Monthly Archives: August 2016

  • 4

Mahasiswa Antropologi : Yakin Mau Ngulang ?

Category : Uncategorized

“Seyakin apa kalian untuk tidak pindah dari Antropologi?” Ujar Wicak, ketua angkatan Antropologi 2014 terhadap calon ketua angkatan Antropologi 2016 yang tiba-tiba membuat riuh suasana pemilihan. Pria yang gemar menulis di media sosial dengan kalimat puitis ini cukup menohok saya, punya pertanyaan yang sama namun tidak berani langsung mengungkapkan. Akan tetapi saya memilih menunggu waktu yang tepat untuk menuangkan opini dalam tulisan ini. Ya, mungkin tiap orang punya style yang berbeda. Pertanyaan serupa yang sebenarnya saya tahan, takut mahasiswa baru (selanjutnya disebut maba) menjadi bertanya tentang masalah klasik yang menimpa Antropologi ; pindah jurusan.

Dilema yang juga menghampiri saya dan banyak teman teman ketika menjadi maba tahun 2013 lalu. Saya yakin, saya bukan maba pertama dan tentu bukan pula yang terakhir berfikir hal tersebut (pindah jurusan-red). Sepertinya masalah yang sudah ada sejak lama ini tidak akan pernah hilang hingga pada satu masa yang akan saya jelaskan dibawah nanti. Sebelumnya saya akan membahas dulu mengapa seseorang ingin pindah jurusan, apa penyebab dan dampaknya, serta apa solusi yang ditawarkan.

Mengapa ingin pindah jurusan?

Satu hal yang perlu Anda tahu, tidak cuma maba Antropologi yang punya fikiran tersebut. Pada banyak jurusan lain yang tidak kalah ngetop pasti juga ada maba yang merasa salah jurusan, tidak cocok, atau sekedar penasaran ingin ngulang SBM/ SIMAK lagi. Artinya, masalah ini tergantung persepsi dari maba secara personal. Terdapat standar yang berbeda pada tiap orang. Contoh nyatanya teman saya dari jurusan HI di salah satu PTN ternama Sumatera malah memilih masuk Antrop di tahun kedua, di sisi lain teman Antrop pindah jurusan ke Administrasi, anak Adminstrasi malah pindah ke Akuntansi; eh anak Akun pindah ke HI, tapi nyatanya teman saya anak HI masih kefikiran kenapa tidak ambil Akuntansi. Saya tidak menyebut HI lebih baik dari Akuntansi, Administrasi lebih baik dari Antrop, dan seterusnya. Maksud saya adalah bahwa standar tersebut berbeda antar satu orang dengan orang lain. Semua tergantung cita-cita, passion, dan motivasi. Aspek apa yang melandasi untuk memilih jurusan Antrop atau memilih untuk mengulang dan pindah dari Antrop?

Setelah mengalami dan memerhatikan sendiri, sepertinya kebanyakan teman teman termasuk saya yang dulu pernah ingin pindah jurusan ini adalah karena kurang tahu tentang Antrop, terkena dampak “omongan” dari luar, dan hal – hal yang sebenarnya bersifat relatif; tidak bisa diterapkan pada semua orang. Oleh karena itu, cobalah menjadi diri sendiri, jangan terlalu banyak mendengar omongan dari luar. Karena jika mendengar semua opini, yakinlah Anda tidak akan punya prinsip sendiri. Lah tapi kakak juga dulu pengen pindah jurusan kan? Kenapa masih di Antrop, bla bla bla? Ya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, wajar maba terkena virus galau, dilema pingin ngulang atau pindah jurusan. Semua jawaban tersirat di tulisan ini sesungguhnya, tetapi untuk Jawaban lebih detailnya silahkan baca disini.

-Apa penyebabnya?

Faktor dari luar adalah yang paling kuat memotivasi maba ingin pindah jurusan. Antrop yang kurang familiar di telinga masyarakat seolah menjadi katalis keinginan pindah itu ada. Masih teringat saat pertama lulus, ketika semangat masih menggebu, rasa syukur tiada henti karena diterima di UI; tiba tiba oleh tetangga dan keluarga yang nanya saya jurusan apa mengira Antropologi itu belajar tentang perbintangan, binatang, hingga tulang. Pertanyaan yang tidak kalah seram adalah ketika ditanya “mau jadi apa? Mau kerja dimana?” yang jelas-jelas membuat keyakinan goyah. Pun ketika OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa) baru memasuki hari pertama, dengan tanpa rasa bersalah teman saya bilang “lo mau ngulang lagi gak tahun depan?” wkaakakakak…

Padahal jika didalami, Antropologi adalah ilmu yang sangat luas karena mempelajari segala aspek tentang manusia dan budayanya. Budaya yang dimaksud bukan budaya seperti yang orang awam fikirkan, yakni tentang kesenian atau sastra semata. Ilmu ekonomi, hukum, bisnis, agama, psikiatri, hingga medis pun dibahas di Antopologi, dengan sudut pandang budaya tentunya. Eh kak saya bingung maksudnya medis dibahas dari segi budaya bagaimana? Oke, misalnya kita akan belajar tentang placebo, yakni suatu keadaan kita tidak sakit secara medis atau disebut illness, lalu berobat ke dokter dan menerima obat. Kemudian kita merasa baikan setelah meminum obat tersebut. Padahal obat yang diberikan adalah vitamin atau tidak terlalu berpengaruh pada tubuh. Akan tetapi karena kepercayaan tadi, kita menjadi yakin akan sembuh setelah berobat, pengobatan inilah yang disebut placebo. Sudah paham? Sebenarnya masih banyak bahasan lain yang sangat menarik jika dibahas dari sudut pandang Antropologi.

-Apa Dampaknya?

Sejujurnya tidak terlalu berpengaruh. Anda pindah jurusan juga tidak akan membuat Antropologi mati, dihapuskan jurusannya, dan lain sebagainya. Akan tetapi saya hanya prihatin, seperti pada blog yang saya pernah baca ketika maba dulu, lupa nama blognya apa. Yang jelas blog itu membahas tentang Antropologi yang kehilangan bibit-bibit terbaiknya karena pindah jurusan. Ya, sependapat dengan itu. Antropologi akan sulit berkembang juga jika terus ditinggal mahasiswa-mahasiswanya yang potensial. Jika diasah, mahasiswa yang pindah tersebut padahal bisa saja mengangkat nama Antrop dengan prestasinya. Ngomong-ngomong bukan berarti yang tidak pindah jurusan tidak potensial ya! Saya bahkan sangat terinspirasi dengan banyak kerabat Antrop yang sukses dan hebat-hebat. Salah satu panutan favorite saya dari jurusan Antop adalah Bu Meutia Hatta, mantan menteri negara pemberdayaan perempuan era presiden SBY dan juga merupakan anak proklamator Bung Hatta. Oia balik ke topik, jadi bukan Antrop tidak ada yang hebat, tetapi Maksudnya adalah kalau ada sepuluh bibit unggul, kenapa harus tersisa 8? Begitu.

Pada akhirnya, jurusan Antropologi yang sejatinya bisa mengurai masalah-masalah sosial dalam tatanan masyarakat ini akan tetap dianggap bukan jurusan favorit jika terus menerus dianggap remeh, sulit mendapat pekerjaan, serta tidak aplikatif. Cobalah jadi diri sendiri, fikirkan berapa banyak orang diluar sana yang ingin jurusan ini, akan tetapi direbut oleh Anda yang kemudian pindah jurusan. Saya adalah orang yang juga pernah menyoba pindah jurusan, tetapi saya juga merupakan salah satu orang yang menyarankan agar saudara saya memilih jurusan ini, meski pada akhirnya tidak lulus. Jika Anda tidak bisa mendapat jurusan yang Anda sukai, cobalah untuk menyukai jurusan yang Anda dapat.

Salam,

Depok, 10 Agustus 2016

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung perasaan satu , dua, atau sekelompok orang/ jurusan yang disebutkan pada tulisan. Jika ada kesalahan, mohon dikoreksi dan diluruskan. Salam,

Ihsanul Afwan, Antropologi Universitas Indonesia 2013

 

Komentar Khusus[1]

-M. Arif Wicaksono, Antropologi UI 2014

Jadi respon sy begini, mungkin saya masih menoleransi kepada mereka yg pindah jurusan, yg memang pada awalnya tidak meletakkan pilihan jurusan akhir dia keterima di pilihan pertamanya. Tp toleransi itu setidaknya tidak saya berikan terlalu banyak karena sayapun berasumsi bahwa semua pilihan jurusan yg didaftarkan, sudah dipertimbangkan dengan bijak, bukan asal-asalan. Khususnya di antropologi, karena nama disiplin ini tidak banyak dikenal luas di Indonesia, maka asumsi saya calon mahasiswa yg mendaftar antropologi, adalah mereka yang sudah mengenal antropologi. Eh ternyata tidak juga. Asumsi saya tdk sepenuhnya benar, bahwa masih ada kawan-kawan mahasiswa hingga tahun kedua dan ketiganya masih menjalani studi antropologinya setengah hati. Maka, yang saya masalahkan bukan lagi mereka yg pindah jurusan setelah menjalani kuliah di tahun pertamanya, melainkan kepada mereka yang justru menjalani kuliah antropologi bahkan hingga tahun terakhirnya, namun tidak sepenuh hati. Justru ini yang, maaf, menjadikan antropologi kehilangan para scholarsnya, daripada mereka yg meninggalkan antropologi diawal-awal. Tidak adil jika, hanya mempertanyakan mengapa seseorang mahasiswa antropologi pindah, tetapi tidak mencari tau mengapa seseorang bertahan kuliah di antropologi. Beberapa diantaranya memang percaya pada antropologi, (termasuk saya), tetapi saya yakin bahwa diantara yang lainnya, lebih beralasan, mengulang hanya membuang waktu. So, bertahan bukan karena alasan ilmu pengetahuannya, tetapi karena waktu, ada lagi alasan-alasan yg lain seperti biaya dan lainnya.

[1] Adalah komentar yang masuk / langsung ditujukan kepada saya via chat, email, atau kontak lain. Komentar ini akan masuk pada kolom “Komentar Khusus” yang terdapat di akhir tulisan.

Please follow and like us: