah satu teman saya yang pindah jurusan. Anda juga dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat, serta kenal senior Antrop ketika meminta tanda tangan. Pun jika Anda tidak diterima SBM nanti, Anda sudah Inisiasi dan menjadi “kerabat”. Ngomong ngomong probabilitas ini mengingatkan saya pada Pascal’s Wager [2] yang saya analogikan dengan Inisiasi ; pilihannya cuma dua, Inisiasi atau tidak. Maka memilih Inisiasi adalah pilihan terbaik karena tidak akan merugikan sama sekali. Jika sudah Inisiasi, lulus atau tidak lulus SBM pun akan aman karena sudah menjadi kerabat. Sedangkan jika tidak Inisiasi, sukur-sukur jika lulus SBM, kalau tidak lulus? siap-siap menghadapi “penyanderaan” seperti apa yang saya rasakan.

Penyanderaan

Berbicara penyanderaan yang saya rasakan, adalah hal yang muncul dari dalam diri sendiri. Sejatinya saya adalah orang yang aktif dan tidak bisa tidak berteman banyak. Coba baca tulisan saya tentang Inisiasi sebelumnya. Ketika tidak Inisiasi, secara tidak langsung saya merasa jauh dari teman-teman angkatan. Bagaimana tidak, banyak kegiatan maba yang saya tidak ikuti karena tidak mengikuti rangkaian Inisiasi. Selain itu saya juga menjadi takut berkenalan dengan senior. Saya sama sekali tidak menyalahkan system. Ini adalah perasaan yang muncul sendiri dan wajar terjadi. Buktinya ada orang yang tidak Inisiasi namun tampaknya santai dan tidak merasa apa yang saya rasakan, meski saya yakin pasti dia merasakan terdapat setidaknya setitik perbedaan. Selama hampir satu semester setelah tidak Inisiasi, saya merasa berjalan sendiri dan menjadi minoritas. Tujuan dari Inisiasi dengan rangkaian kegiatannya yang sudah saya jelaskan memang agar membantu maba dalam adaptasi terhadap jurusan baru nya. Anda tentu akan merasakan kerabat sangat akan membantu memberikan contoh makalah, tugas kuliah, dan manfaat lain setelah inisiasi nanti, bukan sekarang. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Keputusan
Bukan penyesalan namanya jika disadari di awal. Itu pula yang saya rasakan. Setelah memaparkan sedikit dampak tidak Inisiasi seperti sulit uituk dikenal senior, kerabat-kerabat lain, dan merasa terkucil [3], kini keputusan ada ditangan anda. Begitu juga saya yang memutuskan untuk mengikuti Inisiasi susulan. Terkadang saya berfikir dan menyesal, kenapa harus saya yang ditakdirkan tuhan untuk tidak Inisiasi tahun lalu? Tetapi di satu sisi, saya bersyukur dan mengambil hikmahnya. Mungkin dengan ini saya bisa berbagi pengalaman yang saya rasakan kepada junior agar tidak memiliki perasaan sama. Hingga saat ini belum ada senior yang bukan kerabat yang membagi pengalaman buruknya dan alasan kenapa harus Inisiasi. Kurangnya informasi ini lah yang membuat tiap tahun  selalu ada mahasiswa baru yang tidak ingin ikut ospek jurusan tersebut.

Kesempatan

INISIASI ANGKATAN 2014Bagi saya kesempatan itu adalah ketika diizinkan untuk mengikuti Inisiasi susulan meski harus kembali penelitian, menulis laporan, dan ikut malam puncak Inisiasi. Kesempatan saya juga adalah karena kedua teman saya yang tidak Inisiasi sebelumnya juga ingin Inisiasi susulan. Selain itu saya juga didukung penuh oleh angkatan. Orang-orang yang paling semangat mendukung saat itu diantaranya Elok, Mukhlis, Peter, Rifki, dan Gege. Tanpa mereka semua mungkin sulit untuk saya mendapatkan kesempatan kedua tersebut. Kesempatan bagi anda adalah untuk memikirkan kembali dengan matang keputusan yang akan diambil nanti. Setelah membaca atau mencari tahu referensi lain, semoga Anda mampu memutuskan dengan bijak agar tidak menyesal.

Kesimpulan :

Tujuan Utama Inisiasi adalah penyambutan Mahasiswa Baru. Menjadi satu komunitas atau kelompok tertentu, tentu harus diinisiasi terlebih dahulu. Pengetahuan penting tentang Inisiasi nanti akan Anda pelajari pada banyak matakuliah Antropologi seperti Hubungan Antar Suku Bangsa (HASB), dsb. Pada proses Inisiasi terjadi liminalisasi, proses perubahan anda dari Siswa menjadi Kerabat Antropologi. Mengapa harus menjadi kerabat? Hal ini karena tujuan dari diadakannya Inisiasi memang untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa baru Antropologi. Edukasi ini akan mempermudah mahasiswa beradaptasi dengan jurusan Antropologi dan memiliki jejaring yang luas nantinya. Pada mata kuliah Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan (OSSK) Anda akan belajar mengenai keluarga fiktif. Selain pada jurusan antropologi, contoh keluarga fiktif ini terdapat pada paguyuban. Orang orang akan merasa senasib dan menjadi keluarga. Istilah ini dikenal juga dengan istilah our people. Menjadi kerabat sejatinya menawarkan banyak keuntungan. Akan tetapi semua dikembalikan pada Anda. Apakah mau memanfaatkan benefit tersebut, atau bahkan menghindar dari kesempatan itu dengan tidak menjadi kerabat. Yang terpenting adalah niat Anda untuk mengikuti Inisiasi. Niat harusnya sudah ada setelah tahu tujuan dan dampak dari mengikuti atau tidak mengikuti kegiatan tersebut. Jika niat sudah baik, maka alasan seperti ingin mengulang SBM, tidak bisa membagi waktu, dan sebagainya tidak lagi menjadi penyebab.

Tiap orang memiliki kepribadian dan motivasi yang berbeda. Sejatinya saya adalah orang yang tidak bisa tidak aktif, tidak bisa bekerja sendiri, dan tidak bisa tidak bergaul. Akibatnya, tidak menjadi kerabat menghambat habbit saya. Jika Anda adalah orang yang suka menyendiri, tidak merasa perlu banyak kenalan, bisa hidup sendiri, atau cuek, maka tidak Inisiasi tidak akan menjadi begitu masalah. Tetapi Jika Anda seperti saya, maka tidak Inisiasi akan menjadi masalah besar. Saya juga tidak mengatakan semua anak antrop non kerabat itu tidak aktif, buktinya ada beberapa teman, senior, atau junior non kerabat yang juga bisa aktif di jurusan atau bahkan organisasi luar. Saya juga tidak mengatakan semua kerabat itu adalah orang yang aktif, karena semua tergantung individu itu kembali. Menjadi kerabat tentu hanyalah media untuk mendapat semua benefit yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Akan tetapi saya juga tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa memang, banyak kegiatan yang hanya diperuntukkan untuk kerabat. Tanpa niat memojokkan sahabat atau teman-teman non kerabat, saya minta maaf. Saya secara pribadi tidak membedakan status tersebut, akan tetapi pada kenyataannya menurut saya lebih sulit mengenal non kerabat akibat “penyanderaan” tadi. Saya sudah memaparkan banyak hal. Terima kasih dan selamat jika anda sanggup membaca tulisan sampai disini. Pada akhirnya, Anda sendirilah yang akan menentukan pilihan.

Oia, jika masih punya banyak pertanyaan dan keraguan, Kalau ingin ngobrol atau nanya langsung, bisa hubungi saya pada kanal media yang terdapat pada kanan atas blog ini atau pada page contact.

Saya akan sangat senang bisa membantu dan mengatasi kegelisahan Anda

Salam,

IA

[1] Bagi yang tidak mengikuti lesehan dengan baik atau sering bolos, tentu akan merasa tidak banyak manfaat yang didapat.

[2] Taruhan Pascal adalah gagasan yang dikeluarkan oleh Blaise Pascal tentang orang yang atheis. Ia mengatakan tidak rugi jika percaya tuhan. Jika bertaruh tentang keberadaan tuhan, maka menjadi atheis bukanlah pilihan terbaik. Hal ini karena jika setelah mati nanti ternyata benar tuhan itu tidak ada, maka kita tidak akan kehilangan apapun jika kita hidup sesuai dengan perintah-Nya. Akan tetapi jika tidak percaya ada tuhan, lalu setelah mati nanti ternyata benar ada tuhan, kita tentu akan masuk neraka / disiksa.

[3] kecilnya saja adalah anda(jika bukan kerabat) tidak diperbolehkan menandatangani buku angkatan Mahasiswa baru nanti. Tidak boleh mengikuti acara-acara yang bertajuk kekerabatan, dan lainnya.

Please follow and like us: